Jarwo vs Jarwi? M Rizal Fadillah Soroti Dugaan Pertarungan Jaringan Prabowo dan Jokowi
INDOVIEWNEWS.COM — Pemerhati Politik dan Kebangsaan M Rizal Fadillah menyoroti dinamika hubungan antara kelompok yang ia sebut sebagai “Jarwo” atau Jaringan Prabowo dan “Jarwi” atau Jaringan Jokowi. Menurut Rizal, relasi kedua kelompok tersebut yang semula berada dalam posisi “cs” atau berkawan, kini dinilai mulai bergerak menuju persaingan politik.
Dalam tulisannya bertanggal 26 Agustus 2026 berjudul “JARWO CS JARWI ATAU JARWO VS JARWI”, Rizal menjelaskan bahwa istilah Jarwo digunakan untuk menyebut jaringan politik yang terkait dengan Prabowo, sedangkan Jarwi merujuk pada jaringan Jokowi.
“Jarwo adalah Jarigan Prabowo sedangkan Jarwi itu Jaringan Jokowi,” tulis Rizal.
Ia menyebut Jarwo sebagai kekuatan yang menggalang dukungan bagi Prabowo pasca menjabat sebagai Presiden, sementara Jarwi disebut sebagai jaringan yang telah terkonsolidasi sejak era Jokowi hingga pemerintahan Prabowo.
Menurut Rizal, pada awal pemerintahan Prabowo, kedua jaringan tersebut masih memiliki kepentingan bersama.
“Dipastikan di awal masa jabatan Prabowo, Jarwo dan Jarwi itu cum suis (cs) atau berkawan. Wapres Gibran menjadi irisan dari kebersamaan antara keduanya. Bersatu dalam menghadapi lawan,” tulisnya.
Namun, Rizal menilai hubungan tersebut kemudian mengalami perubahan seiring perkembangan politik. Ia menyebut Jarwo mulai mencurigai Jarwi, sementara Jarwi disebut meragukan loyalitas Jarwo.
“Pertemanan goyah dan masing-masing mulai mencari celah,” tulis Rizal.
Soroti Budi Arie dan Jokowi
Rizal juga menyinggung pernyataan politik Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi bersama Jokowi dalam sebuah pertemuan. Menurut dia, pernyataan tersebut dapat dibaca sebagai sinyal politik dari jaringan Jokowi.
“Pernyataan politik Ketum Projo Budi Arie Setiadi bersama Jokowi dalam suatu pertemuan menggambarkan Jarwi yang bersiap menikam Jarwo,” tulis Rizal.
Ia bahkan mengaitkan dinamika tersebut dengan isu percepatan pergantian kepemimpinan nasional.
“Pergantian kepemimpinan dipercepat dan tidak perlu menunggu tahun 2029,” tulisnya.
Rizal kemudian menyoroti rencana aksi demonstrasi pada 27 Agustus 2026 yang disebut melibatkan masyarakat Pati, Madura, dan kelompok lainnya. Ia memandang aksi tersebut sebagai salah satu fenomena yang menunjukkan memanasnya situasi politik.
“Gerakan 27 Agustus 2026 aksi demo masyarakat Pati, Madura, dan lainnya adalah fenomena bahwa situasi politik memanas,” tulis Rizal.
Ia berpendapat bahwa perubahan politik tidak semestinya hanya dilihat melalui Pemilu 2029. Dalam analisisnya, Rizal bahkan memprediksi pemerintahan Prabowo menghadapi persoalan serius untuk bertahan hingga 2029.
“Jarwo diprediksi tidak akan kuat bertahan hingga 2029. Take over adalah keniscayaan, Gibran harus segera naik ke atas singgasana,” tulisnya.
Singgung Relasi Prabowo-Jokowi
Lebih jauh, Rizal menggambarkan adanya pertarungan kepentingan di antara kedua jaringan tersebut. Ia mempertanyakan pihak mana yang akan mengambil langkah lebih dahulu apabila persaingan benar-benar terbuka.
“Jarwi melihat Jarwo akan konsolidasi untuk memperkuat. Mungkin dalam benaknya bertanya siapa lebih dulu yang akan menembak,” tulis Rizal.
Rizal juga mempertanyakan posisi institusi keamanan dalam konstruksi politik yang ia gambarkan tersebut dengan menyebut, “Bukankah pimpinan Polisi dan TNI kini masih menjadi bagian dari Jarwi?”
Ia kemudian menyebut aksi jalanan sebagai “tembakan pertama percepatan”, sebuah istilah yang dalam konteks tulisannya digunakan untuk menggambarkan tekanan politik melalui mobilisasi massa.
Rizal juga menggunakan bahasa yang sangat keras ketika membahas kemungkinan perubahan kepemimpinan, termasuk kalimat, “Mudah kok untuk cepat naikkan Gibran, turunkan saja Prabowo.”
Dalam bagian lain, “Rizal kemudian menggunakan bahasa yang sangat keras untuk menggambarkan kemungkinan pergantian atau perubahan kepemimpinan nasional.”
Jarwo Masih Punya Harapan?
Menjelang aksi 27 Agustus 2026, Rizal mempertanyakan apakah hubungan kedua jaringan tersebut masih dalam posisi “cs” atau telah berubah menjadi “vs”.
“Mulai besok 27 Agustus 2026 akan terbaca arah permainan apakah Jarwo itu masih cs Jarwi atau sudah tahap Jarwo vs Jarwi?” tulisnya.
Menurut Rizal, apabila kedua kelompok tersebut masih berada dalam posisi bersama, masyarakat justru harus mempertimbangkan untuk menolak keduanya. Namun jika telah terjadi pertarungan terbuka, ia menilai Jarwo masih memiliki peluang untuk diperbaiki.
“Jika masih cs rakyat harus berhitung untuk membuang keduanya demi kebaikan ke depan, tetapi jika vs maka Jarwo lah yang masih punya harapan. Rakyat lebih muak dengan gaya dan kinerja Jarwi. Jarwo mungkin masih bisa diperbaiki,” tulis Rizal.
Ia menutup analisisnya dengan mempertanyakan arah politik nasional dan apakah kepentingan rakyat benar-benar menjadi orientasi utama.
“Kita tunggu besok apakah politik itu masih berorientasi pada kepentingan rakyat atau permanen dalam menipu, mempermainkan, dan mengorbankan rakyat,” tulis Rizal.
Tulisan M Rizal Fadillah tersebut merupakan analisis dan opini politik pribadi. Sejumlah klaim mengenai keberadaan “Jarwo”, “Jarwi”, dugaan konsolidasi politik, maupun keterlibatan institusi tertentu sebagaimana ditulis dalam artikel tersebut belum disertai bukti independen yang dapat memverifikasi seluruh konstruksi politik yang dikemukakan.
Hingga berita ini diterbitkan, belum terdapat tanggapan dari Presiden Prabowo Subianto, Presiden ke-7 RI Joko Widodo, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, maupun Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi mengenai analisis Rizal Fadillah tersebut.
Redaksi menempatkan tulisan ini sebagai pandangan dan analisis narasumber, bukan sebagai konfirmasi atas tudingan atau prediksi politik yang disampaikan.






