spot_img
spot_img
Selasa, Agustus 25, 2026
BerandaHeadlineProf Din Syamsuddin: Indonesia-Malaysia Bisa Jadi Penggerak Kebangkitan Peradaban Islam

Prof Din Syamsuddin: Indonesia-Malaysia Bisa Jadi Penggerak Kebangkitan Peradaban Islam

spot_img

Prof Din Syamsuddin: Indonesia-Malaysia Bisa Jadi Penggerak Kebangkitan Peradaban Islam

INDOVIEWNEWS.COM — Ketua Pembina Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC), Prof. Dr. Din Syamsuddin, optimistis Indonesia dan Malaysia dapat menjadi penggerak kebangkitan kembali peradaban Islam di tengah perubahan geostrategis dunia yang semakin kompleks.

Optimisme tersebut disampaikan Prof Din Syamsuddin dalam Persidangan Kedua Majelis Cendekiawan Madani Malaysia-Indonesia (Madani Malindo) yang merupakan inisiatif dan kerja sama CDCC dengan Institut Kefahaman Islam Malaysia (IKIM), di Hotel Ambhara, Jakarta Selatan, pada 20-23 Agustus 2026.

“Dunia Arab, Persia, Afrika telah menjalankan tugas peradabannya. Kini giliran Asia Tenggara,” kata Prof Din Syamsuddin.

Menurut Prof Din, umat Islam di Indonesia dan Malaysia perlu menyadari adanya tanggung jawab kesejarahan untuk menjadi pemrakarsa kebangkitan kembali peradaban Islam dalam menghadapi masa depan yang penuh tantangan, terutama di tengah arus perubahan geostrategis dunia di bidang ekonomi dan politik.

Persidangan kedua Madani Malindo yang mempertemukan 110 cendekiawan dari dua negara serumpun itu, menurutnya, berlangsung lancar dan akrab serta menghasilkan berbagai pemikiran penting, substantif, dan strategis bagi perumusan konsep serta strategi perwujudan Negara Madani di Indonesia dan Malaysia.

Pertemuan tersebut juga dinilai semakin memperkuat silaturahim dan silatulfikri antara para cendekiawan kedua negara, yang menghasilkan sejumlah kesepakatan dan peta jalan bagi perwujudan masyarakat dan negara madani di kawasan Asia.

Melalui forum itu, para cendekiawan Indonesia dan Malaysia bersepakat bahwa Wawasan Negara Madani memiliki relevansi untuk mendorong kebangkitan peradaban Melayu-Islam.

Prof Din menjelaskan, perwujudan wawasan tersebut dapat dilakukan dengan menyenyawakan nilai-nilai keutamaan madani dalam kerangka negara bangsa yang telah ada di Indonesia maupun Malaysia.

“Nilai-nilai keutamaan itu sudah terdapat dalam falsafah Negara Pancasila maupun Rukun Negara,” tegasnya.

Menurut dia, tantangan ke depan adalah melakukan revitalisasi nilai-nilai keutamaan tersebut dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara secara murni dan konsekuen.

“Jika Nilai-nilai Keutamaan Madani atau Madani Virtues dapat terwujud di kawasan Malindo, maka pengarusutamaannya dapat dilakukan pada kawasan yang lebih luas di Asia Tenggara maupun dunia,” ujar Prof Din.

Persidangan Kedua Majelis Cendekiawan Madani Malaysia-Indonesia turut dihadiri Menteri Agama Malaysia, Zulkifli Hasan, yang juga memprakarsai dan meresmikan Madani Malindo pada persidangan pertama di Kuala Lumpur tahun lalu.

Direktur Jenderal IKIM, Mohamed Azam, memimpin delegasi Malaysia yang terdiri atas para akademisi Islam, pimpinan lembaga kajian, serta organisasi-organisasi keislaman.

Dari Indonesia, hadir pula sejumlah cendekiawan, akademisi, dan pimpinan ormas Islam tingkat pusat. Sejumlah pejabat juga mengikuti pertemuan tersebut, antara lain Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, Anggota DPR RI Jazuli Juwaini, dan Kepala BRIN Arif Satria.

Mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla turut berpartisipasi dengan menyampaikan ceramah kunci. Selain itu, hadir sejumlah anggota Kabinet RI, di antaranya Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, Wakil Menteri Luar Negeri Anis Matta, serta Dirjen Saintek Kemendiktisaintek Ahmad Najib Burhani.

spot_img
Must Read
spot_img
Populer
spot_img