spot_img
spot_img
Senin, September 21, 2026
BerandaOpiniYang Utama Itu Rasa, Bukan Logika

Yang Utama Itu Rasa, Bukan Logika

spot_img

Ngopi Sewarung

Yang Utama Itu Rasa, Bukan Logika

By Uten Surendy

Cobalah sejenak memperhatikan realitas kehidupan di sekitar kita.

Begitu banyak yang pernah diciptakan manusia, tetapi akhirnya rusak, roboh, menjadi rongsokan, lalu perlahan dilupakan.

Ada rumah yang runtuh, mobil yang menjadi rongsokan, peralatan elektronik yang menjadi barang bekas, pakaian yang tak lagi dipakai, pesawat yang akhirnya dipensiunkan. Gedung-gedung tua ditinggalkan dan lapuk. Masjid dan gereja bisa rusak. Bahkan candi-candi besar yang pernah dibangun dengan ilmu pengetahuan dan teknologi pada zamannya, sebagian tertimbun tanah dan hilang dari kehidupan manusia.

Semua itu mengingatkan kita pada satu hal:

Apa pun yang hanya lahir dari pikiran, logika, perhitungan, dan kepentingan manusia, pada akhirnya akan mengalami kehancuran.

Begitu pula hubungan antarmanusia, hubungan manusia dengan Tuhan, bahkan hubungan manusia dengan alam, jika hanya dibangun berdasarkan kalkulasi kepentingan dan logika semata, lambat laun akan kehilangan kehidupan dan maknanya.

Logika memang penting. Ilmu pengetahuan sangat penting. Tetapi keduanya tidak selalu mampu menghadirkan kebahagiaan.

Produk pikiran manusia sering kali hanya menghasilkan kesenangan sesaat. Ketika sesuatu yang baru menjadi biasa, kesenangan itu pun perlahan menghilang.

BACA JUGA :  SEGEL KARHUTLA, UJIAN KETEGASAN NEGARA

Yang mampu membuat sesuatu tetap hidup adalah rasa. Terutama rasa cinta.

Bukankah Tuhan menciptakan alam semesta dengan kasih sayang-Nya?

Ar-Rahman, Ar-Rahim.

Dari kasih sayang itulah kehidupan terus berlangsung. Alam tumbuh, bergerak, berkembang, memperbarui dirinya, dan memberikan kehidupan kepada seluruh makhluk.

Pohon terus tumbuh, berbunga, dan berbuah.

Hewan berkembang biak dan melanjutkan kehidupan.

Manusia belajar, mencintai, melahirkan generasi, menemukan pengetahuan, dan menciptakan karya.

Lihatlah mengapa manusia selalu ingin kembali ke laut, gunung, hutan, sungai, dan kebun.

Di sana kita menemukan sesuatu yang tidak selalu bisa diberikan oleh gedung-gedung megah dan teknologi canggih:

ketenangan, kesejukan, kedamaian, dan kebahagiaan.

Sebab alam tidak sekadar bekerja dengan logika manusia. Alam hidup dalam keseimbangan, keterhubungan, dan kasih sayang kehidupan.

Begitu pula hubungan antarmanusia.

Hubungan yang dibangun dengan cinta akan melahirkan kebahagiaan. Cinta membuat keluarga menjadi tempat pulang. Cinta membuat komunitas tumbuh. Cinta membuat manusia rela berbagi, melayani, menjaga, dan memberikan yang terbaik tanpa selalu menghitung apa yang akan diterimanya kembali.

BACA JUGA :  Presiden Prabowo dan Pengertian Kata Go-Block

Begitu pula dengan karya.

Buku yang ditulis dengan cinta akan terus dicari dan dibaca, bahkan setelah penulisnya tiada.

Lagu yang lahir dari hati dapat dinyanyikan lintas generasi.

Puisi yang ditulis dengan rasa dapat tetap menyentuh manusia puluhan bahkan ratusan tahun kemudian.

Lukisan, patung, musik, dan berbagai karya seni yang lahir dari kedalaman jiwa akan terus menemukan penggemarnya, karena yang disentuh bukan sekadar pikiran, tetapi perasaan manusia.

Maka, mungkin sudah saatnya kita tidak hanya bertanya:

“Apa yang bisa kita pikirkan?”

Tetapi juga bertanya:

“Apa yang kita rasakan?”

Jangan hanya bekerja dengan logika.

Jangan hanya berkarya dengan perhitungan.

Jangan hanya membangun hubungan berdasarkan kepentingan.

Bekerja dan berkaryalah dengan rasa cinta.

Sebab ketika sesuatu dikerjakan dengan cinta, ia tidak hanya menjadi sebuah produk.

Ia menjadi kehidupan.

Ia memberi kehidupan.

Ia tumbuh.

Ia berkembang.

Dan mungkin, ia akan tetap hidup jauh setelah kita meninggalkannya.

BACA JUGA :  RUU PERAMPASAN ASET; SANGAT BISA DIPERCEPAT, SELAMA INI TIDAK PERNAH MENJADI PRIORITAS POLITIK

Karena yang dibuat oleh tangan manusia bisa rusak.

Yang dibangun oleh logika bisa runtuh.

Tetapi sesuatu yang lahir dari cinta dan ketulusan, sering kali menemukan jalannya sendiri untuk tetap hidup di dalam hati manusia.

Yang utama itu rasa, bukan sekadar logika.

Get the feeling
Mr. Ten


DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

BACA JUGA :  RUU PERAMPASAN ASET; SANGAT BISA DIPERCEPAT, SELAMA INI TIDAK PERNAH MENJADI PRIORITAS POLITIK
spot_img
Must Read
spot_img
Populer
spot_img