Semoga Husnul Khotimah Ya Mas Angga
By Hendrajit
Kemarin saya kaget betul dengar mas Airlangga Pribadi wafat. Siangnya saya sempat terheran-heran kok banyak banget berita tentang Airlangga seliweran di depan beranda facebook saya.
Tapi karena saya nggak perhatikan bahwa itu terkait berpulangnya mas Angga, saya pikir liputan seputar rencana diskusi yang sedianya akan diselenggarakan hari Kamis ini yang mana alumnus Universitas Airlangga ini rencananya menjadi salah satu narasumber kunci.
Usia mas Angga saat berpulang, 49 tahun, jadi 14 tahun lebih muda dari saya. Namun sejak kali pertama berkenalan ketika sama sama jadi narasumber membahas kelayakan Ali Sastroamijoyo sebagai pahlawan nasional di Universitas Tribuana Tungga Dewi, Malang, saya terkesan.
Berbeda dengan umumnya para dosen yang konvensional dan asyik sendiri dengan rutinitas hariannya yang monoton di kampus, mas Angga meski tetap menjadikan kampus sebagai basisnya, namun lingkup aktivitas dan pergaulannya luas.
Boleh jadi masa studinya di Universitas Murdoch, Perth, Australia, di bawah bimbingan Dr Richard Robison dan kawan lama saya Dr Vedy Hadiz, tanpa ia sadari ikut membentuk etos keguruannya yang paripurna saat kembali mengajar di FISIP Universitas Airlanhga. Seorang dosen bukan cuma staf pengajar melainkan juga mentor.
Bahwa seorang dosen atau staf pengajar juga harus punya pandangan dan kesadaran diri yang melampaui profesi dan bidang keahliannya. Dan persis seperti itulah mas Angga dalam kiprahnya hingga akhir hayatnya.
Yang perlu jadi bahan pelajaran penting buat generasi muda sekarang yang berniat mengikuti jejak mas Angga sebagai ilmuwan dan intelektual: Fokus Perhatian menyalakan energi. Niat mengundang datangnya informasi dan wawasan.
Fokus perhatian mas Angga sebelum menempuh program doktornya di Australia, merasa kecewa dengan hasil reformasi 1998 yang tak sesuai harapan. Fokus perhatiannya yang konstan itu, membawanya pada niat untuk mencari referensi dan rujukan yang tepat untuk menjawab mengapa reformasi 1998 gagal total.
Niat yang begitu kuat untuk mencari jawab atas pertanyaan kunci itulah, informasi dan wawasan menyala dalam pemikiran dan pandangannya. Dengan tak ayal, buku buah karya Antonio Gramsci , inteletual pergerakan kiri asal Italia, masuk radar sororan mas Angga sebagai kerangka analisis menjawab kegagalan Reformasi 1998.
Maka Gramsci praktis jadi subyek kajian kunci Angga sewaktu menempuh studi doktoralnya di Murdoch University. Bahkan menjadikannya sebagai disertasi untuk gelar doktornya.
Fokus perhatian yang memantik energi dan niat kuat yang menyalakan informasi dan wawasannya, tidak henti sampai di situ. Belakangan minat dan gairahnya untuk mendalami pemikiran Bung Karno dan Marhaenisme tak kalah kuatnya saat mendalami Gramsci. Seakan Angga meyakini bahwa lewat Gramsci dan Sukarno inilah pintu masuk yang tepat untuk mendiagnosis akar penyakit sosial dan politik negeri kita saat ini.
Jalan tugas Angga memang sudah berakhir seiring wafatnya yang mengagetkan banyak orang termasuk saya Rabu kemarin. Namun Angga sudah memberikan dua perangkat intelektual untuk diteruskan oleh generasi penerus kini dan kelak. Gramsci dan Sukarno sebagai sumber inspirasi untuk mendekonstruksi kartel politik dan oligarki di negeri kita.
Masa hidupmu memang relatif singkat, mas Angga, namun pemikiran dan karyamu akan hidup terus bagi kalangan muda yang terpanggil untuk mengikuti jejak dan reputasimu.
DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.







