spot_img
spot_img
Senin, September 14, 2026
BerandaOpiniErupsi Berbagai Gunung di Indonesia dan Peringatan Kerakusan Manusia

Erupsi Berbagai Gunung di Indonesia dan Peringatan Kerakusan Manusia

spot_img

Erupsi Berbagai Gunung di Indonesia dan Peringatan Kerakusan Manusia

Oleh: Iwan “Terpal” Setiawan
Eks Aktivis Mapala UMY

Ada saat ketika manusia perlu berhenti sejenak dari hiruk-pikuk pembangunan dan mendengarkan suara alam.Pada penghujung Agustus hingga awal September 2026, sejumlah gunung api Indonesia menunjukkan peningkatan aktivitas dan erupsi.

Gunung Ibu di Maluku Utara, Semeru di Jawa Timur, Lewotobi Laki-laki dan Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, serta Sinabung di Sumatera Utara termasuk gunung yang mengalami erupsi pada periode tersebut.

Di tengah rangkaian aktivitas itu, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali memperlihatkan wataknya sebagai gunung api yang harus terus dihormati.

Fenomena enam gunung api yang mengalami erupsi hampir bersamaan memang mudah menimbulkan kegelisahan.

Namun kegelisahan itu harus ditempatkan bersama pengetahuan, bukan dibangun di atas spekulasi bahwa satu gunung menyebabkan gunung lain meletus.

PVMBG menegaskan bahwa aktivitas enam gunung api tersebut merupakan dinamika vulkanik yang berlangsung secara independen dan tidak terdapat bukti bahwa erupsi satu gunung memicu gunung lainnya.

Penjelasan ilmiah ini penting agar masyarakat tidak terjebak pada kesimpulan yang tidak memiliki dasar geologi.

Tetapi ada pertanyaan lain yang jauh lebih besar daripada hanya mengapa gunung meletus pada waktu yang hampir bersamaan.

Pertanyaannya adalah bagaimana manusia memperlakukan tanah tempat ia berpijak, hutan tempat ia menggantungkan hidup, sungai yang memberinya air, dan laut yang menyediakan pangan.

Sebab ketika bencana datang, manusia sering baru menyadari bahwa kerusakan lingkungan tidak berhenti pada hilangnya pohon atau berubahnya bentang alam.

Kerusakan lingkungan pada akhirnya kembali kepada manusia dalam bentuk banjir, longsor, kekeringan, pencemaran, hilangnya mata pencaharian, dan meningkatnya kerentanan masyarakat.

Gunung berapi mempunyai sistem geologi sendiri yang bekerja jauh di bawah permukaan bumi.

Tekanan magma, pergerakan fluida, aktivitas seismik, serta kondisi internal gunung menjadi bagian dari proses yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia.

Namun sangat masuk akal untuk mempertanyakan apakah manusia telah membuat kehidupan di sekitar wilayah rawan bencana menjadi jauh lebih rapuh.

Di sinilah peringatan alam seharusnya dibaca secara lebih mendalam.

Alam tidak sedang memberikan kuliah moral kepada manusia tentang siapa yang benar dan siapa yang salah.
Tetapi setiap bencana memperlihatkan konsekuensi dari cara manusia mengatur ruang, mengelola sumber daya, membangun permukiman, dan mengambil keputusan ekonomi.

Gunung boleh mempunyai kekuatan alamiahnya sendiri, tetapi tingkat penderitaan manusia sangat dipengaruhi oleh keputusan manusia sendiri.

Erupsi Anak Krakatau pada awal September 2026 memberikan gambaran yang sangat jelas mengenai besarnya dampak aktivitas vulkanik terhadap kehidupan modern.

Badan Geologi mencatat erupsi menerus Anak Krakatau mulai terjadi pada 4 September 2026 pukul 23.07 WIB, disertai suara gemuruh dan fenomena lava fountain.

Gunung tersebut telah berada pada Level III atau Siaga sejak 2 Juli 2026 dan aktivitas erupsinya terus dipantau secara ketat.

Sejarah Anak Krakatau juga mengingatkan Indonesia bahwa aktivitas gunung ini tidak boleh dipandang sebagai tontonan semata.

BACA JUGA :  Jejak Pemikiran yang Tak Lekang Waktu: Mengenang Airlangga Pribadi Kusman

Abu vulkanik kemudian bergerak mengikuti kondisi atmosfer dan mengganggu berbagai aktivitas masyarakat.

BNPB mencatat sebaran abu vulkanik Anak Krakatau terpantau mencapai sekitar 14,6 kilometer atau FL480 dan bergerak dominan ke arah barat hingga barat daya.

Dampaknya merembet ke sektor penerbangan sehingga sejumlah bandar udara harus ditutup sementara demi keselamatan.

Bandara Soekarno-Hatta termasuk fasilitas penerbangan yang terdampak oleh sebaran abu tersebut.

Kita kemudian melihat betapa kecilnya manusia ketika berhadapan dengan kekuatan alam.

Bandara yang setiap hari menjadi simbol mobilitas modern dapat berhenti beroperasi hanya karena partikel abu yang tidak terlihat dari kejauhan.

Pesawat dengan teknologi tinggi tidak dapat memaksa dirinya terbang ketika abu vulkanik mengancam mesin dan keselamatan penerbangan.

Pada titik itu, teknologi yang selama ini membuat manusia merasa mampu menaklukkan alam justru harus tunduk kepada hukum alam.

Peristiwa tersebut semestinya menjadi bahan perenungan bagi sebuah bangsa yang sedang mengejar pertumbuhan ekonomi.

Pembangunan memang diperlukan, tetapi pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan pada akhirnya akan menghasilkan tagihan yang dibayar masyarakat.

Keuntungan dari eksploitasi sumber daya alam dapat dinikmati dalam waktu singkat oleh kelompok tertentu, sedangkan biaya ekologisnya dapat diwariskan kepada generasi yang bahkan belum lahir.

Di sinilah persoalan kerakusan menjadi relevan untuk dibicarakan.

Kerakusan bukan hanya tentang mengambil terlalu banyak sumber daya.

Kerakusan juga muncul ketika manusia menganggap alam sebagai benda mati yang nilainya hanya dihitung berdasarkan harga jual.

Hutan dihitung berdasarkan nilai kayunya, gunung dihitung berdasarkan kandungan mineralnya, sungai dihitung berdasarkan potensi energinya, dan tanah dihitung berdasarkan harga propertinya.

Ketika semua hal memiliki harga tetapi kehilangan nilai ekologis, manusia perlahan kehilangan kemampuan untuk melihat alam sebagai sistem kehidupan.

Indonesia sebenarnya memiliki data yang menunjukkan bahwa tekanan terhadap lingkungan bukan persoalan imajinatif.

Kementerian Kehutanan mencatat luas hutan Indonesia pada 2024 sekitar 95,5 juta hektare atau 51,1 persen dari total daratan.

Pada tahun yang sama, deforestasi netto tercatat sekitar 175,4 ribu hektare setelah memperhitungkan reforestasi.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa menjaga hutan tetap menjadi pekerjaan besar yang membutuhkan konsistensi kebijakan dan pengawasan.

Lebih jauh, pemerintah sendiri mencatat adanya lahan kritis yang mencapai sekitar 12,74 juta hektare berdasarkan data sampai Desember 2024.

Angka ini memperlihatkan bahwa persoalan lingkungan Indonesia tidak berhenti pada kawasan hutan yang terlihat hijau dari udara.

Ada tanah yang kehilangan fungsi ekologisnya, ada daerah aliran sungai yang membutuhkan pemulihan, dan ada kawasan yang membutuhkan rehabilitasi dalam jangka panjang.

Karena itu, pembicaraan tentang pembangunan seharusnya selalu disertai pembicaraan tentang kemampuan alam untuk memulihkan dirinya.

Kita juga harus berani mempertanyakan pola pikir pembangunan yang menganggap alam sebagai cadangan bahan baku tanpa batas.

Ketika satu kawasan selesai dieksploitasi, perhatian berpindah menuju kawasan berikutnya.

BACA JUGA :  Kawan, Pulanglah... Keluarga Menunggumu!

Hutan dibuka, mineral diambil, tanah berubah fungsi, kemudian masyarakat diminta beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang ditinggalkan.

Pola seperti ini tidak hanya menyisakan kerusakan ekologis, tetapi juga dapat menciptakan ketimpangan antara pihak yang memperoleh keuntungan dan masyarakat yang menanggung risikonya.

Pada titik ini, persoalan lingkungan tidak dapat dipisahkan dari persoalan keadilan.

Siapa yang memperoleh manfaat terbesar dari sumber daya alam dan siapa yang pertama kali menghadapi dampak ketika lingkungan rusak?

Pertanyaan itu harus dijawab secara terbuka karena masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan, tambang, sungai, pesisir, dan gunung sering berada paling dekat dengan risiko.

Mereka tidak selalu menikmati keuntungan ekonomi sebesar pihak yang menguasai modal dan rantai produksi.

Karena itu, peringatan dari gunung tidak perlu diterjemahkan sebagai hukuman alam kepada manusia.

Lebih tepat jika ia dipahami sebagai kesempatan untuk memeriksa kembali cara manusia mengelola kehidupan bersama.

Kita tidak bisa menghentikan gunung berapi dari proses geologinya, tetapi kita bisa memperbaiki tata ruang, sistem peringatan dini, jalur evakuasi, perlindungan hutan, dan kesiapan masyarakat.

Kita juga dapat menghentikan kebiasaan menganggap kerusakan lingkungan sebagai harga yang wajar dari pembangunan.

Anak Krakatau sendiri menyimpan sejarah yang terlalu penting untuk dilupakan.

Erupsi besar Krakatau pada 1883 menghasilkan tsunami dahsyat, sementara pada 22 Desember 2018 longsoran tubuh Anak Krakatau memicu tsunami di kawasan Selat Sunda.

Sejarah tersebut bukan alasan untuk menebar kepanikan, tetapi alasan untuk menjaga kewaspadaan dan menghormati data ilmiah.

Bencana tidak pernah menjadi lebih kecil hanya karena manusia memilih untuk mengabaikannya.

Maka masyarakat harus mendapatkan informasi yang jernih, cepat, dan berdasarkan pengamatan ilmiah.
Kabar mengenai gunung meletus bersamaan jangan digunakan untuk menciptakan ketakutan atau menghubungkan berbagai kejadian tanpa bukti.

Sebaliknya, informasi tersebut harus menjadi dasar untuk memperkuat pendidikan kebencanaan dan kesadaran ekologis.

Masyarakat yang memahami risiko akan jauh lebih siap menghadapi keadaan darurat dibanding masyarakat yang hanya menerima informasi ketika bencana sudah terjadi.

Peringatan alam juga harus sampai kepada para pengambil kebijakan.

Setiap izin pemanfaatan ruang semestinya memperhitungkan kemampuan lingkungan menanggung beban aktivitas manusia dalam jangka panjang.

Setiap proyek besar perlu mempertanyakan bukan hanya berapa investasi yang masuk dan berapa lapangan pekerjaan yang tercipta, tetapi juga berapa besar tekanan ekologis yang ditimbulkan.

Pembangunan yang baik bukan pembangunan yang paling cepat, melainkan pembangunan yang masih menyisakan ruang hidup bagi generasi berikutnya.

Kita sering berbicara tentang Indonesia sebagai negara kaya sumber daya alam.

Tetapi kekayaan alam tidak akan menjadi berkah jika pengelolaannya menghasilkan kerusakan yang lebih besar daripada manfaat yang diterima masyarakat.

Hutan yang hilang, sungai yang tercemar, tanah yang rusak, dan pesisir yang tertekan tidak dapat digantikan hanya dengan angka pertumbuhan ekonomi.

Sebab ekonomi pada akhirnya tetap bergantung kepada tanah, air, udara, dan ekosistem yang sehat.

BACA JUGA :  PARADOKS BANTEN : 5 PR GUBERNUR BANTEN

Sebagai orang yang pernah berada di lingkungan kegiatan pecinta alam, saya melihat gunung bukan hanya sebagai objek pendakian.

Gunung adalah ruang belajar tentang keterbatasan manusia, tentang kesabaran, tentang disiplin, dan tentang penghormatan kepada kehidupan.

Di hadapan gunung, manusia tidak pernah benar-benar menjadi penguasa karena satu perubahan cuaca saja dapat mengubah seluruh rencana perjalanan.

Gunung mengajarkan bahwa hidup membutuhkan kerendahan hati.

Barangkali itulah pesan paling penting dari rangkaian aktivitas gunung api kali ini.

Bukan bahwa manusia harus takut kepada gunung, melainkan manusia harus berhenti merasa dirinya paling berkuasa atas alam.

Kita hidup berdampingan dengan kekuatan geologi yang jauh lebih tua daripada peradaban, sementara umur manusia sangat singkat dibandingkan umur bumi.

Kesadaran semacam itu seharusnya membuat kita lebih bijaksana dalam mengambil setiap keputusan terhadap lingkungan.

Pada akhirnya, alam tidak membutuhkan manusia untuk mempertahankan keberadaannya.
Justru manusia yang membutuhkan alam untuk mempertahankan kehidupannya sendiri.

Gunung dapat terus berdiri, hutan dapat tumbuh kembali, sungai dapat mencari jalannya, dan bumi akan terus bergerak meskipun manusia tidak ada.

Yang perlu kita selamatkan sebenarnya bukan alam dari kepunahan, melainkan manusia dari kesombongan dan kerakusannya sendiri.

Karena itu, rangkaian erupsi gunung api Indonesia hendaknya menjadi momentum untuk memperkuat ilmu pengetahuan sekaligus memperdalam kesadaran ekologis.

Kita tidak boleh menyalahkan alam atas setiap bencana, sebagaimana kita juga tidak boleh menggunakan bencana untuk menyebarkan kesimpulan yang tidak memiliki dasar ilmiah.

Tetapi kita wajib bertanya apakah cara kita mengelola hutan, tambang, pesisir, sungai, dan ruang hidup sudah benar-benar mempertimbangkan keselamatan manusia.

Jika pertanyaan itu tidak pernah dijawab, maka kita hanya akan terus mengulangi kesalahan yang sama dengan nama pembangunan yang berbeda.

Gunung telah berbicara melalui getaran, lava, abu, dan suara gemuruhnya.
Ilmu pengetahuan telah menjelaskan bahwa aktivitas vulkanik mempunyai mekanisme geologis yang kompleks dan tidak dapat disederhanakan menjadi akibat keserakahan manusia.

Namun manusia tetap mempunyai tanggung jawab moral atas kerusakan lingkungan yang dibuatnya sendiri.
Mungkin inilah saatnya kita belajar membedakan antara kekuatan alam yang tidak dapat dikendalikan dan kerakusan manusia yang sebenarnya masih dapat dihentikan.


DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

BACA JUGA :  Jejak Pemikiran yang Tak Lekang Waktu: Mengenang Airlangga Pribadi Kusman
spot_img
Must Read
spot_img
Populer
spot_img