Jangan Lempar Semua Kesalahan ke Pundak Kampus
Tanggapan Atas Peringatan Jusuf Kalla dan Realitas Pengangguran Sarjana
Oleh: Sobirin Malian
(Dosen FH UAD)
Pernyataan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang memperingatkan dunia pendidikan agar tidak “asal meluluskan” mahasiswa di tengah melonjaknya angka pengangguran memang terdengar masuk akal di permukaan. Beliau menyentuh fenomena nyata: kesenjangan keterampilan (skills gap) antara apa yang diajarkan di bangku kuliah dan apa yang dibutuhkan di dunia kerja. Namun, jika ditelaah lebih dalam, membebankan seluruh tanggung jawab pengangguran kepada lembaga pendidikan adalah pandangan yang dangkal, tidak adil, dan menyesatkan.
Logikanya sederhana: universitas terbaik sekalipun yang mencetak jutaan lulusan berkompetensi tinggi dan berprestasi cemerlang, tidak akan mampu menciptakan lapangan kerja jika perekonomian tidak menyediakannya. Kualitas lulusan hanyalah separuh dari persamaan; separuh lainnya — yang kerap diabaikan — adalah kemampuan negara menyediakan ruang dan kesempatan bagi mereka untuk berkarya.
1. Sarjana Berkualitas di Atas Jalan yang Belum Dibangun
Menyalahkan kampus atas tingginya angka pengangguran ibarat memarahi pabrik yang memproduksi kendaraan andal, padahal pemerintah yang gagal membangun jalan raya. Di sinilah letak tanggung jawab negara yang sesungguhnya.
Sehebat apa pun pembaruan kurikulum, penyerapan tenaga kerja sangat bergantung pada kebijakan makroekonomi dan kemampuan menarik investasi yang tepat sasaran. Tantangan terbesar Indonesia saat ini adalah pertumbuhan ekonomi yang didominasi sektor padat modal — seperti pertambangan dan komoditas — yang menyerap sedikit tenaga kerja. Sebaliknya, sektor padat karya yang mampu menampung lulusan dalam jumlah besar, seperti industri pengolahan, tekstil, dan jasa, justru tumbuh lambat. Tanpa industrialisasi yang kuat dan berkelanjutan, gelar sarjana hanya akan menjadi selembar kertas yang tidak berdaya di pasar kerja yang sempit.
2. Sekadar Pencari Kerja, Bukan Pencipta Lapangan Kerja
Kritik mendasar lainnya adalah hilangnya fokus pada pembentukan wirausaha. Negara tidak boleh menjadikan dirinya satu-satunya pemberi kerja melalui jalur birokrasi seperti ASN atau BUMN. Tugas negara adalah membuka jalan agar lulusan berubah dari sekadar pencari kerja (job seekers) menjadi pencipta lapangan kerja (job creators).
Namun, mendirikan usaha di Indonesia masih dipenuhi rintangan sistemik yang membebani pemula:
– Akses permodalan yang kaku: Bank mewajibkan jaminan yang sulit dipenuhi, sementara skema pembiayaan publik belum memadai. Padahal, modal ventura dan penyempurnaan KUR tanpa persyaratan yang memberatkan sangat dibutuhkan untuk memulai usaha.
– Iklim usaha yang belum bersahabat: Birokrasi berbelit, infrastruktur tidak merata, dan ketidakpastian hukum masih menyelimuti pelaku usaha baru. Belum lagi praktik monopoli yang mematikan peluang tumbuhnya usaha kecil. Selama hambatan ini tidak dibenahi, materi kewirausahaan yang diajarkan di kampus tidak akan pernah tumbuh menjadi kenyataan.
3. Berhenti Saling Menuding, Bangun Sinergi Tiga Pilar
Pengangguran adalah masalah sistemik yang tidak bisa diselesaikan dengan menunjuk siapa yang salah. Diperlukan kerja sama menyeluruh antara tiga pihak utama — pendekatan Tiga Helai / Triple Helix:
Pilar Peran Strategis Dampak Nyata
Dunia Pendidikan Memperbarui kurikulum, memperkuat keterampilan praktis, kemampuan berpikir kritis, dan kemampuan beradaptasi. Menghasilkan lulusan yang tangguh, kreatif, dan siap berkembang.
Pemerintah Menciptakan iklim investasi yang menyerap tenaga kerja, memberi insentif magang di dunia usaha, serta mempermudah izin dan permodalan usaha. Membuka lapangan kerja baru dan menjamin kepastian berusaha.
Sektor Swasta Terbuka menerima lulusan, menyampaikan kebutuhan industri secara jujur, dan ikut berperan dalam pendidikan serta pelatihan. Menghapus kesenjangan antara teori dan kebutuhan dunia kerja.
Penutup: Bukan Hanya Soal Bahan Baku, Tapi Juga Wadahnya
Kesimpulannya, memang benar dunia pendidikan perlu terus memperbaiki kualitasnya. Namun, menyalahkan kampus seakan-akan merekalah penyebab utama pengangguran adalah ketidakadilan yang berbahaya. Angka pengangguran meningkat bukan semata-mata karena lulusan kurang mampu, melainkan karena negara belum berhasil membangun ekonomi yang inklusif dan memberi ruang tumbuh bagi usaha baru.
Pendidikan menyediakan bahan baku yang baik. Namun, negaralah yang bertugas menyediakan wadah yang layak. Jika wadahnya bocor, bahan baku sebaik apa pun akan terbuang sia-sia. Mengubah narasi dari saling tuduh menuju kerja sama yang nyata — itulah jalan keluar yang sesungguhnya kita butuhkan.
DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.







