spot_img
spot_img
Selasa, Agustus 25, 2026
BerandaGaya HidupPendidikanRizal Fadillah Soroti Polemik Hijab di Unhan: Jangan Jadi “Universitas Hantu”

Rizal Fadillah Soroti Polemik Hijab di Unhan: Jangan Jadi “Universitas Hantu”

spot_img

Rizal Fadillah Soroti Polemik Hijab di Unhan: Jangan Jadi “Universitas Hantu”

INDOVIEWNEWS.COM, JAKARTA — Pemerhati Politik dan Kebangsaan Rizal Fadillah menyoroti polemik pengunduran diri calon kadet putri Universitas Pertahanan (Unhan), Asma Wafa Andina, yang disebut mundur setelah diminta melepas hijab jika melanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran Unhan.

Rizal menilai persoalan tersebut perlu mendapat klarifikasi serius karena menyangkut kebebasan beragama, aturan pendidikan, serta karakter institusi pertahanan.

“Berita mengundurkan diri seorang kadet Asma Wafa Andina yang telah lulus seleksi masuk Fakultas Kedokteran Unhan akibat keharusan membuka hijab telah menghebohkan publik. Terasa mundur dan mengganggu akan prinsip kebebasan beragama,” kata Rizal dalam rilisnya, Senin (24/8/2026).

Menurut dia, tuntutan klarifikasi kepada Unhan semakin menguat karena dugaan ketentuan mengenai pelepasan hijab tersebut disebut tidak memiliki landasan hukum tertulis.

“Masalahnya adalah larangan tersebut tidak memiliki landasan hukum tertulis,” tegasnya.

Rizal berpandangan penggunaan hijab tidak berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam menjalankan tugas pertahanan maupun kedisiplinan sebagai kadet.

“Penggunaan hijab tentu tidak mengganggu pertahanan negara. Tidak juga relevan dengan pembinaan disiplin,” ujarnya.

Ia bahkan menilai keputusan Asma untuk mengundurkan diri menunjukkan sikap tegas terhadap keyakinan yang dianutnya.

“Mengundurkan diri adalah bukti Asma memiliki kedisiplinan diri yang kuat, ia potensial menjadi dokter tentara yang hebat kelak,” kata Rizal.

Rizal juga menyoroti persoalan dugaan penyampaian persyaratan melepas hijab yang menurutnya baru diketahui setelah proses seleksi berlangsung.

“Sementara persyaratan membuka hijab tanpa diketahui sejak awal adalah jebakan tidak ksatria yang jelas melanggar doktrin tentara itu sendiri,” ujarnya.

Singgung Integritas Pendidikan Unhan

Lebih jauh, Rizal mengaitkan persoalan tersebut dengan prinsip pendidikan di Unhan, khususnya mengenai pembentukan karakter dan integritas.

“Bahkan dapat dikualifikasikan melanggar Tri Pola Dasar pendidikan Unhan yang di antaranya adalah pembentukan karakter insan pertahanan yang berintegritas dan berjiwa bela negara,” katanya.

Menurut Rizal, apabila memang terdapat praktik pelarangan hijab tanpa dasar aturan yang jelas, hal itu justru berpotensi bertentangan dengan semangat pembentukan karakter yang berintegritas.

“Pelarangan berhijab tanpa kejelasan aturan adalah karakter yang merusak integritas. Sebaliknya justru kepatuhan agama sangat berpengaruh kuat terhadap pembentukan karakter insan pertahanan yang berintegritas,” ujarnya.

Rizal kemudian mengingatkan sejarah perjuangan bangsa, termasuk semangat religius yang melekat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

“Kalimat takbir Bung Tomo menggerakkan semangat perlawanan serta meneguhkan keyakinan untuk pertahanan dan bela negara. Begitu juga dengan doktrin moral dan keagamaan Jenderal Soedirman demi pertahanan negara,” katanya.

Ia menegaskan bahwa nilai agama dan semangat bela negara tidak semestinya dipertentangkan.

“Unhan tentu tidak ingin mengkhianati keduanya. Unhan bukan Universitas Hantu yang menjadi pengabai, penista, dan perusak nilai-nilai moral dan agama,” ujar Rizal.

Soroti Kasus di Fakultas Kedokteran

Rizal juga membawa persoalan tersebut ke konteks yang lebih luas dengan menyinggung kasus dugaan permainan biaya masuk Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) yang telah mendapat perhatian Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Di tengah skandal permainan biaya untuk masuk ke Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman yang berujung pada kerja KPK atas Rektor dan jajarannya, maka sikap Asma Wafa Andina adalah teguran keras kepada Rektor dan jajaran Unhan agar tidak berkhianat kepada Bung Tomo, Jenderal Soedirman, dan para pejuang pertahanan lainnya,” kata Rizal.

Ia kemudian menyampaikan kritik keras agar Unhan tidak kehilangan nilai integritas dalam menjalankan pendidikan pertahanan.

“Teguran keras itu adalah jangan jadikan Unhan sebagai Universitas Hantu yang terus bergentayangan menyuburkan perilaku korup dengan berbaju pertahanan,” tegasnya.

“Hantu memang senantiasa takut dan menjauh dari nilai-nilai agama,” lanjut Rizal.

Kemhan Beri Klarifikasi

Sementara itu, polemik mengenai dugaan larangan hijab di Unhan telah mendapat perhatian Kementerian Pertahanan (Kemhan). Dalam klarifikasinya, Kemhan menegaskan bahwa kadet perempuan Muslim di Unhan diperbolehkan mengenakan hijab.

Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga meminta Unhan memberikan klarifikasi resmi agar polemik tersebut tidak berkembang menjadi keresahan di masyarakat. MUI mencatat bahwa Asma mengaku memilih mundur setelah menghadapi dugaan kebijakan tidak tertulis mengenai kewajiban melepas hijab.

Dengan demikian, polemik ini masih menyisakan pertanyaan mengenai adanya perbedaan antara informasi yang diterima Asma dalam proses penerimaan kadet dengan penjelasan resmi Kemhan bahwa kadet perempuan diperbolehkan mengenakan hijab.

Klarifikasi lebih rinci dari Unhan mengenai prosedur, aturan tertulis, serta kronologi yang dialami Asma menjadi penting agar persoalan tersebut dapat dijelaskan secara terang dan tidak menimbulkan persepsi yang keliru di tengah masyarakat.

spot_img
Must Read
spot_img
Populer
spot_img