spot_img
spot_img
Selasa, September 15, 2026
BerandaOpiniIntelektual Zaman Analog dan Era Digital

Intelektual Zaman Analog dan Era Digital

spot_img

PROSES KREATIF

Intelektual Zaman Analog dan Era Digital

OLEH ADHIE M MASSARDI

Kalimat ini ditulis Darmawan Sepriyossa dalam artikel bertajuk “Ketika Kemajuan Kehilangan Adab”. Esai ini mengupas buku Peradaban not just Civilization karya Adhie M Massardi yang dirilis Penerbit Buku Kompas, 2026 (https://jernih.co/solilokui/ketika-kemajuan-kehilangan-adab/ )

Sebagai penulis, saya tersanjung membaca apresiasi Darmawan karena meskipun melihat penulis “seperti seorang pejalan yang ingin memasuki terlalu banyak kota”, namun “benang merahnya tidak terputus”. Artinya, kota-kota yang disinggahi tidak diperlakukan sebagai latar belakang untuk selfie belaka.

Saya tidak bermaksud menjawab, apalagi membantah kalimat ini. Tulisan ini ingin menjelaskan bahwa di era digital, seorang intelektual bisa seperti memiliki Buraq—hewan tunggangan yang digunakan Nabi Muhammad SAW untuk perjalanan Isra dan Mi’raj—sehingga dalam tempo singkat bisa melakukan perjalanan lintas waktu, lintas zaman dan lintas benua.

Kenapa bisa melakukan hal itu? Begini risalahnya:

Perjalanan dari Analog ke Digital

Saya hidup dan mulai menulis di zaman analog, ketika bahan pengetahuan harus dicari secara manual. Untuk mendapatkan satu atau dua kalimat yang diperlukan, saya harus memilah buku dan membuka halaman demi halaman. Karena itu, setiap hendak menulis esai, di atas meja—di samping mesin ketik yang kemudian berganti menjadi komputer personal—selalu bertumpuk kliping koran, majalah, ensiklopedia, dan buku-buku yang akan dijadikan referensi.

Zaman ini melahirkan tren memajang ensiklopedia tebal berjilid-jilid, juga buku-buku ekslusif  di lemari kaca di ruang tamu. Tidak penting apakah buku-buku itu pernah dibuka atau tidak. Tapi dari sana memang terpancar aura intelektual itu.

BACA JUGA :  Kanvas Gemilang 2026: Investasi Ide, Bukan Bagi-bagi Uang

Sekarang saya hidup dan menulis di era digital, ketika bahan pengetahuan tersedia melimpah dan dapat ditelusuri dalam waktu yang jauh lebih singkat.

Saya pun berangkat dari keyakinan bahwa pembaca hidup dalam ekosistem pengetahuan yang sama. Karena itu, saya tidak merasa perlu memindahkan seluruh gudang pengetahuan ke halaman buku agar sebuah gagasan dapat dipahami.

Karena itu yang diperlukan adalah fakta empiris dan bukti yang cukup untuk menjaga keutuhan argumentasi. Setiap fakta penting tetap harus memiliki pijakan yang dapat dipertanggungjawabkan. Tetapi buku tidak harus berubah menjadi gudang yang menampung seluruh bahan pembuktian.

Dengan demikian, jejak-jejak pengetahuan yang saya tinggalkan setelah berpikir dan bergerak secara quantum leap—melintasi waktu, zaman, kebudayaan, dan disiplin ilmu—dapat berfungsi seperti stabilo atau garis bawah. Ia menandai sesuatu yang penting untuk diperhatikan.

Apabila pembaca ingin mengetahui apa yang berada di balik tanda itu secara lebih luas dan mendalam, jejak tersebut dapat dijadikan mata kail untuk memancing pengetahuan yang lebih utuh dari hamparan pengetahuan digital.

Di zaman analog, intelektual melepaskan gagasannya kepada publik. Di era digital, intelektual dapat berjalan bersama publik mengikuti perjalanan gagasan itu.

Sebab di era digital, buku tidak lagi harus memindahkan seluruh isi laut pengetahuan ke halaman-halamannya. Cukuplah ia memberikan kail dan menunjukkan di mana pembaca dapat melemparkannya.

Di sinilah cara berpikir quantum leap memperoleh maknanya. Ia bukan sekadar kemampuan menjadikan seorang intelektual sebagai penjelajah waktu atau time traveler yang bergerak dari satu zaman ke zaman lainnya.

BACA JUGA :  Panggung Sandiwara Hukum dan Wajah Demokrasi yang Terbakar

Ia menjadikan intelektual bekerja seperti arkeolog peradaban.

Seorang arkeolog tidak membawa pulang seluruh lapisan tanah yang digalinya. Ia menemukan artefak, mengenali nilainya, membaca jejak yang ditinggalkannya, kemudian menempatkannya dalam bentang sejarah yang lebih luas.

Demikian pula intelektual era digital. Ia menjelajahi hamparan pengetahuan umat manusia, menemukan artefak-artefak gagasan dari zaman dan kebudayaan yang berbeda, lalu mengenali bahwa di antara benda-benda yang tampaknya berjauhan itu masih terdapat kilau nilai yang sama.

Karena itu, berpikir quantum leap bukan melompat tanpa pijakan. Ia justru membutuhkan keluasan horizon pengetahuan, ketajaman menemukan hubungan, kemampuan membaca makna, serta tanggung jawab untuk memastikan bahwa artefak gagasan yang ditemukan memang layak ditempatkan dalam bangunan pemikiran yang sedang disusun.

The Death of the Author

Era digital menyediakan hamparan pengetahuan. AI membantu mempercepat penggalian. Tetapi manusialah yang harus mengenali artefak mana yang bernilai, membaca kilau maknanya, dan menentukan untuk apa ia dihadirkan kembali.

Pada akhirnya, era digital bukan hanya mengubah proses kreatif seorang intelektual, tetapi juga mengubah hubungannya dengan publik. Publik intelektual yang dahulu terutama hadir sebagai pembaca karya (teks) dan audiens dalam berbagai forum, kini memperoleh ruang baru dalam komunitas daring (online).

Di ruang ini, publik tidak lagi hanya menerima gagasan setelah dilepaskan oleh penulis, tetapi dapat menanggapi, mempertanyakan, mengkritik, bahkan ikut memperpanjang perjalanan gagasan itu. Hubungan intelektual dengan publik pun bergerak dari komunikasi yang cenderung satu arah menuju percakapan yang dapat berlangsung terus-menerus.

BACA JUGA :  Demokrasi Liberal - UUD 45/2002 : Sumber Utama Malapetaka Ketidak-adilan Sosial Rakyat Indonesia

Perubahan ini memberikan konteks baru bagi pandangan Roland Barthes dalam The Death of the Author (1967). Barthes membebaskan teks dari otoritas pengarang agar pembaca dapat melahirkan maknanya sendiri.

Era digital tidak membatalkan kebebasan itu, tetapi membuka kemungkinan yang belum tersedia dalam ekosistem kepengarangan zamannya: penulis dapat hadir kembali di hadapan pembacanya.

Bukan untuk merebut kembali kedaulatan atas tafsir, melainkan untuk memasuki percakapan yang terus berlangsung setelah sebuah karya dilepaskan ke ruang publik. Buku pun tidak lagi harus menjadi titik akhir hubungan penulis dan pembaca, tetapi dapat menjadi pintu masuk menuju dialog intelektual yang hidup.

Jika Barthes memaklumkan “kematian pengarang” untuk memberi tempat bagi kelahiran pembaca, era digital memungkinkan keduanya tetap hidup—dan bertemu kembali dalam percakapan yang sama.


DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

BACA JUGA :  Sepanjang Wapres Tidak Berambisi Jadi Presiden Demo Sebesar Apapun Akan Tetap Kondusif
spot_img
Must Read
spot_img
Populer
spot_img