Hendrajit Soroti Kisah Gus Lilur soal Muktamar NU: Kebenaran Bisa Tersingkap Lewat Dongeng
INDOVIEWNEWS.COM — Pengamat geopolitik sekaligus wartawan senior Hendrajit menyoroti penuturan Gus Lilur mengenai Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) yang mencuat pada akhir Agustus lalu. Menurutnya, terlepas dari perdebatan apakah kisah tersebut merupakan fakta atau fiksi, terdapat kekuatan tersendiri dalam cara Gus Lilur menyampaikan cerita yang dinilainya mampu menggugah kalangan internal NU.
Dalam pandangan yang disampaikan Rabu (14/10/2026), Hendrajit mengaku mengikuti secara saksama penuturan Gus Lilur dan berbagai respons yang muncul setelahnya.
“Saya termasuk yang menyimak dengan tekun dan saksama penuturan Gus Lilur ihwal Muktamar NU akhir Agustus lalu,” ujar Hendrajit.
Ia kemudian mengajukan pertanyaan mendasar mengenai substansi cerita yang disampaikan Gus Lilur.
“Pertanyaan saya dan anda sebenarnya sama. Ini fiksi atau fakta? Lebih tajamnya lagi, ini kisah nyata alias true story atau dongeng?” katanya.
Menurut Hendrajit, persoalan menarik justru muncul ketika sebuah cerita yang belum dapat dipastikan kebenarannya ternyata memunculkan berbagai tanggapan dan bantahan.
“Katakanlah ini fiksi atau dongeng, bukannya kisah nyata, tapi kenapa mampu menyengat pusat saraf orang-orang penting dalam tubuh NU?” ujarnya.
Hendrajit menggambarkan bahwa semakin banyak bantahan terhadap Gus Lilur, semakin besar pula perhatian terhadap cerita tersebut.
“Sehingga makin banyak arus bantahan terhadap Gus Lilur malah, ibarat kata, bagai api makin menjalar di atas jerami dan rumput kering,” ungkapnya.
Kekuatan Sastra dan Kebenaran yang Numpang Lewat
Hendrajit kemudian menghubungkan fenomena tersebut dengan pengalamannya sebagai penikmat karya sastra dan novel-novel bermutu sejak muda.
Ia menyebut sejumlah sastrawan dunia, mulai dari Victor Hugo, Charles Dickens, Jane Austen, Gustave Flaubert hingga Leo Tolstoy, sebagai contoh pengarang yang mampu menghadirkan gambaran realitas melalui karya fiksi.
Menurutnya, kekuatan sebuah cerita tidak semata-mata terletak pada apakah seluruh peristiwanya benar-benar terjadi, melainkan pada kenyataan yang dapat tersingkap melalui rangkaian kisah tersebut.
“Bahwa di dalam sebuah karya fiksi yang disajikan kepada kita, sang pembaca atau penonton, entah sengaja atau dengan sadar, sang novelis mengetengahkan ‘Kebenaran-Kebenaran Numpang Lewat’,” jelasnya.
Ia menilai bagian-bagian cerita yang sekilas tampak sederhana justru dapat mengandung pesan penting mengenai kenyataan sosial.
“Nah, kebenaran-kebenaran numpang lewat yang terkesan cuma sambil lalu dan selintasan saja inilah justru bukan fiksi tapi yang cerita beneran. Realitas yang tergambar,” tuturnya.
Hendrajit juga mengingat pandangan novelis Italia, Italo Calvino, yang pernah dibacanya mengenai hubungan antara fiksi dan kenyataan.
Menurut pemahamannya atas pemikiran Calvino, novelis yang baik mampu menyajikan kenyataan yang tergambar melalui cerita, bukan sekadar kenyataan yang dijelaskan secara langsung.
Tradisi Kyai Kampung dan Kepekaan Membaca Isyarat
Lebih jauh, Hendrajit melihat adanya hubungan antara cara bertutur Gus Lilur dan tradisi pengisahan yang berkembang di lingkungan pesantren.
Ia menilai Gus Lilur memahami kultur para kyai kampung yang kerap menyampaikan pesan penting melalui cerita, perumpamaan, maupun percakapan santai.
“Gus Lilur menghayati betul kultur dan tradisi para juru kisah kyai-kyai kampung. Bukan kebetulan pula Gus Lilur selalu menyebut dirinya Kyai Kampung dengan penuh hormat,” kata Hendrajit.
Untuk menggambarkan tradisi tersebut, ia mengutip pengalaman kawannya, Halim Tanaka, yang pernah cukup lama berguru kepada almarhum Kyai Mochtar Husein.
Menurut Hendrajit, dari pengalaman itu terdapat pelajaran bahwa pesan mendalam seorang guru tidak selalu disampaikan melalui penjelasan formal.
“Kawan saya Halim Tanaka yang pernah berguru cukup lama pada alm Kyai Mochtar Husein, belakangan menyadari bahwa inti pesan sebuah pikiran, pandangan atau informasi, kerap muncul dari sela-sela obrolan saat lagi penuh canda atau guyonan,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa dalam tradisi semacam itu, para santri dituntut memiliki kepekaan menangkap makna di balik percakapan.
“Saat itulah para santri malah harus peka dan penuh perhatian. Karena dalam momen itulah kebenaran tersingkap. Bukan lagi fiksi atau dongeng,” lanjutnya.
Hendrajit: Para Kyai NU Terbiasa Membaca Makna Tersembunyi
Hendrajit berpendapat bahwa tradisi tutur tersebut bukan sesuatu yang asing bagi kalangan ulama dan kyai NU.
Para ulama senior, menurutnya, memiliki pengalaman panjang sebagai santri yang terbiasa memahami pesan tidak langsung dari guru-guru mereka.
“Ya. Kebenaran-Kebenaran Numpang Lewat yang tergambar inilah, yang menakutkan dari tuturan Gus Lilur,” ujarnya.
Ia mengaitkan hal tersebut dengan kemampuan membaca isyarat atau tanggap ing sasmita, yang hidup dalam tradisi pesantren dan kearifan lokal.
“Karena para ulama dan kyai NU yang sekarang sudah sepuh-sepuh atau beranjak sepuh, dulunya kan santri dan nyantri dulu pada para kyai. Jadi sudah terbiasa dan tanggap ing sasmita terhadap tradisi tutur dan model pengisahan seperti ini,” jelasnya.
Dalam pandangan Hendrajit, pengalaman tersebut membuat para kyai memahami bahwa sebuah cerita, bahkan yang berbentuk dongeng sekalipun, dapat memuat pesan yang lebih luas daripada alur yang terlihat di permukaan.
“Jadinya para beliau itu menghayati betul kekuatan tersembunyi yang terkandung dalam sebuah cerita atau dongeng sekalipun. Sebab itu bagian melekat dalam tradisi dan kearifan lokal daerah masing-masing,” katanya.
Kebenaran dalam Cerita Gus Lilur Dinilai Sulit Diprediksi
Pada bagian akhir pandangannya, Hendrajit mengemukakan bahwa kekuatan narasi Gus Lilur justru terletak pada ketidakpastian kapan pesan atau kenyataan yang tersirat dalam cerita itu akan memperoleh perhatian lebih luas.
“Yang lebih mengkhawatirkan lagi. Kapan meletusnya ledakan realitas tergambarkan berupa kebenaran-kebenaran numpang lewat itu sulit diprediksi,” ungkapnya.
Ia menggambarkan kemungkinan munculnya pesan tersebut pada berbagai tahapan cerita, baik di awal, pertengahan maupun bagian akhir.
“Di tengah-tengah kembangan cerita di awal pagelaran, di tengah-tengah serunya cerita pada bab-bab pertengahan, atau pada ending akhir cerita?” ujarnya.
Hendrajit pun menutup pandangannya dengan sebuah pertanyaan mengenai kemungkinan bahwa pesan-pesan tersebut tersebar dalam keseluruhan rangkaian penuturan Gus Lilur.
“Atau jangan-jangan ada dalam setiap babakan cerita Gus Lilur yang kadang seperti serial kadang seperti sekuel,” pungkasnya.
Pandangan Hendrajit tersebut merupakan pembacaan dan interpretasinya terhadap gaya penuturan Gus Lilur, bukan pembuktian faktual atas isi cerita maupun tudingan yang mungkin berkembang di seputar polemik tersebut.
Media membuka ruang klarifikasi, tanggapan, maupun bantahan dari Gus Lilur, pengurus Nahdlatul Ulama, serta pihak-pihak lain yang merasa terkait dengan pandangan tersebut. Setiap tanggapan akan diberikan ruang pemberitaan sesuai prinsip keberimbangan, akurasi, dan asas praduga tak bersalah.
DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.






