DUKACITA DAN KEBERANIAN UNTUK BERCERMIN
I. Sandyawan Sumardi
Demo 27 Agustus 2026 lalu di Jakarta ricuh, bukan hanya antara pendemo vs aparat, tapi akibat warga sipil pendemo diserang gerombolan ormas bersenjata.
Berdasarkan video yang viral, sebuah mobil Fortuner/Pajero hitam di ikuti beberapa mobil di belakangnya berhenti di tengah kerumunan pendemo yang kebanyakan pakai atribut ojol. Lalu sekelompok orang turun langsung bawa kayu/bambu dan menyerang para pendemo, menyuruh bubar, kemudian turunlah seorang yang sangat mirip dengan Hercules, perekam menyebut “Maung maung, Hercules langsung turun ke jalan!”
Tak lama muncul 5 truk yang mengangkut massa berkaos ormas. Seperti diberitakan, “massa berkaos ormas menumpang sekitar lima armada truk sambil menenteng bambu”.
DUKACITA MENDALAM
Ternyata kericuhan ini berujung duka. Menurut laporan WartakotaLive, Bapak Bambang Setiyawan (59), seorang pedagang cermin, warga Bendungan Hilir, telah ditemukan meninggal dunia setelah kericuhan di Jalan Pejompongan Raya, Kamis (27/8) malam. Istrinya menyebut Alm. Bambang sempat keluar rumah menuju tokonya saat situasi memanas dan namun tak kunjung pulang.
MonitorIndonesia juga melaporkan korban diseret dari gang ke jalan raya dan dikeroyok. Kesaksian warga menyebut korban dipukuli menggunakan bambu.
Video detik-detik korban diseret di tengah jalan beredar luas. Korban sempat dibawa ke RS Polri namun nyawanya tak tertolong.
Dukacita mendalam dan doa kami Pak Bambang Setiyawan.
Semoga arwah bapak sebagai seorang pedagang cermin yang bersahaja, diterima di haribaan Allah SWT..!🙏
KEBERANIAN BERCERMIN
Keberanian terbesar sebuah bangsa—maupun seorang individu warga negara—memang bukan terletak pada kemampuan menaklukkan pihak lain dengan kekuasaan, melainkan pada keberanian untuk bercermin, berkaca tanpa topeng kepalsuan. Belajar berani menanggalkan kebencian, kekejian dan kerakusan akan kekuasaan. Belajar menjadi manusia kembali.
Cermin Kemanusiaan.
Ketika sebuah bangsa berani melihat cermin kemanusiaannya dengan jujur, dengan mengenyahkan kebohongan, kita bakal menghadapi realitas kehidupan yang sebenarnya, tanpa filter, tanpa kepalsuan.
Cermin tidak menyembunyikan retakan, ketimpangan sosial, atau luka sejarah yang belum juga sembuh. Keberanian bercermin melahirkan kejujuran yang semakin radikal.
Bangsa yang matang dan merdeka, tak bakal lagi menuntut citra kesempurnaan atau pembenaran palsu di panggung dunia manapun. Melepas-bebaskan kecenderungan egosentrisme adalah keniscayaan.
Keberanian berpikir mandiri, mencerminkan kedaulatan berpikir.
Berani berpikir untuk diri sendiri berarti lepas dari dikte narasi luar atau dogma pembusukan dari dalam, yang memecah belah kehidupan.
Menyuarakan kebenaran demi kemanusiaan, meski suara itu terdengar sunyi di tengah bisingnya kepentingan politik, adalah ikhtiar merangkul luka dan harapan kehidupan.
Cermin senantiasa bakal memperlihatkan bekas luka konflik masa lalu, kelelahan rakyat kecil, sekaligus percikan kegembiraan dari gotong royong yang masih tersisa.
“Selamat datang kembali di rumah kemanusiaan”, merupakan wujud rekonsiliasi tertinggi—menerima semua kekurangan diri sebagai titik awal untuk bangkit dan berbenah demi kehidupan kemanusiaan kita di masa mendatang.
Leiden, 29 Agustus 2026
https://www.facebook.com/share/p/1CzX1a7LxB/
DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.







