spot_img
spot_img
Sabtu, Oktober 10, 2026
BerandaHeadlineSaid Didu Soroti Tulisan Dahlan Iskan ‘Prabowo Mahathir’: Kedaulatan Ekonomi dari Tangan...

Said Didu Soroti Tulisan Dahlan Iskan ‘Prabowo Mahathir’: Kedaulatan Ekonomi dari Tangan Oligarki?

spot_img

Said Didu Soroti Tulisan Dahlan Iskan ‘Prabowo Mahathir’: Kedaulatan Ekonomi dari Tangan Oligarki?

INDOVIEWNEWS.COM, — Mantan Sekretaris BUMN Muhammad Said Didu menanggapi tulisan wartawan senior Dahlan Iskan berjudul “Prabowo Mahathir” yang membandingkan langkah Presiden Prabowo Subianto dengan kebijakan nasionalisasi ekonomi yang pernah dilakukan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad.

Dalam tanggapannya yang disampaikan kepada media pada 20 Agustus 2026, Said Didu menyoroti pertanyaan mengenai kemungkinan pemerintahan Prabowo Subianto menata kembali ekonomi Indonesia dengan pendekatan yang dinilainya memiliki kemiripan dengan langkah Mahathir.

Said Didu mengawali tanggapannya dengan merujuk langsung pada tulisan Dahlan Iskan.

“Tulisan Pak Dahlan Iskan menguraikan bagaimana ‘Nasionalisasi’ yg dilakukan oleh Mahathir Muhammad 1981 dengan pembelian perusahaan perkebunan kelapa sawit Guthrie Plantatian milik perusahaan Inggris oleh Pribumi Malaysia dengan pembelian tambang Batubara Bayan Resources – milik orang terkaya Indonesia Low Tuck Kwong oleh Haji Isam yang dilaksanakan saat rezim Prabowo.” urai Said Didu.

Menurut Said Didu, tulisan tersebut kemudian memunculkan pertanyaan mengenai arah kebijakan ekonomi pemerintahan Prabowo.

“Apakah Prabowo akan menata Ekonomi menjadi seperti yang dilakukan oleh Mahathir Muhammad untuk mengembalikan kedaulatan ekonomi dari tangan Oligarki ?” tanyanya menandaskan.

Said Didu kemudian menutup tanggapannya dengan pernyataan singkat yang menempatkan perkembangan kebijakan tersebut sebagai sesuatu yang masih harus ditunggu.

“Mari kita tunggu” tegasnya.

Tulisan Dahlan Iskan yang ditanggapi Said Didu :
Prabowo Mahathir
Oleh: Dahlan Iskan

Presiden Prabowo akan jadi Mahathir Mohamad-nya Indonesia?
Lihatlah langkah Mahathir di tahun 1981: Malaysia mengambil alih perusahaan perkebunan terbesar Inggris di Malaysia. Yakni Guthrie Plantation. Tahun berikutnya dua perusahaan Inggris lagi diambil alih: Golden Hope dan Sime Darby.

BACA JUGA :  Gerakan Cinta Prabowo: Kemungkinan Besar Budi Arie akan Jadi Tersangka

Nama Mahathir tidak muncul dalam transaksi menghebohkan dunia saat itu. Yang dipakai Mahathir adalah dua tokoh profesional perbankan: Tun Ismail Mohamad Ali dan Abdul Khaled Ibrahim. Saking hebohnya, pengambilalihan itu sampai dikenal dalam sejarah bisnis dengan sebutan “Serangan Fajar”: Dawn Raid.

Nama Prabowo juga tidak muncul dalam transaksi menghebohkan di Kalimantan pekan lalu: kendali PT Bayan Resources dibeli oleh Haji Isam –orang asli Kalsel keturunan Bugis Makassar.

Sama dengan yang dilakukan Mahathir: kilat. Mendadak. Tiba-tiba. Tahu-tahu perusahaan tambang batu bara terbesar di Indonesia itu pindah dari Low Tuck Kwong ke Haji Syamsuddin ‘Isam’ Arsyad.

Di tahun 1981 itu, Tun Ismail menjabat sebagai Gubernur Bank Sentral Malaysia. Khaled Ibrahim sebagai CEO BUMN Malaysia. Dua orang itulah yang merancang Serangan Fajar di London.

Di hari Jumat tanggal 4 September, pasar modal di London Stock Exchange masih normal. Saham Guthrie masih diperdagangkan dengan harga datar 662 sen Pound sterling.

Hari Sabtu dan Minggu bursa London libur.
Tapi sejumlah perusahaan broker saham di London tidak libur. Mereka mengadakan rapat-rapat rahasia dengan Ibrahim yang khusus datang ke London untuk mengendalikan Serangan Fajar itu langsung di lokasi.

Para broker itu secara sendiri-sendiri beroperasi menghubungi beberapa pemegang saham Guthrie. Satu broker menghubungi satu atau dua pemegang saham. Tidak saling tahu. Sangat rahasia.

Para broker itu menawarkan harga yang menggiurkan: 30 persen lebih mahal dari harga yang diperdagangkan di hari Jumat. Banyak pemegang saham yang tertarik untuk menjual. Transaksi rahasia pun terjadi sepanjang hari Sabtu dan Minggu.

Di hari Senin pagi, 7 September 1981, ketika perdagangan saham di lantai bursa dibuka terjadilah kejutan luar biasa: pemegang saham pengendali Guthrie Plantation sudah pindah tangan. Bukan lagi perusahaan Inggris. Tapi pindah ke orang bumiputra Malaysia.
Heboh seheboh-hebohnya. Inilah serangan nasionalisasi perusahaan Inggris di Malaysia.

BACA JUGA :  Said Didu Soroti BUMN Jadi Alat Kekuasaan, Minta Prabowo Wujudkan Reformasi

Di Malaysia sendiri dirasa sangat nasionalis: bisa mengembalikan 800 km2 tanah Malaysia yang dikuasai perusahaan Inggris. Ukuran itu tidak terlalu luas untuk ukuran lahan perkebunan di Indonesia. Tapi sangat simbolis bagi Malaysia.
Apakah setelah itu harga saham Guthrie jatuh? Tidak. Setelah itu harga saham Guthrie terus naik –seperti juga harga saham Bayan Resources setelah pindah ke tangan Haji Isam.

Nilai beli yang kemahalan 30 persen di transaksi Serangan Fajar sudah tertutupi oleh kenaikan harga saham.
Tahun berikutnya aksi lanjutan mampu dilakukan terhadap Golden Hope dan Sime Darby. Tiga perusahaan itu kemudian dijadikan satu holding yang sekarang dikenal dengan nama SD Guthrie Berhad.
Sejak Serangan Fajar itu berakhirlah penjajahan Inggris di Malaysia dalam arti yang sebenarnya: secara politik dan ekonomi. Lima tahun kemudian Guthrie keluar dari bursa saham London. Guthrie pindah ke pasar saham Kuala Lumpur.

Yang menarik, transaksi itu tidak mengguncangkan ekonomi Malaysia. Kenapa? Karena tidak terjadi nasionalisasi secara paksa. Tidak ada perampasan hak. Tidak ada rasa anti-Barat. Tidak pula anti kapitalisme. Transaksi itu dilakukan lewat bursa saham.

Inggris memang sangat terpukul dan heboh: perusahaan yang didirikan tahun 1821 itu jadi perusahaan bekas jajahannya. Tapi Inggris kemudian mengesahkan transaksi itu: fair, wajar, dan legal!

Itu berbeda dengan yang dilakukan Indonesia di tahun 1950-an: perusahaan Belanda dinasionalisasi begitu saja. Perusahaan-perusahaan Belanda itu lantas jadi perusahaan BUMN yang salah urus. Penuh korupsi. Memakan banyak uang negara.

Jelaslah bahwa yang dilakukan Mahathir di tahun 1981 itu sangat profesional. Yang ditunjuk sebagai operator Serangan Fajar pun orang yang sangat profesional meski Tun Ismail masih iparnya sendiri.

BACA JUGA :  Said Didu Soroti Oligarki: Mampukah Prabowo Membalikkan Keadaan?

Tun Ismail lulusan Cambridge, London. Ia tinggal lama di London karena tidak bisa pulang: dunia sedang terlibat perang dunia. Maka Tun Ismail mengerti benar budaya pasar modal di sana.

Sekarang SD Guthrie Berhad tetap menjadi perusahaan BUMN Malaysia yang ukurannya raksasa. Perkebunan sawit dan karetnya diperluas sampai Sabah, Serawak, dan Indonesia.

Tun Ismail sudah lama meninggal akibat serangan flu di usianya yang 79 tahun. Ia tidak tahu apakah Haji Isam berperan seperti dirinya di tahun 1981. Atau Haji Isam adalah Haji Isam berperan seperti dirinya di tahun 1981. Atau Haji Isam adalah Haji Isam sebagai pribadi dalam membeli 62 persen saham Low Tock Kwong di Bayan dengan harga Rp 300 triliun itu. (Dahlan Iskan)


DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

BACA JUGA :  Wartawan Senior Soroti Dugaan 'TN Connection' di Balik Kejatuhan Purbaya
spot_img
Must Read
spot_img
Populer
spot_img