spot_img
spot_img
Senin, September 14, 2026
BerandaAnggaranKeuanganKrisis Likuiditas dan Beban Proyek Megah: Menakar Jatuhnya Gurita Bisnis Lippo Group,...

Krisis Likuiditas dan Beban Proyek Megah: Menakar Jatuhnya Gurita Bisnis Lippo Group, Pelepasan Siloam, hingga Sorotan Tajam Publik

spot_img

Indoviewnews.com — Perjalanan konglomerasi besar Lippo Group tengah berada di bawah sorotan tajam menyusul langkah restrukturisasi besar-besaran yang dilakukan dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Berbagai portofolio ikonik yang dibangun lintas dekade, termasuk PT Siloam International Hospitals Tbk., terpaksa dilepas guna menyelamatkan perusahaan dari tekanan finansial yang kian parah.

​Berdasarkan bedah studi kasus korporasi oleh praktisi corporate structuring, El Handoko, kejatuhan ini berakar dari strategi ekspansi agresif berbasis financial engineering yang diterapkan selama puluhan tahun. Lippo Group dulunya dikenal piawai menggunakan skema sale and leaseback—yakni membangun aset menggunakan pinjaman konstruksi jangka pendek, menjualnya kepada Real Estate Investment Trust (REIT) yang dilepas ke publik, lalu menyewa kembali aset tersebut untuk pendanaan proyek berikutnya.

​Kendati tampak elegan di atas kertas, skema ini menyimpan cela fatal ketika arah angin ekonomi berubah. Beban sewa jangka panjang bersifat kaku dan tidak fleksibel terhadap penurunan okupansi atau pendapatan operasional. Situasi ini kian diperburuk oleh adanya ketidakcocokan mata uang (currency mismatch), di mana sewa REIT dicatat dalam dolar Singapura, sementara pendapatan aset di dalam negeri menggunakan rupiah. Ketika rupiah melemah terhadap dolar Singapura, beban kewajiban otomatis membengkak tanpa adanya penambahan utang baru.

BACA JUGA :  Caregiver Wajib Tahu! Kolaborasi Dompet Dhuafa & PPDI Depok Spill Tips Dampingi Anak Istimewa

Meikarta Menjadi Titik Nadir

Titik balik kehancuran kepercayaan investor terhadap grup ini diyakini bermula dari mega proyek Meikarta di Cikarang yang diluncurkan pada Agustus 2017. Proyek kota mandiri seluas 500 hektar yang menghabiskan biaya promosi masif tersebut sempat mencatat lonjakan penjualan di awal, namun anjlok secara brutal hingga lebih dari 99 persen pada awal 2019.

​Selain penjualan yang macet, ribuan unit pesanan konsumen terbengkalai, memicu gelombang gugatan hukum, serta protes dari para vendor akibat tagihan yang tidak dibayarkan. Lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings, secara eksplisit menyoroti kegagalan Meikarta sebagai biang keladi utama yang menjebol peringkat utang Lippo Karawaci ke level “C”, yang menandakan perusahaan berada di ambang gagal bayar (default) akibat krisis likuiditas parah.

“Cuci Gudang” Aset Historis dan Hilangnya Kepercayaan Publik

Tekanan likuiditas tersebut memaksa manajemen melakukan langkah-langkah defensif ekstrem berupa “cuci gudang” aset di berbagai belahan dunia. Di pasar Tiongkok, Lippo Plaza Shanghai resmi dilepas dari buku keuangan. Sementara di Singapura, rencana pelepasan gedung ikonik One River Place turut disiapkan.

BACA JUGA :  Dino Patti Djalal Soroti Gugatan Ijazah SMA Gibran di MK

​Langkah paling tragis terlihat pada pelepasan kendali atas Siloam Hospitals—simbol kejayaan ekosistem Lippo yang dirintis selama tiga dekade. Sepanjang Mei hingga Agustus 2024, Lippo Karawaci secara bertahap melepas mayoritas kepemilikan sahamnya di Siloam kepada private equity asal Luksemburg, CVC Capital Partners, senilai 1 miliar dolar AS. Transaksi ini menyisakan kepemilikan Lippo di angka 19,45 persen saja dan resmi mengakhiri era kekuasaan keluarga Riadi di sektor kesehatan tersebut.

​Di tengah gelombang krisis dan restrukturisasi ini, sentimen negatif publik turut menguat. Berbagai kalangan menyoroti bahwa apa yang dialami oleh korporasi merupakan akumulasi dari krisis kepercayaan yang mendalam. Hilangnya dukungan ekosistem perbankan dan investor—yang dikaitkan dengan berbagai kontroversi pengelolaan portofolio lintas sektor di masa lalu, mulai dari ritel, media, pendidikan, hingga kesehatan—dinilai telah menggerus kredibilitas grup tersebut di kancah nasional maupun internasional.

​Transformasi arah kebijakan dari siklus ekspansi yang ofensif menjadi defensif ini mencerminkan prioritas korporasi saat ini: bukan lagi menjaga warisan historis atau ekspansi besar-besaran, melainkan bertahan hidup di tengah gelombang tekanan ekonomi, krisis kepercayaan, serta upaya membersihkan neraca keuangan yang terbebani utang. (red).

BACA JUGA :  Kronologi Bella Arswendita Korban Transaksi Mencurigakan di Bank Mandiri, Desak Transparansi Bank dan OJK

Sumber informasi dan analisis selengkapnya dapat disaksikan melalui kanal YouTube EL Handoko pada tautan berikut: http://www.youtube.com/watch?v=kKfeIX2TeNk.


DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

BACA JUGA :  Tajuk Rencana: Vonis Algoritma yang Menguji Taring Perpres 27/2026 di Tengah Amburadulnya Sistem Rating Ojol
spot_img
Must Read
spot_img
Populer
spot_img