Aktivis Senior 1980-an & 1998 Soroti Perang AS-Iran: Terlalu Mahal bagi Washington, Berdampak Negatif ke ASEAN
INDOVIEWNEWS.COM— Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dinilai terlalu mahal bagi Washington dan berpotensi menimbulkan dampak negatif yang luas terhadap Asia Tenggara, khususnya negara-negara ASEAN.
Pengamat Timur Tengah sekaligus penasihat Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES), Smith Alhadar, menyampaikan pandangan tersebut dalam diskusi terbatas bertajuk “Perubahan Geopolitik Kawasan ASEAN Pasca Perang Teluk” di TIM, Jakarta, bersama sejumlah aktivis senior Gerakan Mahasiswa 1980-an dan 1998.
Diskusi tersebut dimoderatori Herdi Sahrasad, associate professor Sekolah Pascasarjana Universitas Paramadina. Peserta antara lain mantan Sekjen DPR RI Dr. Ir. Indra Iskandar, mantan aktivis ITB Ir. Ammarsyah Purba, mantan aktivis GMNI Bab R Randilawe, aktivis NGO Standard Kia, Niko Ardian, Kasino, Barita, dan sejumlah peserta lainnya.
Dalam pandangannya, Smith menilai Amerika Serikat menghadapi perang yang membutuhkan biaya ekonomi dan militer sangat besar. Sementara itu, Israel disebut memiliki kepentingan agar perang terus berlanjut untuk menundukkan Iran sebagai kekuatan regional di Timur Tengah.
“Perang AS dengan Iran terlalu mahal dan AS kehabisan sumberdaya ekonomi-militer yang dibutuhkan untuk mengalahkan Iran. Tapi Iran yakin tak bisa dikalahkan, bahkan Iran mengklaim memenangkan perang tersebut,” kata Smith.
Smith, yang pernah menjalani studi di Iran selama dua tahun, mengatakan Israel berkepentingan agar konflik tersebut terus berlangsung.
“Israel berkepentingan untuk perang ini dilanjutkan karena ingin menundukkan Iran agar tidak jadi kekuatan regional di Timur Tengah,” ujarnya.
Menurut Smith, kondisi tersebut juga menempatkan Presiden AS Donald Trump dalam posisi dilematis. Ia menilai Trump akan menghadapi tekanan politik apabila menghentikan perang sebelum Iran berhasil dikalahkan.
“Trump akan kalah telak kalau dia menghentikan perang sebelum Iran kalah, tapi Iran tidak bisa kalah sehingga dilematis bagi Israel,” ujar Smith Alhadar.
Israel Dinilai Khawatir Kehilangan Dukungan Barat
Smith juga menilai Israel menyadari bahwa dukungan Amerika Serikat dan Eropa Barat terhadap kepentingannya di Timur Tengah tidak akan selalu dapat diandalkan untuk mempertahankan dominasinya di kawasan.
Ia menilai perang terbuka maupun upaya regime change atau pergantian rezim di Iran oleh Amerika Serikat merupakan langkah yang tidak rasional dan kecil kemungkinan berhasil.
Smith juga menyoroti tuntutan AS agar Iran membatasi program rudal balistiknya. Menurut dia, tuntutan tersebut sulit diterima Teheran karena rudal balistik merupakan salah satu sistem pertahanan utama Iran.
“Gagalnya tekanan militer atau ancaman militer dari AS tidak akan melemahkan Iran, justru semakin memperkuat perlawanan rakyatnya demi mempertahankan martabat bangsa, dengan nasionalisme Iran yang luar biasa,” kata Smith.
Smith juga menyoroti kepentingan Israel untuk mendorong AS terus melanjutkan perang atau memprovokasi konflik baru. Ia bahkan menyebut adanya potensi sabotase yang menurutnya dapat berkaitan dengan kepentingan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Dampak Perang Mengancam ASEAN
Lebih jauh, Smith mengatakan konflik Iran dengan AS dan Israel tidak hanya berdampak terhadap Timur Tengah, tetapi juga berpotensi memberikan tekanan besar terhadap Asia Tenggara.
Lonjakan harga energi menjadi salah satu konsekuensi yang perlu diantisipasi. Kenaikan harga energi dinilai dapat memberikan efek berantai terhadap kondisi ekonomi, sosial, dan keamanan negara-negara di kawasan.
Terkait perkembangan perundingan dan kemungkinan gencatan senjata, Smith melihat baik AS maupun Iran sama-sama berusaha menunjukkan posisi kuat, sementara situasi masih dipenuhi ketidakpastian.
Menurut Smith, konflik tersebut berpotensi berlangsung panjang dan memberikan dampak negatif bagi kawasan Asia Tenggara.
“Perang Iran-AS/Israel akan panjang dan terus berdampak negatif bagi Asia Tenggara dengan segenap implikasinya yang sangat merugikan ASEAN,” tegas Smith Alhadar.
DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.







