Edy Mulyadi: Ketika Gontor Menegur Kekuasaan dengan Al-Ahzab 70-73
INDOVIEWNEWS.COM— Wartawan senior Edy Mulyadi menyoroti pembacaan Surah Al-Ahzab ayat 70–73 saat Presiden Prabowo Subianto menghadiri Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu, 19 September 2026.
Presiden Prabowo memang menghadiri langsung resepsi satu abad Gontor yang digelar di Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM), Kampus Pusat Gontor. Dalam rangkaian acara tersebut, Surah Al-Ahzab ayat 70 hingga 73 dibacakan sebelum doa bersama.
Dalam tulisannya pada 24 September 2026 berjudul “Ketika Gontor Menegur Kekuasaan dengan Al Ahzab 70-73”, Edy Mulyadi menilai pemilihan ayat tersebut memiliki pesan moral yang mendalam.
“Bagi tradisi pesantren yang memegang teguh adab, pemilihan ayat Al-Qur’an dalam acara formal tidak pernah lahir dari kebetulan. Ada pesan substantif yang disampaikan,” tulis Edy.
Menurut Edy, pesan tersebut disampaikan dengan cara yang elegan dan santun, tetapi tetap memiliki makna kuat ketika dibacakan di hadapan Presiden dan ribuan santri.
“Hebatnya lagi, pesan itu dikirim secara elegan, santun. Tapi menghujam langsung ke jantung kekuasaan,” ujarnya.
Qaulan Sadida dan Etika Kekuasaan
Edy kemudian menyoroti kandungan Surah Al-Ahzab ayat 70–71 mengenai qaulan sadida, yakni perkataan yang benar, jujur, dan lurus.
Menurut dia, dalam konteks kepemimpinan nasional, ucapan seorang pemimpin memiliki pengaruh besar terhadap masyarakat. Karena itu, menurut Edy, retorika di hadapan publik semestinya sejalan dengan kenyataan di lapangan.
“Qaulan sadida menuntut akuntabilitas narasi. Berhentilah menutupi kesulitan rakyat dengan bahasa statistik yang dipercantik. Namun, mulailah mengakui kenyataan apa adanya demi perbaikan yang sesungguhnya,” tulis Edy.
Ia juga menyoroti pentingnya pemilihan diksi oleh seorang kepala negara karena pidato Presiden dapat disaksikan oleh masyarakat luas dan kembali beredar melalui berbagai platform media sosial.
“Pidato Presiden ditonton jutaan, puluhan juta, bahkan ratusan juta rakyat. Ia diedit, dipotong-potong, lalu diputar ulang berkali-kali. Viral di media,” katanya.
Edy menilai penggunaan bahasa dalam forum resmi kenegaraan perlu mempertimbangkan posisi dan tanggung jawab seorang kepala negara.
“Zaluman Jahula” dan Amanah Kekuasaan
Edy selanjutnya mengaitkan Al-Ahzab ayat 72 dengan beratnya amanah kekuasaan.
Ia mengutip bagian ayat yang menyebut bahwa manusia memikul amanah setelah langit, bumi, dan gunung-gunung enggan memikulnya karena khawatir tidak mampu menunaikannya.
Ayat tersebut kemudian ditutup dengan ungkapan “innahu kana zaluman jahula”, yang dalam terjemahan Al-Qur’an berarti manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.
Menurut Edy, pesan tersebut dapat menjadi refleksi bagi siapa pun yang memegang amanah kekuasaan.
“Kezaliman dan kebodohan (zaluman jahula) dalam bernegara tampak nyata tatkala kekuasaan disalahgunakan untuk kepentingan segelintir elite,” tulisnya.
Ia juga mengkritik apa yang dipandangnya sebagai ketimpangan dalam penegakan keadilan serta potensi penyalahgunaan kekuasaan untuk melindungi kepentingan kelompok tertentu.
“Berkhianat atas amanah yang diemban adalah bentuk kezaliman dan kebodohan kekuasaan yang nyata,” ujar Edy.
Edy Mulyadi Soroti Bahaya Lingkaran ABS
Bagian lain yang menjadi perhatian Edy adalah Al-Ahzab ayat 73 yang berbicara mengenai orang-orang munafik dan pengkhianatan terhadap amanah.
Dalam konteks pemerintahan, Edy mengaitkannya dengan budaya asal bapak senang atau ABS di lingkungan kekuasaan.
“Para pemberi laporan asal bapak senang (ABS) sejatinya adalah penjilat dan pengkhianat,” tulis Edy.
Menurut dia, pemimpin dapat kehilangan gambaran mengenai kondisi sebenarnya apabila informasi yang diterima dari lingkaran dalam hanya berisi laporan positif, angka-angka yang terlihat indah, dan sanjungan.
“Pemimpin yang terbuai oleh laporan ABS pada hakikatnya sedang diasingkan dari kenyataan oleh pembisiknya sendiri,” katanya.
Edy menilai persoalan tersebut penting karena kualitas keputusan seorang pemimpin sangat bergantung pada informasi yang diterimanya.
“Nasihatut Tammah” dari Gontor
Pada akhirnya, Edy memaknai pembacaan Surah Al-Ahzab ayat 70–73 dalam resepsi 100 Tahun Gontor sebagai sebuah bentuk nasihat moral kepada kekuasaan.
“Cara kyai dan pengasuh Gontor memilih dan memperdengarkan Surah Al-Ahzab ayat 70–73 di depan Presiden Prabowo. Ini adalah wujud nasihatut tammah. Nasihat yang sempurna dari ulama kepada umara,” tulisnya.
Edy menyebutnya sebagai kritik yang disampaikan dengan kemasan adab pesantren.
“Ini adalah kritik tingkat tinggi yang dikemas dalam keanggunan adab pesantren,” ujarnya.
Ia kemudian menutup refleksinya dengan pesan bahwa kekuasaan membutuhkan cermin yang jujur agar lisan, kebijakan, dan amanah kepemimpinan dapat terus dievaluasi.
“Kekuasaan senantiasa membutuhkan cermin yang jujur. Dan tidak ada cermin yang lebih jernih untuk mengevaluasi lisan, kebijakan, serta amanah kepemimpinan nasional selain firman Allah SWT,” tulis Edy.
Ia berharap pesan moral tersebut mendapat respons positif dari Istana.
Pandangan mengenai makna pembacaan Surah Al-Ahzab ayat 70–73 sebagai nasihat atau kritik terhadap kekuasaan merupakan interpretasi dan penilaian Edy Mulyadi. Media ini membuka ruang klarifikasi, tanggapan, maupun perspektif dari pihak-pihak yang disebut atau terkait, termasuk pihak Pondok Modern Darussalam Gontor dan pihak Istana, sesuai prinsip keberimbangan dan asas praduga tak bersalah.
DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.







