CAFÉ PENTA HELIX
Ketika Para Helix Ngopi Bersama
Esai-dialog imajinatif tentang ilmu, uang, lahan, budaya, lingkungan, dan secangkir kopi.
Oleh : Asdi Fitri – Makdang Edi.
( Forum Dialog Peradaban)
Hari itu sebuah kafe baru saja buka.
Namanya agak aneh:
CAFÉ PENTA HELIX.
Tidak ada yang tahu siapa pemiliknya.
Di papan kecil dekat pintu tertulis:
«“Silakan masuk.
Tidak perlu membawa proposal.
Bawa masalah, data, atau ide.”»
Di meja paling besar sudah duduk beberapa orang.
Ada seorang ilmuwan dari kampus.
Di sebelahnya seorang pengusaha.
Seorang pejabat regulator duduk sambil membuka laptop.
Ada ketua koperasi yang mewakili masyarakat.
Seorang bankir sedang membaca laporan keuangan.
Di ujung meja duduk seorang budayawan.
Di sampingnya seorang aktivis lingkungan.
Dan agak jauh dari mereka, seorang pria tua yang dipanggil semua orang:
Makdang.
Makdang menyeruput kopi.
“Lengkap juga hari ini,” katanya.
Budayawan tertawa.
“Kurang satu.”
“Siapa?”
“Yang jual gorengan.”
Semua tertawa.
—
Babak I — Pertanyaan Sederhana
Pengusaha membuka pembicaraan.
“Begini, kawan-kawan. Saya punya fasilitas kredit yang belum terpakai. Katakanlah… Rp2 triliun.”
Bankir langsung mengangkat kepala.
“Punya saya atau punya Anda?”
“Punya saya.”
“Oh, silakan lanjut.”
Pengusaha tertawa.
“Saya mencari proyek agribisnis.
Bukan proyek yang hanya bagus di proposal.
Saya mau proyek yang benar-benar bisa berjalan.”
Ilmuwan kampus bertanya,
“Komoditas apa?”
“Makanya saya datang ke sini.”
Aktivis lingkungan menyela.
“Lahannya?”
“Makanya saya juga datang ke sini.”
Budayawan menyela lagi.
“Budayanya?”
Pengusaha menatapnya.
“Lho, saya mau menanam kunyit, Pak. Bukan mendirikan kerajaan.”
Budayawan tersenyum.
“Justru karena mau menanam kunyit, budaya harus diperhatikan.”
Semua mulai tertarik.
—
Babak II — Kunyit di Bawah Sawit
Makdang membuka pembicaraan.
“Coba kita mulai dari sesuatu yang sederhana.”
Ia menulis di kertas:
KUNYIT DI BAWAH SAWIT
“Apakah bisa?”
Ilmuwan kampus menjawab,
“Belum tentu.”
Pengusaha mengerutkan dahi.
“Belum tentu?”
“Ya. Sains tidak boleh menjawab berdasarkan perasaan.”
Aktivis lingkungan mengangguk.
“Nah.”
Ilmuwan melanjutkan.
“Kita harus tahu tingkat naungannya, kelembapan, suhu mikro, karakter tanah, kompetisi akar, ketersediaan air, dan sebagainya.”
Pengusaha bertanya,
“Berarti harus penelitian dulu?”
“Betul.”
“Berapa tahun?”
Ilmuwan tersenyum.
“Jangan takut dengan kata penelitian.
Kita tidak harus menunggu sepuluh tahun.”
Makdang menyela.
“Makanya ada Living Laboratory.”
Ilmuwan mengangguk.
“Kita buat percobaan langsung di lapangan.”
Ia mengambil kertas.
“Misalnya kita punya beberapa perlakuan. Naungan rendah, sedang, tinggi.
Kita ukur pertumbuhan, biomassa, hasil rimpang, kadar kurkumin, serangan penyakit, kebutuhan pupuk, kebutuhan air, sampai biaya produksinya.”
Pengusaha mulai serius.
“Dan hasil akhirnya?”
Ilmuwan menjawab:
«“Bukan sekadar ‘kunyit bisa hidup’.”»
Ia berhenti sebentar.
«“Pertanyaannya: kunyit bisa hidup dengan produktivitas berapa, kualitas seperti apa, dan apakah secara ekonomi layak?”»
Bankir tersenyum.
“Nah. Sekarang saya mulai tertarik.”
—
Babak III — Bank Tidak Membiayai Tanaman
Bankir meletakkan laporan keuangannya.
“Boleh saya bicara?”
“Silakan.”
“Bank sebenarnya tidak takut membiayai pertanian.”
Pengusaha tertawa kecil.
“Serius?”
“Serius.”
“Lalu kenapa susah?”
Bankir menjawab tenang:
“Karena bank tidak membiayai ketidakjelasan.”
Semua diam.
Bankir melanjutkan.
“Kalau seseorang datang kepada saya dan berkata:
«‘Pak, saya mau menanam kunyit 1.000 hektare.’»
Saya akan bertanya:
Di mana lahannya?
Siapa petaninya?
Varietasnya apa?
Produktivitasnya berapa?
Siapa pembelinya?
Standarnya bagaimana?
Harga jualnya?
Berapa biaya produksinya?
Bagaimana pascapanennya?
Apa risikonya?
Bagaimana cash flow-nya?
Dan kalau gagal, bagaimana mitigasinya?”
Ia menatap pengusaha.
“Kalau semua jawabannya hanya:
«‘Insya Allah, Pak.’»
Saya tidak bisa mencairkan Rp2 triliun hanya karena kalimat itu.”
Semua tertawa.
Budayawan mengangkat tangan.
“Jangan salah. ‘Insya Allah’ tetap penting.”
Bankir mengangguk.
“Tentu.”
Makdang menyela:
“Tapi Insya Allah harus ditemani data.”
Meja kembali riuh.
—
Babak IV — Siapa yang Membeli Kunyit?
Pengusaha bertanya kepada ilmuwan,
“Baik. Kalau kunyitnya berhasil, siapa yang membeli?”
Ilmuwan mengangkat bahu.
“Bukan saya.”
Semua tertawa.
“Ini justru masalahnya,” kata Makdang.
“Selama ini kita sering mulai dari:
«‘Apa yang bisa kita tanam?’»
Padahal seharusnya kita juga bertanya:
«‘Siapa yang akan membeli?’”»
Budayawan mengangguk.
“Pasar jangan datang setelah panen.”
“Betul.”
Pengusaha bertanya kepada bankir,
“Bank bisa mencari buyer?”
Bankir tertawa.
“Jangan semua diserahkan kepada bank.”
Lalu industrialis yang sejak tadi diam berkata:
“Saya bisa bicara.”
Semua menoleh.
“Saya punya pabrik.”
Ia melanjutkan.
“Kami tidak membeli kunyit hanya karena kunyitnya banyak.”
“Lalu?”
“Kami membutuhkan spesifikasi.”
Ilmuwan langsung mengambil pena.
“Spesifikasi apa?”
“Kadar air, kebersihan, ukuran, proses pengeringan, cemaran, residu, dan tentu saja kandungan bahan aktif yang relevan dengan produk kami.”
Ilmuwan tersenyum.
“Nah.”
Ia menulis:
BUYER SPECIFICATION
Kemudian di bawahnya:
FARMING SOP
Lalu:
LIVING LAB
Ia berkata:
«“Sekarang penelitian kita punya pertanyaan yang jelas.”»
—
Babak V — Kampus Mulai Bertanya Balik
Budayawan menatap ilmuwan.
“Berarti kampus selama ini salah?”
Ilmuwan tersenyum.
“Tidak.”
“Lalu?”
“Kampus punya fungsi yang berbeda.”
Ia menjelaskan:
“Masalahnya bukan kampus melakukan penelitian.
Masalahnya adalah kalau penelitian berhenti sebagai penelitian.”
Aktivis lingkungan mengangguk.
“Dan jangan sampai penelitian hanya menghasilkan laporan.”
“Betul.”
Ilmuwan melanjutkan:
“Kampus harus tetap bebas secara akademik untuk menguji hipotesis.”
“Namun?”
“Namun kalau kita masuk ke sebuah ekosistem produksi, kita membutuhkan disiplin sistem.”
Ia menulis:
«Academic Freedom Within the System.»
Makdang tersenyum.
“Bahasa sederhananya?”
Ilmuwan menjawab:
«“Boleh berpikir bebas. Tetapi kalau sudah masuk sistem produksi, perubahan harus berdasarkan data.”»
Aktivis lingkungan langsung menyahut:
“Nah. Itu baru saya setuju.”
—
Babak VI — Aktivis Lingkungan Angkat Bicara
Aktivis lingkungan akhirnya maju ke depan.
“Sekarang giliran saya.”
“Silakan.”
“Jangan karena ada jutaan hektare sawit, lalu kita merasa semua lahan boleh ditanami apa saja.”
Pengusaha mengangguk.
“Kenapa?”
“Karena ekosistem bukan hanya tanah.”
Ia menunjuk ke luar jendela.
“Ada air. Ada biodiversitas. Ada mikroorganisme tanah. Ada masyarakat. Ada sungai. Ada satwa. Ada iklim mikro.”
Ilmuwan mengangguk.
“Secara ekologis benar.”
Aktivis melanjutkan:
“Kalau tanaman bawah sawit meningkatkan pendapatan petani tetapi merusak kualitas tanah atau air, kita tidak bisa menyebutnya pembangunan berkelanjutan.”
Makdang menulis besar-besar:
«PROFIT WITHOUT ECOLOGY IS NOT AN ECOSYSTEM.»
Budayawan menambahkan:
“Dan ekologi tanpa manusia juga bukan solusi.”
Semua menoleh.
Budayawan melanjutkan:
“Petani bukan objek.”
“Petani adalah subjek.”
Aktivis tersenyum.
“Sekarang kita mulai lengkap.”
—
Babak VII — Budayawan Menyodorkan Pertanyaan Aneh
Budayawan menyeruput kopi.
“Saya punya pertanyaan.”
“Apa?”
“Kalau kita berhasil membuat kunyit di bawah sawit, lalu berhasil di 1.000 hektare, lalu 10.000 hektare, lalu jutaan hektare…”
“Ya?”
“Apakah kita masih punya kebudayaan?”
Pengusaha mengerutkan dahi.
“Pak, ini Café Penta Helix atau Café Filsafat?”
Semua tertawa.
Budayawan tetap serius.
“Karena pembangunan bukan hanya tentang berapa ton produksi.”
Ia melanjutkan:
“Siapa yang menguasai rantai nilai?
Siapa yang memperoleh keuntungan?
Apakah petani hanya menjadi buruh?
Apakah pengetahuan lokal hilang?
Apakah tanaman menjadi sekadar komoditas?”
Makdang diam.
Kemudian berkata:
“Pertanyaan itu justru penting.”
—
Babak VIII — Lima Helix Tidak Cukup
Ilmuwan menghitung dengan jarinya.
“Pemerintah.”
“Akademisi.”
“Industri.”
“Masyarakat.”
“Dan?”
“Bisnis.”
Aktivis mengangkat tangan.
“Belum lengkap.”
Semua menoleh.
“Lingkungan.”
Budayawan berkata,
“Dan budaya.”
Bankir tertawa.
“Berarti bukan Penta Helix lagi.”
Makdang menjawab:
“Penta Helix itu kerangka.”
“Yang penting bukan menghitung jumlah helix.”
“Yang penting adalah:
«Apakah semuanya benar-benar bekerja bersama?”»
—
Babak IX — Café Mulai Ramai
Pintu kafe terbuka.
Seorang petani masuk.
Ia melihat meja besar.
“Boleh ikut ngopi?”
Makdang menjawab,
“Ini Café Penta Helix. Silakan.”
Petani duduk.
“Ada apa?”
Pengusaha menjawab,
“Kami sedang mencari proyek.”
Petani bertanya:
“Proyek apa?”
“Kunyit.”
Petani tersenyum.
“Di bawah sawit?”
“Iya.”
Petani diam sebentar.
“Kalau begitu jangan hanya lihat tanahnya.”
“Lihat apa?”
“Lihat petaninya.”
Semua terdiam.
Petani melanjutkan:
“Kalau SOP-nya bagus tapi petani tidak mengerti, gagal.”
“Kalau pasarnya bagus tapi harga di tingkat petani tidak masuk, gagal.”
“Kalau produksinya tinggi tapi tenaga kerjanya tidak tersedia, gagal.”
“Kalau uangnya banyak tapi masyarakat tidak percaya, gagal.”
Makdang tersenyum.
“Pak, Anda baru saja menjadi dosen.”
Petani tertawa.
“Tidak. Saya cuma petani.”
Ilmuwan menjawab:
“Justru itu. Pengetahuan tidak hanya tinggal di kampus.”
—
Babak X — Makdang Membuka Kertas Terakhir
Makdang mengambil kertas besar.
Ia menggambar:
LAHAN
↓
SAINS
↓
TEKNOLOGI
↓
MASYARAKAT
↓
PRODUK
↓
STANDAR
↓
PASAR
↓
MODAL
↓
LINGKUNGAN
↓
BUDAYA
↓
REPLIKASI
Semua melihat.
Pengusaha bertanya:
“Ini apa?”
Makdang menjawab:
«“Ekosistem.”»
—
Kemudian ia menggambar satu lingkaran besar.
Di tengahnya ditulis:
LIVING LABORATORY
Di sekelilingnya:
Kampus
Pemerintah
Industri
Masyarakat
Financier
Lingkungan
Budaya
Makdang berkata:
“Living Laboratory bukan hanya tempat penelitian.”
“Ini tempat semua orang belajar bersama.”
“Kalau berhasil, kita bukan hanya membawa tanaman ke tempat lain.”
Ia berhenti.
Lalu berkata:
«“Kita mereplikasi ekosistemnya.”»
—
Babak XI — Pertanyaan Rp2 Triliun
Bankir kembali melihat pengusaha.
“Jadi Anda tadi bilang punya fasilitas kredit Rp2 triliun?”
“Iya.”
“Masih mau?”
Pengusaha tersenyum.
“Sekarang saya lebih mau.”
“Kenapa?”
“Karena tadi saya datang membawa uang.”
Ia menunjuk ke meja.
“Sekarang saya melihat ada:
lahan,
petani,
kampus,
teknologi,
buyer,
regulator,
data,
standar,
dan sistem.”
Bankir bertanya:
“Berapa proyek?”
Makdang tertawa.
“Jangan buru-buru.”
Bankir mengangguk.
“Benar.”
Ilmuwan berkata:
“Mulai dari Living Laboratory.”
Aktivis:
“Dengan baseline lingkungan.”
Budayawan:
“Dengan baseline sosial-budaya.”
Petani:
“Dengan petani sebagai pelaku.”
Industrialis:
“Dengan spesifikasi pasar.”
Bankir:
“Dengan model cash flow.”
Regulator:
“Dengan kepastian tata kelola.”
Makdang menutup laptopnya.
“Kalau semuanya sudah ada…”
Ia menatap pengusaha.
“Barulah Rp2 triliun itu punya tempat untuk bekerja.”
—
EPILOG — Kopi Terakhir
Hari sudah sore.
Pelayan datang membawa tagihan.
Semua saling melihat.
Bankir berkata:
“Siapa yang bayar?”
Pengusaha langsung menunjuk Makdang.
“Beliau yang punya ide.”
Makdang protes.
“Lho!”
Budayawan tertawa.
“Ini hukum ekonomi baru.”
“Apa?”
«“Ide gratis. Kopinya bayar sendiri.”»
Semua tertawa.
Di papan tulis Café Penta Helix masih tertulis satu kalimat:
**INPUT BERUBAH.
MESIN TETAP.
EKOSISTEM DIREPLIKASI.**
Dan mungkin, tanpa mereka sadari, dari sebuah meja kecil di sebuah kafe, lahir sebuah cara berpikir baru:
Bukan lagi bertanya:
«“Siapa punya program?”»
Tetapi:
«“Siapa punya masalah?”»
Bukan:
«“Siapa punya dana?”»
Tetapi:
«“Proyek apa yang layak dibiayai?”»
Bukan:
«“Siapa punya penelitian?”»
Tetapi:
«“Pengetahuan apa yang dibutuhkan dunia nyata?”»
Bukan:
«“Berapa luas lahan yang bisa ditanami?”»
Tetapi:
«“Ekosistem apa yang bisa kita bangun dan ulangi?”»
Dan akhirnya:
«Mungkin perubahan peradaban memang tidak selalu dimulai dari ruang sidang, gedung kementerian, atau laboratorium.
Kadang ia dimulai dari beberapa orang yang duduk semeja, minum kopi, lalu berani bertanya:
“Kalau semua kita gabungkan, sebenarnya Indonesia bisa membuat apa?”»
DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.







