spot_img
spot_img
Minggu, September 13, 2026
BerandaOpiniJangkar yang Tak Pernah Bergeser

Jangkar yang Tak Pernah Bergeser

spot_img

Jangkar yang Tak Pernah Bergeser

(Mengenang Airlangga Pribadi Kusman, 1976 sampai 2026)

Oleh Mohamad Nabil

Penulis adalah peneliti CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan alumnus pasca sarjana STF Driyarkara

Pertemuan pertama saya dengan Airlangga Pribadi Kusman terjadi pada pertengahan dekade 2000-an, di ruang diskusi kampus yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa tingkat jurusan. Ia datang bersama koleganya, rekan yang menulis buku itu bersamanya. Buku tersebut menggugat arus pemikiran Islam Liberal yang saat itu sedang berada di puncak pengaruhnya. Yang membuat pertemuan itu melekat dalam ingatan adalah asal-usul permintaannya. Angga sendiri yang meminta agar bukunya dibedah oleh kami, mahasiswa yang belum menyelesaikan studi sarjana, tanpa perantara penerbit dan tanpa senior yang menjembatani.

Ia baru saja merampungkan studi magister di Universitas Indonesia. Secara akademik dan secara usia, jarak antara dia dan kami cukup lebar. Namun sepanjang forum itu ia duduk mendengarkan kritik yang mentah, argumen yang setengah matang, dan keberanian yang jauh melampaui bacaan. Ia menjawab semuanya dengan kesungguhan yang sama seolah sedang berhadapan dengan penguji sebayanya.

Belakangan saya memahami bahwa itulah pendiriannya yang paling konsisten sepanjang hidup. Ia tidak pernah menghitung terlebih dahulu siapa yang layak diajak berpikir.

Angga lahir di Jombang pada 23 November 1976. Ia tumbuh dalam gelombang aktivisme mahasiswa dan tercatat sebagai bagian dari generasi 1998, generasi yang menurunkan rezim dan kemudian menghadapi persoalan yang jauh lebih rumit, yaitu bagaimana mengisi ruang yang telah terbuka. Sebagian dari generasi itu memilih masuk ke dalam struktur kekuasaan. Angga memilih tetap berada di ruang akademik dan ruang publik, dua tempat yang jarang menjanjikan imbalan setimpal.

BACA JUGA :  Sembilan Usulan Pokok untuk UU Ketenagakerjaan Baru

Perjumpaan kami berlanjut secara tidak beraturan setelah itu. Kadang di Surabaya, tempat ia mengajar di Departemen Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga. Kadang di Jakarta, di forum-forum Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Universitas Paramadina, lingkungan intelektual yang dibentuk oleh nama-nama seperti Dr. Yudi Latif dan Dr. Herdi Sahrasad.

Di ruang itu Angga menemukan tradisi berpikir yang cocok dengan wataknya, tempat kajian keislaman, kenegaraan, dan demokrasi dibicarakan tanpa perlu meminta izin lebih dahulu kepada pemegang kuasa. Ia juga pernah memimpin Departemen Sosial dan Keagamaan di Soegeng Sarjadi Syndicated serta menjadi Ketua Departemen Acara Ikatan Ilmuwan Politik Indonesia Jawa Timur.
Kemudian ia berangkat ke Murdoch University, Australia, dan menyelesaikan program doktoral dalam bidang politik pada 2016. Tradisi ekonomi politik kritis yang tumbuh di lingkungan itu membentuk cara bacanya secara permanen. Ia pulang dengan perangkat analisis yang jauh lebih tajam, dan pada 2019 Palgrave Macmillan menerbitkan karyanya, The Vortex of Power, yang menelusuri posisi kaum intelektual dalam konfigurasi kekuasaan Indonesia pascaotoritarianisme. Buku itu, dalam banyak hal, merupakan percakapan panjang dengan dirinya sendiri tentang di mana seorang cendekiawan sebaiknya berdiri.

Tahun-tahun studi doktoral itu tidak ringan baginya. Angga termasuk orang yang mudah akrab dan mudah terbuka. Ia memiliki kebiasaan menyelipkan hal-hal personal di tengah perbincangan tentang oligarki dan demokrasi, seakan dua wilayah itu memang tidak perlu dipisahkan. Dari percakapan semacam itu saya tahu bahwa perjalanan akademiknya menuntut harga yang harus ia bayar di ruang yang paling privat. Ada hal-hal yang tidak bertahan melewati jarak dan waktu tempuh yang panjang. Ia menanggung bagian itu dengan cara yang sama seperti ia menanggung hal lain, tanpa mengeluh di ruang publik dan tanpa menjadikannya alasan untuk berhenti.

BACA JUGA :  Tambang Untuk Ormas: Ketika Izin Menjadi Tameng Kebijakan Rezim

Justru di titik itu keteguhannya paling terlihat. Angga memiliki seluruh modal yang dibutuhkan untuk berpindah jalur. Ia dikenal luas, dipercaya banyak pihak, dan pernah berada cukup dekat dengan pusat pengambilan keputusan. Ia tercatat sebagai anggota tim seleksi Komisi Pemilihan Umum dan Badan Pengawas Pemilu, serta pernah menjadi staf ahli di Kementerian Desa dan Transmigrasi. Ia tahu persis pintu mana yang bisa diketuk dan siapa yang akan membukakannya. Godaan itu nyata dan berulang sepanjang dua dekade terakhir.
Ia memilih tetap berdiri di tempat yang sama. Ia kembali ke ruang kelas, memimpin Program Studi Magister Ilmu Politik di almamater tempatnya mengajar, dan terus menjawab pertanyaan wartawan dengan analisis yang tidak pernah asal.

Sampai bulan-bulan terakhir ia masih menyuarakan kekhawatiran tentang penyempitan ruang kebebasan berekspresi dan tentang pembungkaman suara mahasiswa di kampus. Bagi banyak orang di sekitarnya, ia berfungsi sebagai jangkar, tempat menguji kembali apakah suatu posisi masih bisa dipertahankan secara moral maupun secara intelektual.

Pada Rabu siang, 9 September 2026, Angga sedang berbincang dengan sejumlah rekannya di sebuah kafe di kawasan Stasiun Gambir, Jakarta. Ia tiba-tiba terjatuh dari kursi dan tidak sadarkan diri. Rekan-rekannya membawanya ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, tempat ia dirawat di ruang perawatan intensif dengan tekanan darah yang tercatat mencapai 240. Ia berpulang sekitar pukul 13.35 tanpa sempat sadar kembali, dalam usia 49 tahun. Jenazahnya disemayamkan di rumah duka di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan.

BACA JUGA :  Blakasuta NU

Ia pergi dalam keadaan sedang berbicara, dikelilingi kawan, di tengah percakapan yang belum selesai. Sulit membayangkan cara yang lebih sesuai dengan dirinya.

Dua puluh tahun lalu kami membedah bukunya di ruang kelas yang sempit. Kami membacanya dalam beberapa minggu. Orangnya ternyata membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk dibaca sampai tuntas, dan kini kami harus menyelesaikannya tanpa dia.

Selamat jalan, Mas Angga….


DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

BACA JUGA :  Tambang Untuk Ormas: Ketika Izin Menjadi Tameng Kebijakan Rezim
spot_img
Must Read
spot_img
Populer
spot_img