spot_img
spot_img
Minggu, September 13, 2026
BerandaOpiniKawan, Pulanglah... Keluarga Menunggumu!

Kawan, Pulanglah… Keluarga Menunggumu!

spot_img

Kawan, Pulanglah… Keluarga Menunggumu!

Refleksi atas Hilangnya Lima Wartawan di Anak Krakatau

Oleh: M. Isa Ansori
Kolumnis dan Dosen, Wakil Ketua ICMI Jatim serta Dewan Penasehat LHKP PD Muhammadiyah Surabaya

Ada berita yang cukup kita baca. Ada pula berita yang membuat kita berhenti, menarik napas, lalu berdoa.

Hilangnya lima wartawan di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau adalah berita semacam itu.

M. Bagus Khoirunnas, Ari Basuki, Yudistiro Pranoto, Firdaus Wajidi, dan Donal Husni. Lima nama yang kini bukan sekadar nama dalam berita. Di baliknya ada lima keluarga, lima rumah, dan orang-orang yang sedang menunggu.

Mereka belum pulang.

Senin, 7 September 2026, mereka berangkat bersama tiga awak KM Arupadhatu 1 dari Carita menuju kawasan Gunung Anak Krakatau. Mereka menjalankan tugas jurnalistik: merekam erupsi dan menghadirkan informasi bagi masyarakat.

Mereka datang ketika alam sedang tidak bersahabat. Karena itulah profesi jurnalistik terkadang menuntut seseorang berada di tempat yang justru ingin dihindari banyak orang.

Kita melihat foto.

Kita membaca berita.

Kita menonton gambar.

Tetapi sering lupa bahwa di balik semua itu ada manusia yang mengambil risiko agar kita tahu apa yang sedang terjadi.

BACA JUGA :  Kabinet Bayangan, Fathimah Azzahra, dan Tradisi Menghidupkan Demokrasi

Itulah keberanian jurnalistik.

Namun keberanian tidak boleh berubah menjadi kenekatan.

Tidak ada berita yang lebih mahal daripada nyawa manusia.

Ketika komunikasi dengan mereka terputus, waktu berubah menjadi penantian panjang bagi keluarga.

Sore menjadi malam.

Malam menjadi pagi.

Hari berganti hari.

Dan keluarga tetap menunggu.

Tidak ada yang lebih menyiksa daripada kehilangan tanpa kepastian. Harapan masih ada, tetapi kecemasan juga tidak pernah pergi.

Di laut, pencarian dilakukan. Tim SAR bergerak. Kapal dan pesawat dikerahkan. Nelayan ikut membantu. Para jurnalis dan masyarakat menggelar doa.

Di tengah luasnya laut, solidaritas menjadi cahaya.

Ketika lima kawan belum pulang, mereka tidak dibiarkan sendirian.

Tetapi peristiwa ini tidak cukup hanya kita tangisi.

Ia harus menjadi pertanyaan:

Sudahkah keselamatan wartawan menjadi prioritas dalam kerja jurnalistik di Indonesia?

Wartawan yang bekerja di wilayah bencana harus dibekali pelatihan, perlengkapan keselamatan, komunikasi darurat, pelacakan lokasi, asuransi, sistem buddy, dan prosedur evakuasi yang jelas.

Perusahaan media dan negara harus memastikan keberanian wartawan tidak dibayar dengan nyawa.

Sebab berita dapat ditunda.

Berita dapat diperbarui.

Tetapi nyawa tidak dapat digantikan.

Jurnalis harus berani mencari kebenaran, tetapi kita semua harus memastikan mereka tetap selamat untuk menyampaikan kebenaran itu.

BACA JUGA :  Demokrasi Liberal - UUD 45/2002 : Sumber Utama Malapetaka Ketidak-adilan Sosial Rakyat Indonesia

Hari ini, 13 September 2026, pencarian masih berlangsung.

Karena itu, jangan mendahului takdir. Jangan mengubah hilang kontak menjadi kepastian kematian. Jangan memenuhi ruang publik dengan spekulasi.

Keluarga membutuhkan fakta.

Mereka membutuhkan doa.

Dan mereka membutuhkan harapan.

Selama pencarian belum berakhir, harapan belum boleh kita matikan.

Sebab lima nama ini jangan sampai hilang dua kali: hilang dari kontak, kemudian hilang dari ingatan.

Jika mereka ditemukan dan kembali, kita sambut dengan syukur.

Jika takdir berkata lain, kehilangan ini harus menjadi titik balik untuk membangun sistem keselamatan jurnalis yang lebih manusiawi.

Tetapi hari ini kita belum ingin berbicara tentang akhir.

Hari ini kita ingin berbicara tentang harapan.

Bagus.

Ari.

Yudhis.

Daus.

Donal.

Di mana pun kalian berada, ketahuilah: ada yang menunggu.

Ada rumah yang pintunya masih menyimpan harapan.

Ada istri yang menanti.

Ada anak yang ingin memeluk ayahnya.

Ada orang tua yang terus menyebut namamu dalam doa.

Ada sahabat yang berharap mendengar suaramu kembali.

Dan ada ribuan orang yang mungkin tidak mengenalmu, tetapi hari ini ikut mendoakanmu.

Maka, kawan…

BACA JUGA :  Empat Pilar Kebijaksanaan Hidup Seorang Mukmin: Menggali Makna Nasihat Imam Ali bin Abi Thalib

Jika laut terasa begitu luas, ingatlah rumah.

Jika malam terasa begitu gelap, ingatlah keluarga.

Jika jalan pulang belum terlihat, ketahuilah bahwa doa sedang mencarimu.

Pulanglah, kawan.

Pulanglah, Bagus.

Pulanglah, Ari.

Pulanglah, Yudhis.

Pulanglah, Daus.

Pulanglah, Donal.

Sebab di daratan ada keluarga yang menunggumu.

Ada rumah yang merindukanmu.

Ada anak yang ingin memelukmu.

Dan ada bangsa yang masih berharap kalian kembali.

Kawan, pulanglah…

Keluarga menunggumu.

Surabaya, 13 September 2026


DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

BACA JUGA :  PREMAN BERKEDOK ORMAS - RUSAKNYA TATANAN DEMOKRASI DAN RUSAKNYA NEGARA HUKUM
spot_img
Must Read
spot_img
Populer
spot_img