spot_img
spot_img
Senin, September 14, 2026
BerandaHeadlineMEGATHRUST SELAT SUNDA: BANTEN BERDIRI DI GARIS DEPAN, TAPI APA YANG SUDAH...

MEGATHRUST SELAT SUNDA: BANTEN BERDIRI DI GARIS DEPAN, TAPI APA YANG SUDAH DIPERSIAPKAN?

spot_img

MEGATHRUST SELAT SUNDA: BANTEN BERDIRI DI GARIS DEPAN, TAPI APA YANG SUDAH DIPERSIAPKAN?

Oleh: Kurtubi
Tokoh Masyarakat Tangerang

Megathrust Selat Sunda bukan lagi peringatan cuaca, itu adalah kepastian ilmiah yang sedang menunggu waktunya. Para ahli gempa telah lama memperingatkan: penumpukan energi di zona pertemuan Lempeng Indo-Australia dan Eurasia terus berlangsung. Suatu saat, energi itu akan terlepas. Banten dengan garis pantai terpanjang di Pulau Jawa adalah wilayah paling rentan sekaligus paling berisiko.

Pertanyaan paling mendesak bukanlah “kapan terjadi?”  karena tidak ada yang bisa memprediksi jam dan menitnya. Pertanyaan yang harus dijawab sekarang adalah: Jika megathrust itu datang, apakah Banten siap?

BAGIAN 1: MENGAPA MEGATHRUST SELAT SUNDA SANGAT BERBAYA BAGI BANTEN

Megathrust Selat Sunda memiliki karakteristik yang membuatnya sangat berbahaya:

– Lokasinya dekat daratan Banten, jarak episenter ke pesisir Banten relatif pendek. Jika gempa terjadi, tsunami bisa mendarat di pesisir Banten dalam waktu hanya 20–45 menit. Waktu yang sangat singkat untuk evakuasi.
– Panjang garis pantai Banten terbentang luas  dari Kabupaten Tangerang, Serang, Cilegon, Pandeglang, hingga Lebak. Ratusan ribu jiwa tinggal di kawasan pesisir ini.
– Topografi dataran rendah, banyak kawasan pesisir Banten berupa dataran rendah yang landai, sehingga tsunami bisa menjalar jauh ke daratan.
– Kepadatan penduduk tinggi di zona merah, kawasan wisata, permukiman padat.

Ini bukan soal “jika terjadi”, tapi “saat terjadi”. Penundaan persiapan sama dengan membiarkan rakyat dalam bahaya.

BACA JUGA :  Peredaran Tramadol di Jabar Mengkhawatirkan, Penindakan Harus Menyasar Jaringan Pemasok, Bukan Pengguna

BAGIAN 2: APA YANG SUDAH DILAKUKAN DAN MASIH SANGAT KURANG

Berikut penjelasan apa yang sudah ada dan apa yang masih kosong:

YANG SUDAH ADA:

– Pemetaan Zona Bahaya, BMKG dan Badan Riset dan Inovasi Nasional telah memetakan kawasan rawan gempa dan tsunami di pesisir Banten. Dokumennya ada dan bisa diakses.
– Rencana Kontinjensi, Pemprov Banten dan beberapa kabupaten/kota telah menyusun dokumen rencana penanggulangan bencana. Secara tertulis prosedurnya sudah ada.
– Sistem Peringatan Dini, BMKG telah memasang stasiun pemantau gempa dan sirine di beberapa titik strategis.
– Sosialisasi Terbatas, Beberapa daerah telah melakukan simulasi evakuasi, namun sifatnya masih insidental dan belum merata.

YANG MASIH SANGAT KURANG:

1. Infrastruktur Evakuasi Belum Memadai
Berapa menara pengungsian tsunami yang sudah selesai dibangun di Banten? Jumlahnya masih sangat sedikit dibanding kebutuhan. Banyak warga tidak tahu ke mana harus berlari. Jalan evakuasi sempit, tertutup bangunan, atau berujung buntu. Ini adalah celah mematikan.

2. Sosialisasi Belum Menjangkau Semua Lapisan
Banyak warga pesisir belum memahami tanda-tanda alam dan cara merespons peringatan. Sirine ada, tapi tidak semua warga tahu apa artinya dan ke mana harus lari.

3. Anggaran Bencana Baru Bersifat Reaktif
Anggaran bencana sering kali baru cair saat bencana sudah terjadi. Padahal mitigasi butuh dana jauh lebih besar sebelum bencana datang. Ini seperti membeli helm saat kecelakaan sudah terjadi.

BACA JUGA :  RUU Reforma Agraria: Jangan Cuma Menjadi “Karpet Merah” Seremonial, Tapi Harus Jawab Konflik Yang Menumpuk

5. Koordinasi Antar Wilayah Lemah
Tsunami tidak mengenal batas kabupaten/kota. Tapi rencana evakuasi masih berjalan sendiri-sendiri antar daerah. Jika satu kabupaten macet di jalur evakuasi, daerah tetangganya juga ikut terjebak.

BAGIAN 3: MENGAPA SELALU “TERTUNDA SAMPE BENCANA DATANG”

Ada tiga penyakit kronis dalam penanganan bencana di Banten:

Pertama: Bahaya yang Tak Terlihat Terasa Jauh.
Karena megathrust belum terjadi, kesannya “masih punya waktu”. Padahal waktu yang kita miliki adalah satu-satunya modal yang tidak bisa kita beli kembali begitu bencana datang.

Kedua: Biaya Mitigasi Selalu Dianggap Mahal, Sampai Bencana Terjadi
Membangun menara evakuasi, melebarkan jalan aman, dan menata ruang itu butuh biaya besar. Tapi bandingkan dengan biaya rekonstruksi pascabencana yang nilainya berkali-kali lipat lebih besar, belum lagi kerugian nyawa yang tak ternilai. Mencegah itu selalu jauh lebih murah daripada memperbaiki.

Ketiga: Tidak Ada yang Meminta Pertanggungjawaban Sebelum Bencana
Evaluasi kinerja kepala daerah biasanya berfokus pada pembangunan fisik yang terlihat, jalan, jembatan, pasar. Siapa yang menilai: berapa persen jalur evakuasi yang selesai? Berapa warga yang sudah paham prosedur darurat? Karena tidak diukur sebagai indikator kinerja utama, maka tidak menjadi prioritas utama.

SIAP ATAU SIA-SIA?
Megathrust Selat Sunda tidak akan menunggu siap. Ia tidak peduli dengan jadwal rapat, pergantian pejabat, atau revisi anggaran. Ia hanya datang dan saat itu tiba, satu-satunya pertanyaan yang tersisa adalah: apakah rakyat Banten sudah tahu ke mana harus lari?

BACA JUGA :  Muslim Arbi Kritik Gelar Doktor Honoris Causa Unhas untuk Xanana Gusmao

Tidak ada alasan yang cukup untuk menunda keselamatan rakyat. Tidak ada anggaran yang terlalu besar untuk mencegah kematian. Tidak ada alasan yang bisa dimaafkan jika  membiarkan warga tidak siap saat bahaya datang.

Antisipasi sejak dini adalah pilihan yang bijaksana sekaligus berani. Menunggu hingga kejadian adalah pilihan yang murah dan menyesatkan.

Banten berhak aman. Banten harus siap. Bukan besok tapi sekarang.


DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

BACA JUGA :  Amien Rais bukan Otak Pemakzulan Gus Dur, Adhie Massardi: Ada Peran Megawati
spot_img
Must Read
spot_img
Populer
spot_img