Jejak Kata – Gde Siriana Yusuf
Ketika Tradisi Lisan Bertemu Ilmu Politik: Erupsi Gunung dan Budak Angon
Ada masa ketika masyarakat mulai mencari makna di balik rangkaian peristiwa yang tampaknya tidak saling berhubungan. Alam bergolak. Gunung-gunung api mengalami erupsi dalam waktu yang berdekatan. Pada saat yang sama, tekanan ekonomi terasa semakin berat, kehidupan rakyat semakin sulit, ketidakpuasan terhadap elite meningkat, dan ketegangan politik terus membayangi kehidupan publik.
Secara ilmiah, tentu saja, letusan gunung api adalah fenomena geologi. Tidak ada hubungan sebab-akibat antara aktivitas vulkanik dengan pergantian pemerintahan. Namun, dalam tradisi kebudayaan, manusia sejak lama membaca gejolak alam sebagai bagian dari bahasa simbolik tentang perubahan zaman. Di titik inilah Uga atau Wangsit Siliwangi kembali menarik perhatian.
Gunung Gede dan Tujuh Gunung
Dalam salah satu versi Uga Wangsit Siliwangi yang populer, terdapat kalimat: “Daréngékeun! Jaman bakal ganti deui. Tapi engké, lamun Gunung Gedé anggeus bitu, disusul ku tujuh gunung. Génjlong deui sajajagat.” Kurang lebih maknanya adalah: “Dengarkan! Zaman akan berganti lagi. Tetapi nanti, setelah Gunung Gede meletus, disusul oleh tujuh gunung. Gempar lagi seluruh dunia.”
Bagian tentang Gunung Gede dan tujuh gunung menjadi menarik dalam pembacaan masyarakat terhadap peristiwa-peristiwa hari ini. Ketika sejumlah gunung api mengalami erupsi dalam periode yang berdekatan, sebagian orang tentu melihatnya melalui kacamata simbolik Uga Siliwangi. Namun, apakah itu berarti ramalan tersebut sedang terbukti? Belum tentu. Justru di sinilah kita harus membedakan antara keyakinan budaya, tafsir simbolik, dan analisis ilmiah.
Gunung yang meletus tetap harus dijelaskan melalui ilmu vulkanologi. Tidak semua rangkaian peristiwa alam dapat dipaksakan menjadi pembuktian sebuah ramalan. Namun, fakta bahwa masyarakat menghubungkan gejolak alam dengan gejolak sosial menunjukkan sesuatu yang penting: masyarakat sedang merasakan bahwa mereka hidup dalam sebuah periode perubahan. Ketika kehidupan sosial dan politik terasa semakin tidak pasti, manusia cenderung mencari makna yang lebih besar di balik peristiwa-peristiwa yang mereka alami.
Budak Angon: Figur dari Pinggiran
Menariknya, dalam berbagai tafsir populer mengenai Uga Siliwangi, muncul pula figur Budak Angon. Secara harfiah, budak angon berarti anak penggembala. Namun, dalam pembacaan simbolik yang berkembang, Budak Angon bukan sekadar seorang anak yang menggembalakan ternak. Ia menjadi gambaran tentang figur yang datang dari luar pusat kekuasaan, dekat dengan kehidupan rakyat, bukan bagian dari elite mapan, dan mungkin sebelumnya tidak dianggap penting. Figur seperti ini muncul ketika keadaan sedang kacau dan membawa kemungkinan arah baru ketika sistem lama mulai kehilangan jawabannya.
Dengan demikian, Budak Angon dapat dibaca sebagai arketipe pemimpin dari pinggiran. Ia bukan semata-mata persoalan siapa orangnya dan tidak harus dicari dengan menunjuk satu nama tertentu. Ia adalah simbol tentang dari mana perubahan bisa datang. Ketika pusat kekuasaan mengalami kebuntuan, alternatif justru dapat muncul dari tempat yang sebelumnya tidak diperhitungkan.
Budak Angon dan Pemuda Janggotan
Dalam berbagai narasi dan penafsiran yang beredar juga muncul figur budak anu janggotan, atau pemuda yang berjanggut, yang dikaitkan dengan Budak Angon. Dalam tafsir populer, figur Pemuda Janggotan sering dipahami sebagai sosok yang membawa energi baru dalam perubahan. Ia dapat dimaknai sebagai representasi generasi baru, pelopor, kekuatan alternatif, atau figur yang berani keluar dari pola dan kemapanan lama serta menjadi bagian dari proses perubahan besar.
Namun, seperti banyak teks ramalan dan tradisi lisan lainnya, tafsir terhadap figur-figur tersebut tidak tunggal. Tidak ada alasan untuk secara sembarangan menunjuk seseorang dan menyatakan, “Inilah Budak Angon” atau “Inilah Pemuda Janggotan.” Justru kekuatan simbol tersebut terletak pada sifatnya sebagai arketipe. Ia bukan terutama berbicara tentang identitas seseorang, melainkan tentang tipe figur dan kekuatan sosial-politik yang dapat muncul ketika sebuah zaman sedang mengalami keguncangan.
Ketika Tradisi Lisan Bertemu Ilmu Politik
Di sinilah pembacaan tradisi lisan menjadi menarik ketika dipertemukan dengan ilmu politik. Dalam bahasa Uga Siliwangi, ketika zaman mengalami keguncangan, masyarakat membayangkan munculnya figur Budak Angon. Dalam bahasa ilmu politik modern, ketika terjadi tekanan ekonomi, ketidakpuasan sosial, dan menurunnya kepercayaan terhadap elite, dapat muncul political outsider atau figur alternatif yang sebelumnya tidak berada di pusat kekuasaan.
Figur semacam itu memperoleh legitimasi justru karena dianggap bukan bagian dari masalah lama. Sejarah politik menunjukkan bahwa perubahan besar sering tidak dimulai ketika sebuah sistem benar-benar runtuh. Perubahan justru mulai berlangsung ketika masyarakat kehilangan keyakinan bahwa sistem yang ada masih mampu memperbaiki dirinya sendiri. Ketika kepercayaan itu mulai hilang, ruang politik terbuka bagi kekuatan baru, figur baru, atau konfigurasi kekuasaan yang sebelumnya tidak diperhitungkan.
Gunung yang Meletus dan Tekanan yang Menumpuk
Karena itu, persoalan sebenarnya bukan apakah tujuh gunung yang mengalami erupsi merupakan bukti bahwa Uga Siliwangi sedang menjadi kenyataan. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah Indonesia sedang mengalami tekanan sosial-politik yang menyerupai sebuah gunung berapi.
Di bawah permukaan kehidupan masyarakat, berbagai tekanan terus menumpuk: biaya hidup, persoalan lapangan pekerjaan, ketimpangan ekonomi, kekecewaan terhadap elite, menurunnya kepercayaan kepada institusi, hingga polarisasi politik. Semua itu tentu tidak secara otomatis menghasilkan perubahan politik. Namun, dalam ilmu politik, tekanan yang terus menumpuk dapat menjadi sangat penting ketika bertemu dengan dua faktor lain, yaitu krisis legitimasi dan perpecahan elite.
Rakyat yang mengalami kesulitan ekonomi belum tentu menghasilkan perubahan politik. Namun, ketika kesulitan ekonomi berubah menjadi kemarahan sosial, kemarahan sosial berkembang menjadi krisis kepercayaan, dan pada saat yang sama elite mulai kehilangan kesatuan, sebuah sistem dapat memasuki fase transisi. Tekanan ekonomi, ketidakpuasan publik, dan fragmentasi elite dapat bersama-sama menciptakan kemungkinan perubahan konfigurasi kekuasaan.
Menunggu Budak Angon?
Mungkin karena itulah Uga Siliwangi kembali terdengar relevan bagi sebagian orang. Bukan karena kita harus percaya bahwa gunung api sedang mengirimkan pesan politik, melainkan karena simbol-simbol dalam Uga tersebut berbicara tentang sesuatu yang terus berulang dalam sejarah: ketika sebuah zaman mengalami keguncangan, masyarakat mulai mencari figur baru.
Figur itu biasanya tidak lahir dari kemapanan. Ia tidak terlalu terikat pada kepentingan elite lama, dianggap memahami kehidupan rakyat, dan mampu menawarkan arah ketika sistem yang ada mulai kehilangan narasi. Dalam bahasa Uga Siliwangi, masyarakat mungkin menyebutnya Budak Angon. Dalam ilmu politik, kita mungkin menyebutnya political outsider. Namun, keduanya berbicara tentang kemungkinan yang sama: bahwa ketika elite lama gagal memperbarui sistem, perubahan dapat datang dari tempat yang sebelumnya tidak diperhitungkan.
Maka, mungkin pertanyaan yang paling penting hari ini bukanlah, “Siapa Budak Angon?” Pertanyaan yang lebih mendasar adalah, apakah kita sedang memasuki zaman ketika masyarakat mulai membutuhkan Budak Angon?
Sebab dalam sejarah, ketika sebuah sistem tidak lagi mampu memperbaiki dirinya sendiri, masyarakat hampir selalu mulai mencari seseorang—atau sebuah kekuatan—yang mampu menawarkan jalan baru. Dan mungkin, itulah makna paling politik dari sebuah wangsit tentang zaman yang berganti: bukan ramalan tentang siapa yang akan datang, melainkan peringatan tentang kapan sebuah masyarakat mulai siap untuk mencari penggantinya.
6 September 2026
DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.







