CAFÉ PENTA HELIX BUKAN CAFÉ
Sebuah Gagasan tentang Meja yang Mempertemukan Potensi Indonesia
Ditulis oleh:
Asdi Fitri – Joko Kundaryo – Himawan Wardoyo – Makdang Edi – Joko Warsito
Forum Dialog Peradaban
—
Ada sebuah café yang sebenarnya bukan café.
Tidak ada bangunan.
Tidak ada meja.
Tidak ada kursi.
Tidak ada barista.
Tidak ada daftar menu.
Tetapi kami membayangkan sebuah meja.
Di meja itu duduk orang-orang yang biasanya berada di tempat berbeda.
Ada akademisi.
Ada pemerintah.
Ada pengusaha.
Ada bankir.
Ada masyarakat.
Ada budayawan.
Ada aktivis lingkungan.
Ada teknolog.
Dan ada orang yang tugasnya sederhana:
memastikan semua orang tidak hanya berbicara, tetapi menghasilkan sesuatu.
Kami menyebut meja itu:
CAFÉ PENTA HELIX
—
Bukan café. Bukan lembaga baru.
Nama “Café” sengaja dipilih karena terdengar sederhana.
Tidak formal.
Tidak menakutkan.
Tidak birokratis.
Orang bisa membayangkan:
«“Mari duduk. Kita ngopi. Kita punya masalah. Kita cari jalan keluarnya.”»
Tetapi sesungguhnya Café Penta Helix adalah gagasan tentang:
«platform orkestrasi lintas-sektor untuk mengubah potensi menjadi proyek nyata.»
Ia bisa berbentuk forum.
Bisa berbentuk sekretariat kecil.
Bisa berbentuk platform digital.
Bisa berbentuk ruang pertemuan.
Bisa pula hanya berupa mekanisme kerja.
Yang penting bukan bentuk fisiknya.
Yang penting:
«ada masalah, ada orang yang mempunyai kemampuan, ada data, ada keputusan, dan ada tindakan.»
—
Indonesia sebenarnya tidak kekurangan helix
Kita sering mengatakan Indonesia memiliki Penta Helix:
government – academia – business – community – media.
Tetapi dalam praktik pembangunan, masing-masing sering berjalan pada jalurnya sendiri.
Kampus mempunyai penelitian.
Pemerintah mempunyai program.
Pengusaha mempunyai modal dan pasar.
Bank mempunyai dana.
Masyarakat mempunyai lahan dan tenaga.
Teknolog mempunyai alat.
Budayawan mempunyai pengetahuan sosial.
Aktivis lingkungan mempunyai kepedulian ekologis.
Semua mempunyai sesuatu.
Pertanyaannya:
«Mengapa semuanya tidak selalu menjadi satu kekuatan?»
Mungkin bukan karena mereka tidak mau bekerja sama.
Mungkin karena mereka belum mempunyai:
MEJA BERSAMA.
—
Bayangkan seorang pengusaha datang
Ia berkata:
«“Kawan-kawan, fasilitas kredit saya masih belum terpakai Rp2 triliun. Ada proyek agribisnis yang bisa menyerap dana ini?”»
Kalau pertemuan biasa, mungkin akan muncul banyak presentasi.
Kampus bicara penelitian.
Pemerintah bicara program.
Bank bicara persyaratan kredit.
Pengusaha bicara bisnis.
Masyarakat bicara kebutuhan.
Kemudian moderator berkata:
«“Baik, nanti kita tindak lanjuti.”»
Semua pulang.
Notulen dibuat.
Folder dibuat.
Dan mungkin beberapa bulan kemudian:
tidak terjadi apa-apa.
Café Penta Helix membayangkan sesuatu yang berbeda.
Bankir bertanya:
«“Proyeknya mana?”»
Kampus membuka data:
«“Ada Living Laboratory yang sudah menguji modelnya.”»
Industri membuka dokumen:
«“Kami punya kebutuhan bahan baku dan spesifikasi buyer.”»
Masyarakat berkata:
«“Lahannya ada.”»
Pemerintah berkata:
«“Status kawasan dan regulasinya kita cek.”»
Aktivis lingkungan berkata:
«“Environmental baseline-nya harus masuk.”»
Budayawan berkata:
«“Masyarakat lokal jangan hanya menjadi tenaga kerja.”»
Kemudian seseorang membuka satu folder:
«Project Data Pack.»
Dan percakapan berubah menjadi:
«“Berapa luasnya?”»
«“Berapa investasinya?”»
«“Berapa produksinya?”»
«“Siapa pembelinya?”»
«“Kapan bisa dimulai?”»
Nah.
Itulah Café Penta Helix.
—
Kampus tidak datang membawa gelar
Kampus datang membawa:
science.
Pertanyaannya bukan lagi:
«“Apa penelitian yang ingin kami lakukan?”»
Tetapi:
«“Persoalan apa yang perlu kami pecahkan?”»
Misalnya muncul pertanyaan sederhana:
Apakah kunyit bisa dibudidayakan di bawah tegakan sawit?
Kampus tidak menjawab:
Atau:
«“Tidak bisa.”»
Kampus berkata:
«“Mari kita uji.”»
Di Living Laboratory dilakukan penelitian.
DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.







