Sutoyo Abadi: Jangan Remehkan Rakyat yang Diam Memendam Kemarahan
INDOVIEWNEWS.COM— Pengamat politik Sutoyo Abadi mengingatkan pemerintah agar tidak meremehkan rakyat yang memilih diam ketika menghadapi tekanan ekonomi, ketidakadilan, serta berbagai persoalan sosial. Menurutnya, kemarahan yang terpendam dapat menjadi persoalan serius apabila terus diabaikan.
Pernyataan tersebut disampaikan Sutoyo Abadi dalam rilis tertanggal 31 Agustus 2026 berjudul “Jangan Remehkan Rakyat Yang Diam Memendam Kemarahan”.
Mengutip Sun Tzu, Sutoyo mengatakan, “Di tangan pemimpin yang tercerahkan, hal yang rumit menjadi sederhana, di tangan pemimpin yang tergelapkan, hal yang sederhana menjadi ruwet.”
Menurut Sutoyo, pemimpin yang tidak mampu membaca kondisi masyarakat justru dapat memperumit keadaan dengan kebijakan yang dianggap terlalu membebani rakyat.
“Pemimpin yang tergelapkan akan terlalu mengganggu dan memaksa rakyat secara berlebihan, justru di saat mereka dengan susah payah sedang mencari penghidupan,” ujar Sutoyo.
Ia menyoroti berbagai persoalan ekonomi yang menurutnya semakin menekan kehidupan masyarakat, termasuk tekanan pajak. Di sisi lain, Sutoyo menilai masyarakat juga menyaksikan pemberitaan mengenai dugaan korupsi serta gaya hidup pejabat yang dinilainya hedonis.
“Macam-macam masalah menyangkut ekonomi kehidupan rakyat sampai tekanan pajak benar benar menghimpit penderitaan mereka, bersamaan dipertontonkan korupsi yang merajalela dan kehidupan pejabat negara bergaya hedonis,” katanya.
Sutoyo kemudian menggambarkan kondisi tersebut sebagai “api dalam sekam”, yakni kemarahan yang tidak selalu terlihat secara terbuka, tetapi terus terakumulasi di tengah penderitaan dan persoalan keadilan.
“Kemarahan rakyat yang tertahan menciptakan fenomena ‘api dalam sekam’, diatas penderitaan penderitaan karena hilangnya keadilan terpendam dalam diam,” kata Sutoyo.
Menurut dia, kondisi tersebut menjadi semakin serius apabila pembangunan ekonomi hanya dikuasai oleh kelompok tertentu.
“Situasi ini menandakan kondisi yang sangat gawat karena pembangunan ekonomi yang dikuasai segelintir orang (oligark yang bersekutu dengan penguasa),” ujarnya.
Sutoyo menegaskan, kemarahan masyarakat tidak selalu muncul tanpa sebab. Ia menyebut kesenjangan sosial, kemiskinan, kenaikan harga, dan hilangnya rasa keadilan sebagai sejumlah faktor yang dapat memicu ketidakpuasan.
“Kemarahan yang murni lahir dari penderitaan nyata, seperti kesenjangan sosial, kemiskinan, tingginya harga, dan hilangnya keadilan, bukan ilusi semata,” tegasnya.
Takut Menyampaikan Aspirasi
Lebih jauh, Sutoyo menilai sebagian masyarakat dapat memilih diam karena merasa takut menyampaikan keluhan atau aspirasi. Menurutnya, alasan stabilitas keamanan tidak semestinya digunakan untuk membungkam suara masyarakat.
“Rasa takut mengeluh untuk menyampaikan aspirasi penderitaannya sering kali muncul akibat ancaman dari penguasa dengan alasan mengganggu stabilitas keamanan. Ketika rakyat tidak berani mengeluh atau membantah, kebenaran menjadi terancam,” katanya.
Ia menambahkan, ketika saluran penyampaian aspirasi secara terbuka tersumbat, ekspresi ketidakpuasan dapat muncul melalui berbagai bentuk.
“Kemarahan yang tidak tersalurkan secara terbuka terpaksa bermanifestasi dalam bentuk satir, sindiran, pembangkangan sipil skala kecil, atau bentuk-bentuk protes kultural,” ujar Sutoyo.
Peringatan Potensi Gejolak Sosial
Sutoyo mengingatkan agar akumulasi ketidakpuasan masyarakat tidak dipandang sebelah mata. Menurutnya, apabila suara rakyat terus diabaikan dan ketidakadilan dibiarkan, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi gejolak sosial.
“Jika suara rakyat terus diabaikan, ketidakadilan dibiarkan, akumulasi kemarahan ini tinggal menunggu pemicu, berpotensi akan meledak menjadi gejolak sosial atau revolusi yang lebih besar,” pungkas Sutoyo.
Pernyataan Sutoyo Abadi merupakan pandangan dan analisis yang disampaikannya dalam rilis pribadi. Redaksi tidak menggeneralisasi seluruh kondisi masyarakat berdasarkan pernyataan tersebut. Pemerintah dan pihak-pihak yang disebut secara umum dalam rilis ini memiliki ruang untuk memberikan penjelasan, klarifikasi, maupun tanggapan atas berbagai persoalan yang disampaikan.
DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.







