spot_img
spot_img
Selasa, Oktober 6, 2026
BerandaOpiniDilema Moral Dan Pandangan para Filosof

Dilema Moral Dan Pandangan para Filosof

spot_img

Dilema Moral Dan Pandangan para Filosof

Oleh Hasanuddin

Soal: “Bila pada umumnya pejabat yang sedang menjabat, anda kenal, atau setidaknya ada di antara mereka yang merupakan sahabat anda; namun kebijakan yang mereka terbitkan tidak berdampak positif bagi masyarakat bahkan sebaliknya; sikap anda seharusnya bagaimana?

Ini pertanyaan yang paling berat dalam politik. Bukan soal melawan musuh, tapi soal mengingatkan teman.

Banyak orang hancur bukan karena dimusuhi lawan, tapi karena tidak berani mengingatkan kawan yang sedang berkuasa.

Jika teman dekat kita jadi pejabat, dan masyarakat makin memburuk karena kebijakannya tidak menyentuh kepentingan riil, maka di situlah persahabatan kita diuji.

Apakah kita sahabat yang menjilat, atau sahabat yang menyelamatkan?

Mari kita lihat lewat tiga kacamata filsafat kebajikan.

1. Kacamata Aristoteles: Sahabat Sejati Adalah Yang Menjadikan Kita Berbudi

Bagi Aristoteles, tujuan hidup manusia bukan kaya, bukan berkuasa, tapi eudaimonia – hidup yang berbudi luhur dan bermakna.

Dan kebajikan tertinggi adalah phronesis, yaitu kebijaksanaan praktis untuk tahu mana yang benar-benar baik untuk banyak orang, bukan sekadar yang terlihat baik.

Aristoteles membagi persahabatan menjadi tiga:

– Persahabatan karena manfaat: Aku berteman karena kau pejabat, aku dapat proyek.

– Persahabatan karena kesenangan: Aku berteman karena kau asik, bisa nongkrong bareng.

– Persahabatan karena kebajikan: Aku berteman karena aku ingin kau menjadi manusia yang lebih baik, dan kau ingin aku menjadi manusia yang lebih baik.

Jika temanmu jadi pejabat lalu kau diam saja melihat rakyat susah karena kebijakannya salah, hanya agar pertemanan tetap nyaman, maka menurut Aristoteles kau sedang berada di level persahabatan paling rendah: persahabatan manfaat. Kau menjaga akses, bukan menjaga kebajikan temanmu.

BACA JUGA :  Bandit Keuangan Terorganisir atau  Londo Ireng?

Sikap semestinya menurut Aristoteles: Lakukan parrhesia, keberanian untuk berkata benar kepada teman. Seorang sahabat yang berbudi harus menjadi cermin yang jujur.

Kau harus datang dan berkata: “Kawan, kebijakanmu soal ini tidak menyentuh rakyat. Kamu dulu bukan orang seperti ini. Apa yang membuatmu berubah?”

Jika ia marah dan meninggalkanmu, maka ia bukan kehilanganmu sebagai teman.

Justru kamu yang kehilangan dia sebagai teman yang berbudi.

Persahabatan yang sejati tidak akan hancur oleh kebenaran.

2. Kacamata Immanuel Kant: Setia Pada Prinsip, Bukan Pada Pribadi

Kant akan jauh lebih keras dari Aristoteles. Bagi Kant, ukuran moralitas bukan akibat, tapi niat dan prinsip.

Kant punya Categorical Imperative – perintah moral tanpa syarat: “Bertindaklah hanya berdasarkan prinsip yang bisa kau kehendaki menjadi hukum universal untuk semua orang.”

Tanyakan pada dirimu:

– Jika semua orang membiarkan temannya yang pejabat berbuat salah demi menjaga pertemanan, apakah dunia akan menjadi lebih baik? Tidak.
– Jika semua pejabat membuat kebijakan yang menguntungkan teman dekatnya tapi merugikan masyarakat luas, apakah itu bisa dibenarkan? Tidak.

Maka menurut Kant, kesetiaanmu yang pertama bukan pada temanmu, tapi pada kemanusiaan. Temanmu sebagai pejabat bukan lagi sekadar temanmu.

Ia adalah pemegang amanah publik. Ia telah berubah status menjadi public person.

Sikap semestinya menurut Kant:

a. Jangan Gunakan Persahabatan Untuk Keuntungan Pribadi.

Jangan minta proyek, jangan minta jabatan, jangan minta dispensasi hukum.

BACA JUGA :  Pidato Presiden

Saat kau melakukannya, kau sedang merusak martabat temanmu sebagai pejabat yang harus adil.

b. Berani Menjadi Oposisi Moral.

Kant menyebut ini duty to humanity. Kewajibanmu untuk mengingatkan itu lebih tinggi dari kewajibanmu untuk menyenangkan teman.

Jika kebijakan temanmu menyengsarakan banyak orang, diam adalah sebuah kejahatan moral.

Kau harus mengkritik, bahkan secara terbuka jika kritik tertutup tidak didengar.

Bagi Kant, teman yang baik adalah yang menyelamatkan temannya dari menjadi penjahat.

3. Kacamata Al-Ghazali dan Hatta: Cinta yang Tidak Buta

Dalam tradisi Islam, Al-Ghazali mengajarkan: “Cinta kepada sahabat adalah dengan menunjukkan aibnya secara diam-diam, bukan memujinya di depan umum.”

Bung Hatta, yang dikenal sangat setia kawan tapi sangat keras soal prinsip, pernah memutuskan persahabatan politik dengan Bung Karno bukan karena benci, tapi karena ia melihat arah ekonomi yang tidak memihak rakyat kecil.

Ini memberikan jalan tengah yang praktis:

Bagaimana Sikap Seharusnya? Urutannya Begini:

Tahap 1: Nasihat Tertutup (Empat Mata).

Jangan langsung menyerang di media sosial. Datangi dia secara pribadi. Bawa data.

Katakan: “Kawan, aku lihat data kemiskinan di daerahmu naik, pengangguran naik, tapi kebijakanmu masih soal seremonial.

Aku khawatir kamu kehilangan sentuhan dengan realita. Apa yang bisa aku bantu sampaikan dari bawah?” Ini adalah adab persahabatan.

Tahap 2: Jaga Jarak Jika Ia Menolak.

Jika nasihat tertutup ditolak, dan ia justru menawarkanmu untuk ikut menikmati kue kekuasaan agar diam, maka di sinilah kamu harus menjaga jarak.

Aristoteles berkata: lebih baik kehilangan teman yang tidak berbudi, daripada kehilangan kebajikanmu sendiri.

BACA JUGA :  Hasanuddin: Federalisme Bukan Memecah Indonesia, tetapi Membangun Kemitraan dan Keadilan

Jangan biarkan fotomu bersamanya dipakai untuk melegitimasi kebijakan yang buruk.

Tahap 3: Kritik Terbuka Demi Rakyat.

Jika keburukan itu sudah sistemik dan merugikan orang banyak, maka kesetiaan pada rakyat harus di atas kesetiaan pada teman.

Kau harus bersuara secara terbuka, tapi tetap pada kebijakannya, bukan pada pribadi dan keluarganya. Kritik kebijakan, bukan menghina orangnya.

Ingat, sahabat yang paling berbahaya adalah sahabat yang menjadi penjilat kekuasaan.

Ia akan berkata “semua baik-baik saja, Pak” padahal rakyat di bawah menjerit.

Ia membiarkan temannya terjerumus ke dalam kesombongan dan akhirnya jatuh dengan hina.

Sahabat yang sejati adalah yang berani berkata: “Kawan, berhentilah. Kamu sedang salah jalan.”

Maka, jika teman dekatmu jadi pejabat dan rakyat makin susah, sikap terbaikmu bukanlah memusuhinya, bukan pula menjilatnya.

Sikap terbaikmu adalah menyelamatkannya dari dirinya sendiri.


DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

BACA JUGA :  Tangkap Jokowi, Makzulkan Gibran
spot_img
Must Read
spot_img
Populer
spot_img