Ngopi Sewarung
Presiden Prabowo dan Pengertian Kata Go-Block
Kata “goblok” tiba-tiba menjadi perhatian publik setelah Presiden Prabowo Subianto mengucapkannya dalam pidato pada peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di JICC, Jakarta, Jumat, 18 September 2026.
Dalam pidatonya, Presiden menyinggung sejumlah pakar yang kerap mengkritik kebijakan pemerintah. Menurut Prabowo, ada pakar yang karena terlalu merasa pintar justru bisa kehilangan kejernihan dalam melihat persoalan.
“Saking pintarnya jadi goblok,” demikian salah satu pernyataan Prabowo yang kemudian ramai diberitakan dan diperbincangkan di media sosial.
Ucapan tersebut tentu mengundang beragam tanggapan. Sebagian masyarakat menilai kata “goblok” terlalu kasar dan kurang elok digunakan oleh seorang kepala negara di ruang publik. Sebagian lainnya bahkan mengaitkannya dengan cara pemerintah dalam merespons kritik sebagai kurang bijak.
Perdebatan seperti itu sesungguhnya wajar dalam kehidupan demokrasi. Sebab, kata “goblok” dalam penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari memang telah lama memiliki konotasi negatif. Ia lazim digunakan sebagai ungkapan kasar untuk menyebut seseorang yang dianggap bodoh atau tidak cerdas.
Namun, saya memiliki tafsir yang sedikit berbeda.
Saya sendiri sesekali menggunakan istilah “go-block” dalam percakapan terbatas, termasuk di grup WhatsApp yang saya pimpin.
Saya memaknainya bukan semata-mata sebagai kata “goblok”, melainkan sebagai permainan makna dari bahasa Inggris: go dan block.
Go berarti pergi atau bergerak, sedangkan block dapat dimaknai sebagai blok, ruang, atau sesuatu yang membatasi dan menutup.
Dari sini saya memaknai “go-block” sebagai keadaan ketika pikiran dan pandangan seseorang berada di dalam sebuah ruang yang tertutup.
Ia bisa saja sangat pandai berbicara. Bisa memiliki gelar tinggi. Bisa menguasai banyak teori. Bahkan bisa sangat yakin terhadap pendapatnya sendiri.
Tetapi ketika pikiran sudah berada dalam sebuah “kotak”, ia mungkin kehilangan kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang lebih luas.
Matanya melihat, tetapi tidak benar-benar melihat.
Telinganya mendengar, tetapi tidak benar-benar mendengar.
Pikirannya bekerja, tetapi hanya bergerak di dalam ruang yang sama.
Inilah yang bagi saya menarik untuk direnungkan.
Orang yang “go-block” bukan selalu orang yang tidak pintar. Bisa jadi justru orang yang sangat pintar, tetapi kepintarannya telah membuat dirinya terkunci di dalam kotaknya sendiri.
Ia banyak berbicara, tetapi belum tentu banyak memahami.
Ia banyak mengetahui teori, tetapi belum tentu memahami kenyataan.
Ia mampu menjelaskan sesuatu dengan sangat meyakinkan, tetapi belum tentu mampu melihat persoalan secara utuh.
Karena itu, kepandaian tanpa keterbukaan bisa berubah menjadi keterbatasan.
Pengetahuan tanpa kerendahan hati bisa membuat seseorang merasa paling tahu.
Dan kecerdasan tanpa kesediaan untuk mendengar dapat membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk melihat kebenaran dari sisi yang berbeda.
Mungkin inilah yang ingin kita renungkan dari istilah “go-block”.
Bukan tentang siapa yang pintar dan siapa yang bodoh.
Bukan pula tentang siapa yang benar dan siapa yang salah.
Melainkan tentang apakah pikiran kita masih terbuka?
Apakah kita masih mampu mendengar orang lain?
Apakah kita masih mau menerima kenyataan yang berbeda dengan apa yang selama ini kita yakini?
Sebab, sering kali yang membuat manusia tersesat bukan karena ia tidak memiliki pengetahuan, melainkan karena ia merasa pengetahuannya sudah cukup.
Namun demikian, ada satu persoalan lain yang juga patut direnungkan.
Terlepas dari maksud pribadi seseorang, kata “goblok” sudah memiliki makna yang kuat dan negatif dalam pemahaman umum masyarakat. Karena itu, ketika kata tersebut keluar dari mulut seorang presiden di hadapan publik, tentu wajar apabila masyarakat memperbincangkan bukan hanya maksudnya, tetapi juga pilihan bahasanya.
Maka pertanyaannya bukan semata-mata:
“Apakah Presiden boleh mengatakan goblok?”
Tetapi mungkin pertanyaan yang lebih dalam adalah:
“Di tengah kehidupan demokrasi, bisakah kita tetap saling mengkritik tanpa saling merendahkan, dan tetap berbeda pendapat tanpa menutup pintu untuk mendengar?”
Sebab seorang pemimpin membutuhkan kritik.
Seorang pakar membutuhkan kerendahan hati.
Dan rakyat membutuhkan ruang untuk melihat, mendengar, serta berpikir dengan pikiran yang terbuka.
Jangan sampai kita semua—apa pun posisi, gelar, jabatan, atau kelompok kita—tanpa sadar hidup di dalam “kotak” masing-masing.
Karena ketika pikiran sudah terkunci di dalam kotak, mungkin bukan mata kita yang tidak bisa melihat.
Tetapi kitalah yang tidak lagi mau melihat.
Get the feeling
Mr. Ten
DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.






