spot_img
spot_img
Rabu, Oktober 7, 2026
BerandaOpiniWajah Masa Depan Sepak Bola Indonesia

Wajah Masa Depan Sepak Bola Indonesia

spot_img

Wajah Masa Depan Sepak Bola Indonesia

Wajah pemain Thailand mirip wajah pemain Indonesia.

Wajah pemain Indonesia sendiri? Belum tentu mencerminkan wajah Indonesia.

Untung ada Rizky Ridho dan Egy Maulana Vikri.

Mereka menyelamatkan kita dari kekalahan semalam di FIFA ASEAN Cup 2026.

Menang, iya.

Mudah? Tidak.

Padahal, sebagian besar pemain kita sudah naturalisasi.

Nah, di sinilah persoalannya.

Bukan soal wajah.

Bukan pula soal naturalisasi.

Pertanyaannya lebih sederhana: sebenarnya kita sedang membangun sepak bola Indonesia dengan cara apa?

Kalau target kita Piala Dunia, barangkali kita perlu belajar dari Jepang dan Korea Selatan.

Thailand dan Vietnam juga menarik untuk dilihat.

Mereka tidak menjadikan naturalisasi sebagai jalan utama membangun tim nasional.

Mereka membangun pemain.

Dari bawah.

Dari anak-anak.

Ada sekolah sepak bola. Ada kompetisi. Ada jenjang. Ada pembinaan. Ada kaderisasi.

Dan yang paling penting: ada waktu.

Sepak bola ternyata tidak jauh berbeda dengan membangun manusia.

Tidak bisa pagi ditanam, sore dipanen.

Naturalisasi memang bisa membantu.

Saya tidak mempersoalkan itu.

Tetapi naturalisasi seharusnya menjadi pelengkap. Bukan tulang punggung.

Sebab kalau tim nasional terlalu bergantung kepada pemain yang didatangkan dari luar, lalu apa yang terjadi dengan sistem pembinaan kita sendiri?

Apakah kita masih membangun pemain Indonesia?

Atau kita sedang membangun tim nasional dengan cara belanja pemain?

Pertanyaan ini memang tidak enak.

BACA JUGA :  Sel Mewah di Lapas: Saatnya Negara Memperbaiki Sistem Pengawasan

Tetapi pertanyaan yang tidak enak kadang justru perlu diajukan.

Sebab pemain naturalisasi juga bukan jaminan kemenangan.

Kalau naturalisasi otomatis membuat sebuah negara hebat, tentu setiap pertandingan akan mudah dimenangkan.

Nyatanya tidak.

Sepak bola tetap sepak bola.

Ada lawan. Ada strategi. Ada stamina. Ada mental. Dan ada proses panjang sebelum seorang pemain menjadi pemain besar.

Jepang memahami itu.

Korea Selatan memahami itu.

Thailand memahami itu.

Vietnam juga memahami itu.

Mereka membangun manusia sepak bola.

Kita jangan sampai hanya membangun hasil pertandingan.

⸻

Sebenarnya ini bukan hanya soal sepak bola.

Bulu tangkis sudah lama memberi contoh.

Panahan juga.

Ada atlet-atlet Indonesia yang menjadi juara bukan karena muncul tiba-tiba ketika sudah dewasa.

Mereka dibina.

Dilatih.

Dikalahkan.

Menang lagi.

Kalah lagi.

Dilatih lagi.

Begitu seterusnya.

Sampai akhirnya menjadi juara.

Jadi, juara itu bukan makanan cepat saji.

Tidak bisa dipesan hari ini dan disajikan besok.

Juara juga membutuhkan dapur.

Dapur itu bernama pembinaan.

⸻

Dulu kita pernah mengenal gagasan pembangunan sumber daya manusia yang berjenjang dan terarah.

Ada proses.

Ada tahapan.

Ada orientasi jangka panjang.

Mungkin sistemnya bisa diperdebatkan.

Tetapi satu hal tidak bisa dibantah: pembangunan manusia memang membutuhkan kesabaran.

Begitu pula olahraga.

Kalau semuanya ingin serba cepat, jangan kaget kalau hasilnya juga cepat hilang.

Kita sering ingin juara.

Tetapi kurang sabar membangun calon juara.

BACA JUGA :  Defiyan Cori: RUU Migas Harus Pastikan Penguasaan Negara, Pertamina Kuasai Seluruh Ekosistem

Kita ingin hasil.

Tetapi sering tidak sabar menjalani proses.

Kita ingin masuk Piala Dunia.

Tetapi pertanyaannya: apakah sistem pembinaan kita memang sudah dirancang untuk melahirkan pemain Piala Dunia?

Atau kita hanya sibuk mencari pemain yang sudah jadi?

⸻

Di sinilah persoalan sepak bola menjadi lebih besar daripada sepak bola.

Ketika segala sesuatu diukur dengan popularitas, uang dan hasil instan, nasionalisme pun bisa menjadi kabur.

Pernah ada ungkapan: uang tidak mengenal nasionalisme.

Benar.

Tetapi olahraga nasional semestinya tidak kehilangan nasionalisme.

Bukan berarti kita harus menolak pemain naturalisasi.

Tidak.

Tetapi kita harus tahu batas.

Naturalisasi boleh menjadi strategi.

Jangan sampai berubah menjadi ketergantungan.

Dan jangan sampai ketergantungan kemudian dianggap sebagai prestasi.

Tim nasional seharusnya bukan etalase hasil belanja pemain.

Tim nasional adalah etalase hasil pembinaan sebuah bangsa.

⸻

Maka jangan hanya bertanya:

“Kapan Indonesia juara?”

Ada pertanyaan yang lebih penting:

“Kapan Indonesia serius membangun sistem yang melahirkan juara?”

Jawabannya memang tidak bisa besok.

Mungkin lima tahun.

Mungkin sepuluh tahun.

Mungkin lebih.

Tetapi kalau prosesnya benar, suatu saat kita tidak perlu lagi bertanya siapa pemain yang harus dinaturalisasi.

Kita akan sibuk memilih pemain Indonesia terbaik dari begitu banyak pemain Indonesia yang lahir dari sistem pembinaan Indonesia.

Itulah wajah masa depan sepak bola kita.

BACA JUGA :  Muslihat di Senayan: Bagaimana RUU Perampasan Aset Berbalik Menjadi Senjata Penjarah Harta Rakyat

Bukan sebelas pemain yang kebetulan menang.

Tetapi sebuah sistem yang terus-menerus melahirkan juara.

Bukan juara cepat saji.

Melainkan juara yang lahir dari pembinaan.

Karena yang kita bangun bukan sekadar sebuah tim.

Kita sedang membangun manusia Indonesia.

Dan kalau manusianya dibangun dengan benar, prestasi akan datang sebagai konsekuensi.

Bukan sebagai kebetulan.

Pada akhirnya, jika manusianya dibangun dengan benar, saya teringat lagu kebangsaan kita!

Lagu nasionalisme yang sering kita kumandangkan. Jangan sampai tanpa makna, yaitu:

Bangunlah Jiwanya..Bangunlah Raganya…Untuk Indonesia Raya…

Jiwa memang sangatlah penting sebagai dasar utama yang kokoh, sebelum membangun RAGANYA. Itulah yang menggerakkan SEMANGAT bukan sebatas UANG!

Oleh : Defiyan Cori.


DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

BACA JUGA :  Rocky Gerung, Syahganda Nainggolan, dan Ujian Idealisme di Balik Pagar Kekuasaan
spot_img
Must Read
spot_img
Populer
spot_img