spot_img
spot_img
Selasa, Oktober 6, 2026
BerandaOpiniKenapa Hiro Sekolah Bola? Untuk Bekal Memasuki Dunia Digital

Kenapa Hiro Sekolah Bola? Untuk Bekal Memasuki Dunia Digital

spot_img

Kenapa Hiro Sekolah Bola?

Untuk Bekal Memasuki Dunia Digital

Oleh Adhie M Massardi

Sejak usia enam tahun, Hiro masuk sekolah bola. Bukan karena ambisi menjadikan dia pemain profesional. Karena keyakinan saya bahwa sepakbola adalah miniatur kehidupan. Di dalamnya terkandung pelajaran mendasar tentang keseimbangan jiwa, yang kelak menjadi bekal berharga untuk menghadapi dunia digital.

Ada beberapa sekolah bola yang pernah diikuti Hiro. Tapi karena kurikulumnya terlalu biasa, tidak seperti sekolah bola (SSB) yang saya bayangkan, akhirnya didirikanlah OneDream – Football Academy dengan spirit “One Dream, One Goal, One Victory”. Di SSB ((@onedreamfc) yang dikelola ibunya inilah akhirnya Hiro leluasa  mengembangkan insting survival dan naluri kognitifnya secara paralel.

Pelajaran apa yang menarik dari sepakbola yang tidak dimiliki kegiatan olahraga lain, yang bermanfaat untuk memasuki dunia masa depan, dunia digital?

Individualitas dan Kolektivitas

Kemampuan teknis individual—dribbling, passing, shooting—adalah syarat dasar. Namun Hiro belajar bahwa keterampilan itu tidak berarti tanpa kerja kolektif. Ia memahami bahwa kemenangan hanya lahir dari kolaborasi, dari kepercayaan bahwa setiap rekan tim memainkan peran penting. Filosofinya: di dunia digital, kecakapan individu harus berpadu dengan kolaborasi lintas jaringan.

BACA JUGA :  Jika Terbukti : Posisi Gibran tetap Ditentukan Keputusan Politik di Perlamen

Tujuan dan Penerimaan
Sepakbola mengajarkan bahwa kemenangan adalah tujuan, tetapi kekalahan adalah keniscayaan. Hiro belajar menerima hasil dengan jiwa besar. Ia memahami bahwa hidup bukan garis lurus menuju sukses, melainkan dialektika antara cita-cita dan keterbatasan. Di dunia digital, mentalitas ini penting. Tidak semua proyek berhasil, tetapi setiap kegagalan adalah data untuk pembelajaran.

Kepercayaan Diri dan Kepercayaan pada Orang Lain
Hiro harus yakin pada dirinya, sekaligus percaya pada teman-temannya dalam tim. Ia harus yakin bahwa temannya akan mengoper bola saat berada di posisi strategis, dan ia juga harus percaya bahwa bola yang dioper kepada temannya akan diteruskan ke gawang lawan.

Ini cara belajar bahwa kepercayaan timbal balik adalah fondasi solidaritas. Filosofinya: kehidupan menuntut keseimbangan antara self-confidence dan trust in others. Dunia digital pun demikian: tanpa kepercayaan pada jaringan, ekosistem runtuh.

Kepastian dan Kemungkinan
“Bola itu bundar” adalah adagium tentang ketidakpastian. Hiro belajar bahwa segala kemungkinan bisa terjadi, bahkan di detik terakhir. Dunia digital pun penuh probabilitas: algoritma, data, dan peluang yang tak selalu bisa diprediksi. Keseimbangan lahir dari menerima bahwa kepastian selalu berdampingan dengan kemungkinan.

BACA JUGA :  Sembilan Usulan Pokok untuk UU Ketenagakerjaan Baru

Atmosfer Kepercayaan
Kepercayaan kepada kemungkinan hanya tumbuh dalam iklim yang kredibel: aturan yang adil, wasit yang jujur, solidaritas tim. Hiro belajar bahwa ruang sosial yang bisa dipercaya adalah syarat bagi harapan dan kemungkinan. Dunia digital pun membutuhkan trust environment—etika, regulasi, dan transparansi agar inovasi bisa berkembang.

Sintesis: Survival dan Kognitif, Analog dan Digital

Sepakbola menempa kemampuan kodrati manusia—survival dan kognitif—dalam  dua horizon:

Survival instinct: keberanian bertahan, berkompetisi, dan merebut ruang.

Cognitive instinct: strategi, imajinasi, dan refleksi.

Analog: pengalaman langsung di lapangan yang berkesinambungan, tubuh, interaksi tatap muka.

Digital: abstraksi, kalkulasi, dan jaringan kemungkinan.

Keseimbangan ini menjadikan jiwanya siap memasuki dunia digital dengan fondasi yang sehat: tidak kehilangan akar analog, tetapi mampu beradaptasi dengan horizon digital.

Penutup
Hiro tidak disiapkan untuk menjadi bintang lapangan, melainkan untuk menjadi manusia yang seimbang. Sepakbola adalah pendidikan transendental. Ia menyiapkan jiwa yang matang, yang mampu menghadapi dunia digital dengan keberanian, kecerdasan, dan kepercayaan.

Sepakbola, pada akhirnya, memang satu di antara sedikit cabang olahraga yang bisa menyalurkan seluruh kapasitas paling dasar manusia. Artinya, tidak ada syarat apa pun untuk menjadi superstar bola kecuali mampu mengembangkan apa yang diberikan Tuhan kepada dirinya
Itu sebabnya Messi, Ronaldo, Yamal, tidak muncul dari mesin cetak. Ia lahir dari rahim alam.

BACA JUGA :  Amien Rais bukan Otak Pemakzulan Gus Dur, Adhie Massardi: Ada Peran Megawati

Maka dengan bekal yang dipetik dari sepakbola itu, insya Alloh, Hiro bisa memasuki masa depan bukan sebagai korban teknologi, melainkan sebagai subjek yang berdaulat dalam peradaban digital.


DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

BACA JUGA :  Setelah Solo Ngedit Pernyataan "Siap Percepat Pergantian Kekuasaan", Demo Bakal Anti-Klimaks
spot_img
Must Read
spot_img
Populer
spot_img