Said Didu Ungkap 6 Kemarahan Rakyat terhadap Kepemimpinan Prabowo: Soroti Geng SOP hingga MBG
INDOVIEWNEWS.COM— Mantan Sekretaris Kementerian BUMN Muhammad Said Didu mengungkap enam persoalan yang menurutnya berpotensi memicu kemarahan masyarakat terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Said Didu menilai berbagai persoalan tersebut perlu menjadi perhatian serius pemerintah. Ia menyebut keresahan itu datang dari sejumlah kelompok masyarakat, mulai dari rakyat miskin, kelas menengah, aktivis dan pendukung Prabowo, hingga para pemimpin daerah.
Dalam pernyataannya pada Senin, 14/9/2026, Said Didu juga mengaitkan situasi tersebut dengan apa yang ia sebut sebagai “Geng SOP”.
Menurut Said Didu, Presiden Prabowo menghadapi persoalan karena dinilai belum mampu melepaskan diri dari pengaruh kelompok yang disebutnya sebagai Geng SOP.
“Bapak Presiden @prabowo yang terhormat, ada 6 (enam) kemarahan yang dapat dimanfaatkan oleh Geng SOP utk ambil alih kekuasaan,” kata Said Didu.
Ia kemudian merinci enam sumber kemarahan yang menurutnya berkembang di tengah masyarakat.
1. Kemarahan rakyat miskin yang makin miskin
Said Didu menyebut kemarahan pertama berasal dari kelompok masyarakat miskin yang menurutnya menghadapi kondisi ekonomi semakin sulit.
Ia menilai persoalan daya beli dan kesejahteraan masyarakat bawah dapat menjadi sumber tekanan politik apabila tidak segera mendapatkan perhatian pemerintah.
“Kemarahan rakyat miskin yang makin miskin,” ujar Said Didu.
Menurut dia, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena kelompok masyarakat berpenghasilan rendah merupakan salah satu kelompok yang paling rentan merasakan dampak tekanan ekonomi.
2. Kemarahan kelas menengah karena kesulitan mendapatkan BBM
Sumber kemarahan kedua, kata Said Didu, berasal dari kelompok kelas menengah.
Ia menyoroti persoalan akses terhadap bahan bakar minyak (BBM) yang menurutnya dapat menimbulkan keresahan apabila masyarakat mengalami kesulitan untuk mendapatkannya.
“Kemarahan kelas menengah yang kesulitan mendapatkan BBM,” kata Said Didu.
Persoalan BBM, menurut dia, memiliki dampak luas karena berkaitan langsung dengan mobilitas masyarakat serta aktivitas ekonomi sehari-hari.
3. Kemarahan oligarki hitam karena ditertibkan
Said Didu juga menyoroti kelompok yang ia sebut sebagai “oligarki hitam”.
Menurut dia, penertiban terhadap kelompok-kelompok yang selama ini menikmati kepentingan ekonomi tertentu dapat memunculkan resistensi.
“Kemarahan oligarki hitam karena ditertibkan,” ujar Said Didu.
Ia menilai kelompok tersebut berpotensi menjadi salah satu kekuatan yang memanfaatkan keresahan apabila kebijakan pemerintah dianggap mengganggu kepentingan mereka.
4. Kemarahan aktivis dan pendukung Prabowo
Said Didu selanjutnya menyinggung kelompok aktivis serta pendukung Presiden Prabowo.
Ia mengatakan sebagian pendukung Prabowo mulai mengalami frustrasi karena menilai Presiden belum mampu keluar dari pengaruh atau mekanisme yang ia sebut sebagai “Geng SOP”.
“Kemarahan aktivis dan pendukung Prabowo yang mulai frustrasi karena Presiden Prabowo tidak bisa lepas dari geng SOP,” kata Said Didu.
Menurut Said Didu, kekecewaan dari kelompok yang sebelumnya memberikan dukungan politik kepada Prabowo juga perlu diperhatikan pemerintah.
5. Kemarahan pemimpin daerah akibat pemotongan dana daerah
Kemarahan kelima, menurut Said Didu, berasal dari para pemimpin daerah.
Ia menyoroti kebijakan terkait pemotongan atau pengurangan anggaran daerah yang dinilainya dapat memicu ketidakpuasan di tingkat pemerintah daerah.
“Kemarahan pemimpin daerah karena pemotongan dana daerah,” ujar Said Didu.
Persoalan hubungan fiskal antara pemerintah pusat dan daerah menjadi salah satu isu yang sensitif karena berkaitan dengan kemampuan daerah menjalankan program pembangunan serta pelayanan kepada masyarakat.
6. Kemarahan atas pelaksanaan MBG
Said Didu juga memasukkan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu sumber kemarahan.
Ia menilai persoalan dalam pelaksanaan program tersebut dapat memunculkan kekecewaan apabila implementasinya tidak berjalan sesuai harapan.
“Kemarahan atas amburadulnya pelaksanaan MBG,” kata Said Didu.
Program MBG sendiri merupakan salah satu program prioritas pemerintahan Prabowo. Pemerintah sebelumnya menyatakan program tersebut ditujukan untuk meningkatkan pemenuhan gizi masyarakat sekaligus mendukung pembangunan sumber daya manusia.
Said Didu: Pemerintah Perlu Waspada
Dengan enam persoalan tersebut, Said Didu mengingatkan Presiden Prabowo agar tidak mengabaikan akumulasi keresahan dari berbagai kelompok masyarakat.
Ia berpandangan bahwa kemarahan yang muncul dari kelompok-kelompok berbeda dapat dimanfaatkan oleh kekuatan politik tertentu untuk membangun tekanan terhadap pemerintahan.
“Bapak Presiden @prabowo yang terhormat, ada 6 (enam) kemarahan yang dapat dimanfaatkan oleh Geng SOP utk ambil alih kekuasaan,” kata Said Didu.
Pernyataan Said Didu tersebut merupakan pandangan dan analisis politik pribadinya. Adapun istilah “Geng SOP” yang digunakannya juga sebelumnya pernah muncul dalam pernyataan Said Didu terkait dinamika politik di sekitar pemerintahan Prabowo.
Di sisi lain, pemerintah terus menjalankan sejumlah program prioritas Presiden Prabowo, termasuk MBG. Karena itu, penilaian mengenai efektivitas kebijakan serta tingkat keresahan masyarakat tetap perlu dilihat berdasarkan data, kondisi lapangan, dan tanggapan dari pihak-pihak terkait.
DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.






