spot_img
spot_img
Senin, September 14, 2026
BerandaPolitikPengamat Kebijakan: Pendemo Dibenturkan dengan Pendukung Penguasa, Pola Kolonial yang Terus Berulang

Pengamat Kebijakan: Pendemo Dibenturkan dengan Pendukung Penguasa, Pola Kolonial yang Terus Berulang

spot_img

Pengamat Kebijakan: Pendemo Dibenturkan dengan Pendukung Penguasa, Pola Kolonial yang Terus Berulang

INDOVIEWNEWS.COM– Pengamat kebijakan publik Gigin Praginanto menyoroti pola kekuasaan dalam menghadapi gelombang demonstrasi yang dinilainya terus berulang dari masa ke masa. Salah satu pola yang dikritiknya adalah strategi membenturkan kelompok demonstran dengan pihak-pihak yang dianggap sebagai pendukung penguasa.

Menurut Gigin, pola tersebut bukanlah sesuatu yang baru dalam sejarah politik dan kekuasaan di Indonesia. Bahkan, ia menilai strategi serupa telah dikenal sejak masa kolonial.

“Tak ada yang baru dari strategi membenturkan pendemo dengan pendukung penguasa. Pola ini sudah terjadi sejak zaman kolonial. Artinya, kolonialisme tidak pergi dari negeri ini,” kata Gigin Praginanto, Jumat (28/8/2026).

Pernyataan itu menjadi sorotan karena mengaitkan fenomena politik dan penanganan demonstrasi saat ini dengan warisan pola kekuasaan masa lalu. Dalam pandangan Gigin, perubahan zaman dan pergantian rezim tidak serta-merta menghapus cara-cara lama dalam merespons kritik dan gerakan masyarakat.

BACA JUGA :  Pengamat Kebijakan Publik Sindir Prabowo ke Rusia Saat Hutan Terbakar, Makin Luas, Makin Bagus untuk Sawit

Ia juga menyinggung pengalaman pada masa Orde Baru. Menurutnya, setiap kali muncul demonstrasi atau gerakan protes dari masyarakat, pihak yang berkuasa kerap membangun narasi bahwa terdapat pihak tertentu yang “menunggangi” aksi tersebut.

“Zaman Orba, setiap ada demo pihak yang berkuasa selalu menuding ada yang menunggangi. Pola ini terus berulang sampai sekarang,” ujarnya.

Bagi Gigin, persoalan mendasar yang seharusnya mendapat perhatian justru bukan sekadar mencari siapa aktor di balik demonstrasi. Pemerintah dan pemegang kekuasaan, kata dia, perlu melihat akar persoalan yang mendorong masyarakat turun ke jalan.

Ia menyebut sejumlah persoalan sosial dan ekonomi yang menurutnya belum terselesaikan, mulai dari pengangguran, kemiskinan hingga dugaan penyalahgunaan kekuasaan.

BACA JUGA :  Pengamat: Penyerang Demo UGM dan Pembantai Bambang Setiawan Bukan Massa Dadakan, Diduga Terlatih

“Karena masalah pokok tidak teratasi, yaitu pengangguran, kemiskinan, penyalahgunaan kekuasaan,” tegasnya.

Menurut Gigin, selama persoalan-persoalan mendasar tersebut tidak ditangani secara serius, potensi munculnya aksi protes akan tetap terbuka. Demonstrasi, dalam konteks ini, dapat dipandang sebagai ekspresi kekecewaan masyarakat terhadap persoalan yang mereka hadapi.

Karena itu, ia mengingatkan agar setiap kritik dan demonstrasi tidak serta-merta dipersepsikan sebagai ancaman terhadap kekuasaan atau selalu dikaitkan dengan kepentingan pihak tertentu. Yang lebih penting, menurutnya, adalah mendengarkan substansi tuntutan dan melakukan evaluasi terhadap kebijakan yang menjadi sumber kegelisahan masyarakat.


DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

BACA JUGA :  Andrianto: Pernyataan Budi Arie di Depan Jokowi Jadi Sinyal Projo Ingin Gulingkan Prabowo
spot_img
Must Read
spot_img
Populer
spot_img