Oleh: Kurtubi
Tokoh Masyarakat Tangerang
Kalimat ini bukan sekadar pantun atau seruan. Ini adalah hukum sosial yang tak tertulis namun selalu berlaku sepanjang masa.
Di balik dua baris sederhana itu, tersimpan kebenaran mendasar tentang hubungan antara penguasa dan rakyat: bahwa kekuasaan bukan milik pejabat, melainkan amanah yang dititipkan. Dan rakyat adalah pengawas tertinggi yang tak bisa dipecat, tak bisa dibubarkan, dan tak bisa dibungkam selamanya.
1. LOGIKA DASAR: SIKAP RAKYAT ADALAH CERMIN PEJABAT
Hubungan rakyat dan pejabat ibarat dua sisi mata uang. Bukan yang saling sama, melainkan yang saling mencerminkan.
Pejabat Beradab : Rakyat Punya Sikap yang Terhormat
Ketika pejabat bersikap jujur, transparan, mendengar aspirasi, dan tidak memperkaya diri sendiri, maka rakyat tidak perlu berteriak, tidak perlu mengamuk, dan tidak perlu memprotes di jalanan. Rakyat cukup bersikap tegas, berpendapat dengan sopan, dan mengawasi dengan tenang. Sikap rakyat menjadi beradab karena pejabatnya telah memberi teladan keadaban itu sendiri.
Pejabat Khianat & Korupsi : Rakyat Menghujat
Korupsi dan pengkhianatan terhadap amanah adalah luka yang tak bisa disembunyikan. Ketika pejabat mencuri uang rakyat, mengkhianati janji, dan berpihak pada kekuasaan serta modal, maka rakyat tidak punya pilihan bahasa lain selain hujatan, protes keras, dan penolakan terbuka. Bukan rakyat yang kasar.Tapi pejabatlah yang lebih dulu merendahkan derajatnya sendiri dengan perbuatan tercela.
Jangan menyalahkan rakyat yang berteriak, jika pejabatlah yang lebih dulu melanggar.
2. KORUPSI DAN KHIANAT: PELANGGARAN BERGANDA TERHADAP KONSTITUSI
Korupsi bukan sekadar pelanggaran aturan keuangan. Ini adalah pengkhianatan berlipat ganda:
1. Pengkhianatan Konstitusi
UUD 1945 Pasal 23 ayat (1) menyatakan: “Anggaran pendapatan dan belanja negara sebagai wujud dari pengelolaan keuangan negara ditetapkan setiap tahun dengan undang-undang dan dilaksanakan secara terbuka dan bertanggung jawab.” Korupsi adalah pencurian terhadap ketentuan tertinggi negara.
2. Pengkhianatan Sosial
Setiap rupiah yang dikorupsi adalah biaya pendidikan yang tidak terjangkau, rumah sakit yang kekurangan obat, jalan yang berlubang, dan sawah yang tidak terairi. Korupsi membunuh rakyat secara perlahan.
3. Pengkhianatan Amanah
Pejabat menerima gaji dan fasilitas dari rakyat. Mengambil lebih dari itu sama dengan merampas rezeki dari yang sudah susah.
Tidak heran jika rakyat menghujat. Itu bukan kebencian tanpa alasan. Itu adalah reaksi alami dari tubuh yang sedang diracun.
3. MENGAPA “PEJABAT BERADAB” MEMBUAT RAKYAT BERADAB JUGA?
Keadaban pejabat bukan soal sopan santun berbicara. Keadaban di sini berarti:
1. Taat hukum tanpa pandang bulu
2. Mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi dan kelompok
3. Terbuka terhadap kritik dan tidak membalas dengan kekuasaan
4. Menghormati rakyat sebagai pemberi mandat, bukan bawahan yang harus ditakuti
Ketika pejabat beradab, maka:
1.Rakyat percaya pada proses demokrasi
2.Rakyat menyampaikan aspirasi dengan tenang dan berargumen
3.Perselisihan diselesaikan di meja dialog, bukan di jalanan
4.Keadilan menjadi harapan, bukan impian yang dijauhkan
Sikap rakyat yang tenang adalah hadiah terindah bagi pejabat yang jujur.
4. KETIKA HUKUM HANYA BERLAKU UNTUK RAKYAT KECIL
Yang membuat rakyat semakin menghujat bukan hanya karena korupsi terjadi, tapi karena ketidakadilan dalam penegakan hukum:
1. Koruptor besar sering kali terlindungi, divonis ringan, atau bahkan bebas
2. Pejabat yang mengkhianati amanah justru naik jabatan dan berkuasa lebih lama
3. Sementara rakyat kecil yang salah sedikit langsung diproses dengan keras
Inilah yang melahirkan hujatan paling tajam: bukan karena hukum ada, tapi karena hukum tidak sama untuk semua orang.
Jika pejabat ingin rakyat berhenti menghujat, maka jawabannya sederhana: tegakkan hukum tanpa pandang bulu. Hukum pejabat sama beratnya dengan hukum rakyat.
5. RAKYAT TIDAK PERNAH MENJADI MUSUH PEJABAT YANG JUJUR
Rakyat tidak membenci pejabat. Rakyat membenci pengkhianat dan pencuri yang menyamar sebagai pejabat.
– Jika ingin rakyat punya sikap yang beradab: jadilah pejabat yang beradab terlebih dahulu.
– Jika tidak ingin dihujat: jangan berkhianat dan jangan korupsi.
Tidak ada rakyat yang terus-menerus membenci pemimpin yang bekerja untuk mereka. Tidak ada rakyat yang terus-menerus menghujat pejabat yang jujur, menderu, dan berjuang.
Sikap rakyat adalah cermin yang paling jujur. Ia tidak pernah berbohong. Ia hanya menampilkan apa yang diperlihatkan pejabatnya.
Maka jangan tanya mengapa rakyat menghujat. Tanyakan pada diri sendiri: apa yang telah pejabat berikan kepada rakyat, selain janji yang patah dan keadilan yang dijanjikan terus ditunda-tunda.







