spot_img
spot_img
Minggu, September 13, 2026
BerandaOpiniDilema Respons PDIP: Mengapa PSI Membakar Amarah, Sementara Partai ( Baru) Anies...

Dilema Respons PDIP: Mengapa PSI Membakar Amarah, Sementara Partai ( Baru) Anies Dibiarkan Berlalu?

spot_img

Dilema Respons PDIP: Mengapa PSI Membakar Amarah, Sementara Partai ( Baru) Anies Dibiarkan Berlalu?

Oleh: Benny Parapat
( Aktivis & Pemerhati Politik)

Dalam panggung politik Indonesia, arah angin persepsi publik sering kali dibaca bukan dari apa yang diucapkan para elite, melainkan dari bagaimana mereka merespons sebuah isu.

Belakangan ini, publik disuguhkan pemandangan kontras yang cukup menggelitik dari tanggapan PDI Perjuangan (PDIP) terhadap dua kekuatan politik luar parlemen: pergerakan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan wacana pembentukan partai baru oleh Anies Baswedan (seperti Partai Gerakan Rakyat/GR).

Perbedaan derajat reaksi PDIP terhadap keduanya memicu pertanyaan mendasar: Mengapa ada standar yang sangat kontras dalam menghadapi dua entitas politik ini?

Ketika PSI melakukan manuver politik, reaksi yang muncul dari internal PDIP cenderung masif dan reaktif. Suasana berubah hangat—bahkan cenderung memanas—di tingkat elite hingga kader akar rumput.

Mengapa PSI yang durasi keberadaannya di parlemen pusat belum teruji sanggup memicu kepanikan sedemikian rupa?

BACA JUGA :  Bencana Alam, Bencana Moral: Ketika Kerusakan Merambat dari Darat ke Hati

▶ Faktor Figur Strategis: PSI tidak lagi dipandang sekadar partai anak muda, melainkan simbol atau perpanjangan tangan dari pengaruh politik Joko Widodo.

▶ Perebutan Basis Massa: PSI dan PDIP berbagi irisan pemilih yang relatif mirip: segmen pengagum kinerja Jokowi, pemilih nasionalis, dan kelompok urban.

▶ Perang Simbolis: Setiap jengkal pergerakan PSI dianggap sebagai ancaman langsung terhadap domisili pemilih tradisional PDIP. Inilah yang membuat respons PDIP terasa begitu intensif dan bertahan secara konstan di ruang publik.

Di sisi lain, saat Anies Baswedan mematangkan wacana pembentukan partai politik baru, reaksi dari banteng moncong putih justru cenderung tenang—hampir tanpa riak yang berarti.
Sikap dingin ini dapat dibaca melalui dua sudut pandang kalkulasi politik:

▶ Segmentasi Pemilih yang Terpisah: Secara demografis dan ideologis, basis massa pendukung Anies memiliki garis demarkasi yang cukup jelas dengan pemilih loyalis PDIP. Keduanya beroperasi di kolam pemilih yang berbeda.

BACA JUGA :  Jejak Langkah di Garis Takdir: Ketika Kompas Ilahi Mengubah Arah

▶ Proses Panjang Melembaga: Sebuah gerakan rakyat atau Ormas butuh waktu dan mekanisme yang sangat kompleks untuk bertransformasi menjadi partai politik yang solid hingga lolos ambang batas parlemen (parliamentary threshold). PDIP tampaknya membaca ini sebagai maraton panjang, bukan ancaman kilat.

Dalam hukum aksi-reaksi politik, besarnya kepanikan berbanding lurus dengan besarnya ancaman yang dirasakan.
Sikap PDIP yang sangat sensitif terhadap PSI menunjukkan bahwa potensi tergerusnya suara di basis internal jauh lebih menakutkan daripada hadirnya lawan baru dari luar benteng ideologi mereka.

“Reaksi politik yang berlebihan adalah pengakuan terselubung atas adanya ancaman nyata, sementara keheningan bisa berarti kalkulasi matang—atau sekadar pengabaian strategis.”

Perbandingan respons ini memperlihatkan realitas pragmatis politik elektoral hari ini. Reaksi keras terhadap PSI bukanlah soal seberapa besar partai itu saat ini, melainkan tentang siapa di balik PSI dan suara siapa yang berpotensi diambil.

BACA JUGA :  Tangkap Jokowi, Makzulkan Gibran

Sementara bagi pergerakan Anies Baswedan, tantangan terbesarnya bukan hanya membuktikan diri kepada pemilih, melainkan membuktikan kepada partai-partai besar bahwa keberadaan mereka cukup signifikan untuk membuat papan catur politik nasional bergetar.


DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

BACA JUGA :  Raja-Rajaan ala Jokowi, Lebih Baik Bayar Utang Whoosh
spot_img
Must Read
spot_img
Populer
spot_img