Kemenag RI Dorong Orang Tua Jadi Teladan dalam Menjaga Hafalan Al-Qur’an
INDOVIEWNEWS.COM— Kementerian Agama RI mendorong orang tua untuk menjadi teladan bagi anak dalam membangun kecintaan dan kedekatan terhadap Al-Qur’an. Keteladanan orang tua dinilai penting dalam menjaga kebiasaan anak untuk membaca, mendengarkan, menghafal, memahami, hingga mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan tersebut disampaikan Sekretaris Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI, Lubenah Amir, saat menghadiri Talk Show Orang Tua Hafidz Qur’an bertajuk “Aku Tidak Mau Kehilangan Mahkota Surgaku: Menjaga Hafalan Anak, Menjaga Amanah Al-Qur’an”.
Kegiatan yang diselenggarakan Indonesia Murojaah dengan dukungan DKM Masjid Al Muhajirin tersebut berlangsung di Masjid Al Muhajirin, Pondok Jagung, Kecamatan Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan, Banten, Minggu (6/9/2026).
Dalam sambutannya, Lubenah mengapresiasi kegiatan yang diinisiasi Founder Indonesia Murojaah, Deden Muhammad Makhyaruddin. Ia menilai kegiatan tersebut menjadi momentum bagi masyarakat, khususnya para orang tua, untuk kembali melihat, mempelajari, dan merenungkan Al-Qur’an sebagai petunjuk dalam kehidupan.
“Terimakasih Ustadz Deden, sebagai Founder Indonesia Murojaah, sudah menginisiasi kegiatan hari ini. Kita melihat, mempelajari, merenung kan apa yg menjadi petunjuk kita. Kegiatan ini menjadi penting bagi kita semua, apalagi yg menginginkan mahkota di surga,” ujar Lubenah, pada Minggu (6/9/2026).
Menurut Lubenah, keutamaan Al-Qur’an tidak hanya terletak pada aktivitas membaca, tetapi juga pada upaya umat untuk memahami, menghafal, dan mengamalkan kandungannya. Karena itu, kedekatan dengan Al-Qur’an perlu dibangun melalui kebiasaan yang dilakukan secara konsisten.
“Al Qur’an perhuruf jadi pahala untuk kita. Apalagi memahami, menghafal apalagi mengamalkan nya,” katanya.
Ia kemudian mengajak masyarakat untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Menurutnya, kedekatan tersebut dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, yakni membaca Al-Qur’an setiap hari.
“Maka kita sebagai ummatnya, kitab suci itu harus dekat dengan kita, minimal baca setiap hari,” ujarnya.
Lubenah menilai kebiasaan tersebut akan lebih mudah tumbuh dalam diri anak apabila mendapatkan dukungan dari lingkungan keluarga. Orang tua tidak hanya berperan dalam mengingatkan anak, tetapi juga harus menunjukkan contoh nyata melalui perilaku sehari-hari.
“Orang tua harus jadi teladan. Harus jadi role model. Orang tua saja banyak yang megang handphone. Gimana anak mau meniru agar anak suka memegang Al Qur’an,” kata Lubenah.
Menurutnya, keteladanan orang tua menjadi semakin penting karena keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama bagi anak. Apa yang dilakukan orang tua di rumah dapat menjadi contoh yang kemudian ditiru oleh anak, termasuk dalam membangun kebiasaan membaca dan berinteraksi dengan Al-Qur’an.
Ia juga menekankan pentingnya posisi ibu dalam proses pendidikan anak sejak usia dini. Peran tersebut membuat ibu memiliki pengaruh besar dalam membentuk kebiasaan, karakter, dan kecintaan anak terhadap nilai-nilai agama.
“Al Ummu madrosatul ula,” tuturnya.
Karena itu, menurut Lubenah, orang tua yang ingin anaknya dekat dengan Al-Qur’an juga perlu terlebih dahulu menunjukkan kedekatan tersebut dalam kehidupan keluarga. Kebiasaan membaca Al-Qur’an, mendengarkan bacaan, serta melakukan murojaah dapat dibangun bersama sehingga anak tidak merasa bahwa Al-Qur’an hanya menjadi kewajiban yang harus dilakukan atas perintah orang tua.
Lubenah juga menyoroti perkembangan teknologi yang kini semakin dekat dengan kehidupan anak. Penggunaan telepon seluler yang intensif dinilai menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua dalam menjaga perhatian anak terhadap Al-Qur’an.
“Tapi hari ini dengan zaman yang begitu pesat, di era teknologi, kita lupa mengingat kan putra putri kita untuk memegang Al-Qur’an, karena setiap hari memegang hp,” katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak berarti teknologi harus sepenuhnya dijauhkan dari anak. Sebaliknya, orang tua dapat mengarahkan penggunaan teknologi agar memberikan manfaat, termasuk sebagai sarana untuk tetap mendekatkan anak dengan Al-Qur’an.
“Tapi kita jangan sampe kalah, di hp ada aplikasi mushaf Al-Quran juga,” ujarnya.
Selain membahas peran orang tua dalam menjaga hafalan anak, Lubenah juga mengingatkan pentingnya menjaga kecintaan anak terhadap Al-Qur’an secara berkelanjutan. Menurutnya, hafalan yang telah dimiliki anak perlu dijaga melalui kebiasaan murojaah dan pendampingan orang tua.
“Kecintaan kita kepada Al-Qur’an harus kita jaga, putra putri kita kecintaan mereka terhadap Al-Qur’an juga harus dijaga, murojaah setiap hari, mendengar Al-Qur’an setiap hari juga harus dijaga, itu kebanggaan bagi kita sebagai org tua, jika anak kita nanti menjadi seorang hafidz dan hafidzah” ucap Lubenah.
Ia menilai keberhasilan orang tua dalam menjaga kecintaan anak terhadap Al-Qur’an bukan hanya menjadi kebanggaan keluarga, tetapi juga bagian dari upaya menjaga amanah terhadap kitab suci.
Dalam kesempatan tersebut, Lubenah juga menyampaikan bahwa upaya mendekatkan masyarakat kepada kitab suci merupakan bagian dari tanggung jawab bersama. Menurutnya, masyarakat perlu menjadikan kitab suci sebagai petunjuk dalam menjalani kehidupan.
“Amanah Menteri Agama, kita semua harus mendekatkan diri kita kepada petunjuk hidup kita, kitab suci kita,” pungkasnya.
Lubenah kemudian menekankan bahwa kedekatan umat beragama dengan kitab suci masing-masing juga dapat memberikan arah dalam kehidupan bermasyarakat.
“Kalo semua ummat beragama dekat kepada kitab suci nya, akan seperti apa yang menjadi petunjuk,” tambahnya.
Menurutnya juga, upaya membangun kehidupan keagamaan dan menciptakan kerukunan tidak dapat dilakukan oleh pemerintah seorang diri. Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjalankan upaya tersebut.
“Pastinya kami di kementerian agama tidak mesti sendiri, kami semua dibantu oleh bapak ibu semua untuk menciptakan kerukunan,” ujar Lubenah.
Ia juga menyebut majelis taklim sebagai salah satu instrumen masyarakat yang dapat ikut berperan dalam membangun kehidupan keagamaan sekaligus memperkuat nilai-nilai kebersamaan.
“Majelis talim, yang seperti dilaksanakan pada hari ini, oleh Indonesia Murojaah, itu semua juga menjadi instrumen, menjadi instrumen untuk mewujudkan ummatan washaton,” pungkasnya.
Perlu diketahui, Talk show tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Deden Muhammad Makhyaruddin selaku Founder Indonesia Murojaah sekaligus Juara 1 Tahfizh Tafsir 30 Juz Internasional di Maroko tahun 2011.
Hadir pula Ibrahim sebagai Ketua Kaltim Murojaah sekaligus Juara 1 Tafsir Bahasa Inggris Nasional tahun 2024, serta Wahidah, yang mendapatkan penghargaan Keluarga Sakinah Teladan tingkat Nasional.
Melalui kegiatan tersebut, Indonesia Murojaah bersama DKM Masjid Al Muhajirin mengajak para orang tua untuk tidak hanya mendorong anak menghafal Al-Qur’an, tetapi juga ikut menjaga hafalan, membangun kecintaan, dan menciptakan lingkungan keluarga yang mendukung anak untuk terus dekat dengan Al-Qur’an.
DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.







