NU MAU DIBAWA KE MANA dan untuk SIAPA NU BERDIRI
Sebuah lakon di Negeri Wayang
Oleh Gus Aam Wahib Wahab
PENDAHULUAN
Malam itu, di sebuah pendopo tua di tengah Negeri Wayang, para punakawan sedang berkumpul.
Semar duduk diam.
Gareng memperhatikan.
Petruk tersenyum tipis.
Bagong seperti biasa tidak bisa menahan mulutnya.
Di kejauhan, terdengar suara gamelan.
Tetapi malam itu gamelannya terasa berbeda.
Bukan suara kemenangan.
Bukan pula suara perang.
Seperti ada sesuatu yang sedang dipertanyakan.
PERTANYAAN BAGONG
Bagong akhirnya membuka suara.
“Kakang Semar, sebenarnya NU itu mau dibawa ke mana?”
Semar tidak langsung menjawab.
Ia hanya tersenyum.
«“Pertanyaan sederhana, Gong. Tapi jawabannya tidak sederhana.”»
Petruk menyela.
“Lha iya, Mar. Kalau NU itu kereta, kita harus tahu siapa masinisnya, relnya ke mana, dan siapa penumpangnya.”
Gareng tertawa kecil.
“Jangan-jangan penumpangnya rakyat, tapi yang menentukan arah perjalanan justru orang yang duduk di kabin masinis.”
Suasana mendadak hening.
JANGAN SALAH MEMAHAMI NU
Semar kemudian berdiri.
«“Jangan salah memahami NU.”»
NU,
Bukan sekadar Gedung.
Bukan sekadar Kantor.
Bukan sekadar Organisasi/Jam’iyah.
Bukan sekadar Struktur.
Bukan sekadar Jabatan.
Dan bukan pula sekadar panggung untuk menunjukkan siapa yang paling berkuasa.
«NU adalah Amanah.»
Amanah para Pendiri.
Amanah Ulama.
Amanah puluhan juta warga Nahdliyin.
Dan yang lebih penting,
«Amanah Umat.»
GATOTKACA DATANG
Gatotkaca kemudian datang.
Dari kejauhan terdengar suara langkah.
Gatotkaca datang dari langit.
Ia melihat perdebatan itu.
“Ada apa gerangan?”
Bagong menjawab.
“Kami sedang mencari tahu, Gatotkaca, NU mau dibawa ke mana?”
Gatotkaca tersenyum.
«“Kalau begitu, jangan hanya bertanya siapa yang membawa.”»
«“Tanyakan juga untuk siapa perjalanan itu dilakukan?”»
Semar mengangguk.
«“Nah… itu pertanyaan yang lebih penting.”»
Sebab kalau NU hanya dibawa untuk mengejar kekuasaan, maka yang besar bukan lagi perjuangannya.
«Yang besar kursi/jabatannya.»
Kalau NU hanya menjadi alat untuk memperbesar pengaruh segelintir orang, maka yang akan tumbuh bukan kemaslahatan dan kesejahteraan.
«Yang tumbuh adalah kepentingan.»
Dan kalau politik sudah masuk ke dalam tubuh/rumah NU, itu bukan berarti politik harus menjadi musuh.
Tetapi ada satu hal yang harus dijaga.
«“Jangan sampai NU kehilangan independensinya karena politik.”»
DUMA
Lalu muncullah Duma.
Dari balik tiang pendopo, muncul sosok Duma.
Ia berkata:
“Bukankah kekuasaan juga bisa digunakan untuk kebaikan?”
Semar menjawab:
“Betul.”
Duma tersenyum.
Semar melanjutkan.
«“Tetapi kekuasaan adalah alat, bukan tujuan.”»
“Kalau alat berubah menjadi tujuan, maka orang akan mulai mencari pembenaran untuk mempertahankan alat itu.”
Petruk langsung nyeletuk.
“Kalau begitu nanti yang dipikirkan bukan lagi bagaimana umat sejahtera.”
“Tapi bagaimana kursinya jangan sampai bergeser.”
Bagong tertawa.
Semar tidak.
SENGKUNI BERTANYA
Kemudian Sengkuni bertanya.
“Bukankah semua organisasi/Jam’iyah membutuhkan strategi?”
Semar menjawab.
“Strategi perlu.”
“Politik perlu.”
“Kekuasaan pun kadang diperlukan.”
«“Tetapi jangan pernah lupa siapa pemilik amanahnya.”»
Karena NU,
Bukan milik Semar.
Bukan milik Gatotkaca.
Bukan milik Pengurus.
Bukan milik Ketua Umum.
Bukan milik Rais Aam.
Bukan milik Penguasa.
«NU adalah milik umat dan amanah para pendiri dan ulama untuk kemaslahatan dan kesejahteraan.»
Jabatan boleh berganti.
Pengurus boleh berganti.
Generasi boleh berganti.
Tetapi Khidmah NU tidak boleh kehilangan arah.
UNTUK SIAPA NU BERDIRI?
Lalu Bagong bertanya lagi.
“Kalau begitu, untuk siapa NU berdiri?”
Semar menatap seluruh penghuni pendopo.
Jawabannya pendek.
«Untuk Agama.»
«Untuk Umat.»
«Untuk Kemaslahatan dan Kesejahteraan.»
«Untuk Bangsa dan Negara Republik Indonesia.»
Bukan untuk memperkaya segelintir orang.
Bukan untuk membangun dinasti.
Bukan untuk mengabadikan kekuasaan.
Bukan untuk menjadikan warga NU hanya sebagai “massa yang dibutuhkan ketika diperlukan, kemudian dilupakan setelah kepentingan selesai.”
PERTANYAAN GATOTKACA
Gatotkaca kemudian berkata:
«“Inilah saatnya kita berani bertanya.”»
NU MAU DIBAWA KE MANA?
Apa yang akan dilakukan PBNU selama 5 tahun ke depan?
Apakah PBNU berani mengkritik pemerintah ketika kebijakan merugikan rakyat?
Apakah PBNU tetap independen dalam menghadapi Pilpres, Pilgub dan Pilkada?
Bagaimana sikap PBNU terhadap persoalan tambang yang selama ini menjadi perdebatan di lingkungan NU?
Bagaimana keberpihakan PBNU kepada guru yang masih menerima penghasilan minim sementara harga kebutuhan pokok dan BBM terus menjadi persoalan masyarakat?
Bagaimana pula sikap PBNU terhadap berbagai persoalan kebangsaan termasuk aspirasi sebagian kalangan yang menginginkan negara kembali menjadi UUD 1945 yang Asli sebagai pijakan konstitusional?
PBNU juga memiliki tanggung jawab moral terhadap kehidupan kebangsaan. Persoalan ekonomi, demokrasi, supremasi hukum, pemberantasan korupsi, agraria, lingkungan hidup, kemiskinan, pendidikan, serta berbagai persoalan umat dan rakyat harus menjadi bagian dari perhatian PBNU.
SIAPA YANG DUDUK?
Bagaimana komposisi kepengurusan PBNU yang akan dibentuk?
Siapa yang duduk di dalamnya?
Dari mana mereka berasal?
Bagaimana rekam jejaknya?
Dan yang paling penting, kepada siapa loyalitasnya?
Dan yang paling penting,
“Apakah politik sedang digunakan memperkuat khidmah NU, atau khidmah NU sedang digunakan memperkuat politik?”
SEMUA TERDIAM
Semua terdiam.
Tidak ada yang menjawab.
Karena pertanyaan ini bukan ditujukan kepada satu orang.
«Pertanyaan itu ditujukan kepada kita semua.»
BLAKASUTA
Semar akhirnya berkata:
Blakasuta bukan berarti kurang ajar.
Blakasuta berani berkata jujur karena cinta.
Kalau salah, kita koreksi.
Kalau benar, kita dukung.
Kalau belum jelas, kita jangan memvonis.
Kalau ada dugaan, jangan disebut fakta.
Dan kalau ada kepentingan umat yang mulai terpinggirkan…
«Jangan diam hanya karena takut kehilangan jabatan.»
Sebab, dalam perjalanan NU,
«Jabatan hanya singgah.»
Tetapi umat akan terus ada.
Tokoh bisa datang dan pergi.
Pemimpin bisa datang dan pergi.
Pengurus bisa datang dan pergi.
Kekuasaan bisa datang dan pergi.
NU harus tetap berdiri.
SEBELUM PERTUNJUKAN BERAKHIR
Dan sebelum pertunjukan wayang malam itu berakhir,
Gatotkaca berkata:
«“Tanyakan apa yang NU berikan kepada umat.”»
Jangan tanyakan siapa yang menang dalam perebutan jabatan.
«Tanyakan siapa yang menang ketika umat menjadi lebih berdaya.»
Jangan hanya mencari siapa yang membawa NU.
«Pastikan arah jalannya tetap menuju khidmah.»
Karena pada akhirnya,
NU bukan tentang siapa yang duduk di kursi.
NU adalah tentang siapa yang dilayani oleh kursi itu.
BLAKASUTA NU
Suara orang yang sayang dan peduli terhadap NU.
BLAKASUTA NU
Adalah suara orang yang takut NU kehilangan arah.
DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.







