spot_img
spot_img
Minggu, September 13, 2026
BerandaOpiniEMPAT PRINSIP HIDUP MENUJU HIDUP BAHAGIA DUNIA AKHIRAT

EMPAT PRINSIP HIDUP MENUJU HIDUP BAHAGIA DUNIA AKHIRAT

spot_img

EMPAT PRINSIP HIDUP MENUJU HIDUP BAHAGIA DUNIA AKHIRAT

Oleh Mohammad Rosyad

Agar hidup kita bahagia dunia dan akhirat, kita diperintahkan oleh Allah untuk masuk kedalam Islam secara keseluruhan (kaffah). Maknanya adalah bahwa Islam yang kita yakini tidak hanya keluar dari lisan kita saja, tidak hanya bersamayam di dalam hati saja, tetapi harus terpancar melalui amal perbuatan kita, bahkan tidak cukup dengan itu Islam harus terwujud dalam gagasan-gagasan yang ada didalam fikiran kita.

Di sisi lain makna Islam kaffah berarti kita tidak boleh memilih untuk mentaati hanya sebagian larangan, sebagian perintah atau sebagian petunjuk.

Kita harus mentaati semuanya, adapun kalau kita tidak sanggup, kita wajib berdo’a dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk melakukannya.

Untuk mencapai hal tersebut, kita harus mempunyai prinsip-prinsip dasar yang harus kita upayakan untuk senantiasa dapat kita pegang dan dakwahkan. Prinsip-prinspi tersebut adalah: Loving God, , Continous Self Improvement, Blessing Others dan Leave Legacy.

LOVING GOD

“Orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah” (QS,2:165)

Untuk membuktikan cinta kita kepada Allah, harus ada tanda-tanda yang jelas dalam diri kita, diantara tanda-tanda yang terpenting adalah:

1. Katsrotudz dzikri (Senantiasa ingat dan Menyebut Namanya)

Seorang suami akan dinilai mencintai isterinya apabila dia selalu mengingat dan menyebut isterinya. Demikian pula seorang hamba harus membuktikan cintanya kepada Allah dengan mengingat dan menyebut asma Allah dimanapun dan kapanpun serta dalam keadaan apapun. Didalam hati dan fikirannya selalu ada Allah, sehingga ketika ada godaan untuk berbuat dosa dia mempunyai kekuatan untuk menghindar. Allah mengingatkan bahwa yang tidak mau mengingat Allah akan lupa diri  (QS 3:191,33:41, 59:19)

2. I’jaab (Kagum) 

Salah satu alasan seseorang mencintai sesuatu karena keindahannya atau kebaikannya atau kepandaiannya. Allah bukan hanya indah, tetapi Ia adalah Mahaindah dan pencipta keindahan itu sendiri. Allah adalah Mahapengasih lagi Mahapenyayang yang tak tertandingi kasih sayangnya. Allah Mahapandai yang tak tertandingi kepandaiannya sehingga mampu menciptakan alam yang indah dan seimbang. Karena kekaguman kita kepada Allah,  kita telah menyerahkan segala bentuk pujian kepada Allah Tuhan Yang Mengatur Alam Semesta. Rasulullah adalah orang yang paling mencintai Allah, begitu kagumnya beliau kepada Allah, sehingga ucapan pujiannya adalah “laa uhsii sanaan alayka anta kamaa asnayta ‘alaa nafsika”  –tidak mampu aku memuji Engkau yaa Allah, sebagaimana Engkau memuji diriMu sendiri- (QS, 1:1, 3:190

BACA JUGA :  Erros Djarot, Pemberhentian Prabowo 1998, dan Perintah Penculikan Aktivis

3. Ridho

Cinta menyebabkan orang rela terhadap apa saja  yang dilakukan oleh kekasihnya. Orang yang mengaku cinta kepada Allah harus ridho terhadap segala ketentuan Allah. Didalam fikiran orang yang mencintai Allah segala ketentuan yang telah ciptakan Allah adalah baik bagi dirinya, oleh karena itu ia akan menerima dengan senang hati. Walaupun kadangkala harus mengurangi kenikmatan duniawi. Ketentuan tersebut bisa berupa perintah, larangan ataupun taqdir. (QS, 9:61,62)

Tadhiyah (Rela Berkurban)

Pengorbanan adalah bukti dari cinta. Seorang ayah belum dapat dikatakan mencintai keluarganya sebelum ia membanting tulang memeras keringat untuk memberi nafkah keluarganya. Pengorbanan yang dilandasi cinta adalah merupakan kebahagiaan.  Seorang ibu rela berkorban  bangun tengah malam untuk sekedar mengganti pakaian bayinya walaupun badan terasa penat karena sudah bekerja seharian. Demikian pula orang yang mecintai Allah dia akan mengorbankan apa saja untuk membalas cinta Allah kepadanya. Ia sadar betul Allah telah menunjukkan citaNya terlebih dahulu dengan memberikan  karuniaNya yang sangat  banyak, sehingga tidak terhitung. Kalau kita berkorban untuk Allah, bukan berarti Allah membutuhkan persembahan sesuatu dari kita. Kita sudah dianggap berkorban kepada Allah apabila mau membantu fakir miskin, menolong orang sakit yang tidak mempunyai biaya, membantu perjuangan membela agama dsb.   (QS,2:207,3:92)

5. khasyah (Takut)

Orang yang mencintai seseorang akan sangat takut ditinggalkan oleh orang tersebut. Demikian pula orang yang mecintai Allah akan sangat takut ditinggalkan Allah, akan sangat takut kehilangan  rahmat Allah. Ia tidak akan berbuat sesuatu yang tidak disukai oleh  Allah, tidak akan berani mengabaikan perintah Allah dan tidak berani melakukan sesuatu yang dilarang Allah. Rasa takut kepada Allah berbeda dengan rasa takut kepada binatang buas, kalau takut kepada binatang buas kita lari menjauh, tetapi ketika kita takut kepada Allah justru kita lari mendekat (QS,  3:199,21:90)
kepada Allah berbeda dengan rasa takut kepada binatang buas, kalau takut kepada binatang buas kita lari menjauh, tetapi ketika kita takut kepada Allah justru kita lari mendekat (QS,  3:199,21:90)

BACA JUGA :  Meneladani Rasulullah SAW: Sang Pelita Rahmat dan Keagungan Akhlak

Roja’ (Berharap)

Allah adalah tempat bergantung segala sesuatu, harapan seorang yang beriman hanya disandarkan kepada Allah. Dia tidak akan menggantungkan harapan kepada sesuatu yang lain. Tertanam didalam hatinya bahwa Allah adalah Mahapengasih dan Mahapenyayang serta Mahakuasa. Sehingga ketika dia menggantungkan harapannya kepada Allah dia yakin tidak akan sia-sia. Dia senantiasa penuh gairah mengabdi kepada Allah dan berdoa serta tidak akan putus asa (QS, 21:90, 94:8)

6. Taat

Wujud terakhir dari cinta seorang hamba kepada Allah adalah ketaatan, ketika dia sudah ridho, mau berkurban, takut dan senantiasa berharap tentunya semua akan bermuara kepada ketaatan. Taat berarti tunduk dan patuh. Taat juga berarti berserah diri. Semua perintah dikerjakan, semua laranganj ditinggalkan . Ketaatan yang hakiki adalah ketaatan yang kmuncul dari kesadaran hati yang paling dalam, sehingga ketika dia melakukan ketaatan tersebut dia tidak merasa terpaksa, tetapi justru merasa nikmat (QS,3:32, 3:132, 4:80)

CONTINOUS SELF IMPROVEMENT

Sudah menjadi paradigma dalam Islam bahwa hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Salah satu cara yang paling jita untuk memperbaiki diri adalah dengan terus menuntut ilmu dan mengamalkan ilmu yang dimilikinya.

Rasulullah memerintahkan kepada kita melakukan long life education, dengan sabdanya “uthlubul ilma minal mahdi ilal lahdi” tuntutlah ilmu dari mulai buaian sampai liang lahad”

BACA JUGA :  Empat Pilar Kebijaksanaan Hidup Seorang Mukmin: Menggali Makna Nasihat Imam Ali bin Abi Thalib

BLESSING OTHERS

Sabda Rasulullah ‘Khoirunnas anfa’uhum linnas” sebaik-baiknya manusia adalah yang paling manfaat kepada manusia lainnya.
Dalam sabdanya yang lain Rasulullah mengatakan “Al Mu’minu kan nahl, in akalat akalat thoyyibata, wa in wadho’at wadho’at thoyyibata” seorang mukmin seperti lebah apabila makan dia hanya makan yang baik dan apabila meninggalkan sesuatu juga meninggalkan yang baik/bermanfaat (madu)

LEAVE LEGACY

Seorang mu’min dituntut untuk meninggalkan warisan kebaikan untuk generasai berikutnya. Sabda Nabi Idzaa maata ibnu adam inqotho’a amaluhu illaa min salatsin, shodaqotin jaariyatin, awa ilmin yuntafaa’u bihi aw waladun shoolih ya’du lah.  “apabila anak adam meninggal dunia terputuslah amalnya kecuali yang tida yaitu sodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendo’akan

Manusia mempunyai tiga umur, umur biologis, umur, sosiologis dan umur historis,
Agar tidak sama dengan binatang manusia harus sampai pada umur sosiologis, yaitu ketika sudah meninggal dunia orang-orang yang semasa dengannya masih merasakan kebaikannya. Kalau mau lebih hebat lagi harus mencapai umur historis, yaitu seperti para pahlawan, ulama, para nabi walaupun sudah me ninggal dunia namun masih dirasakan kehadirannya,


DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

BACA JUGA :  Tenggat 15 Desember Membuat Tekanan Politik Terus Membara
spot_img
Must Read
spot_img
Populer
spot_img