spot_img
spot_img
Minggu, September 20, 2026
BerandaOpiniCatatan Kritis Atas Analisis Said Didu tentang  Keberhasilan Swasembada Pangan

Catatan Kritis Atas Analisis Said Didu tentang  Keberhasilan Swasembada Pangan

spot_img

Catatan Kritis Atas Analisis Said Didu tentang  Keberhasilan Swasembada Pangan

Oleh: Kurtubi
Tokoh Masyarakat Banten

Pernyataan mantan Sekretaris Kementerian BUMN Muhammad Said Didu yang merangkum lima faktor keberhasilan program swasembada pangan patut kita hargai sebagai satu sudut pandang. Namun analisis tersebut terasa terlalu prematur dan berasumsi terlebih dahulu bahwa “keberhasilan itu sudah nyata terjadi”, padahal verifikasi independen atas capaian tersebut masih sangat terbatas. Mari kita bedah satu per satu secara kritis.

Pertama:
“Dampak positif langsung kepada rakyat”, Di mana buktinya?

Said Didu menekankan bahwa program berhasil karena manfaatnya langsung dirasakan rakyat. Pertanyaannya: rakyat mana yang merasakannya? Harga gabah di tingkat petani belum tentu naik signifikan, sementara harga kebutuhan pangan di pasar justru masih dirasakan mahal oleh konsumen. Jika petani tetap menjadi pihak yang paling lemah dalam rantai nilai pangan, maka “dampak positif langsung” masih berupa klaim yang butuh pembuktian lapangan, bukan asumsi awal keberhasilan.

Kedua:
“Lembaga bersih dan terpisah dari kepentingan politik”  Siapa yang menjaminnya?

Ini adalah poin yang paling ironis. Said Didu menempatkan ini sebagai faktor keberhasilan, padahal justru ini yang paling sulit diverifikasi. Tanpa mekanisme pengawasan independen yang kuat, klaim bahwa pelaksana program “bersih dan bebas politik” adalah pernyataan yang sangat rentan dipertanyakan. Justru di sinilah letak kerentanan terbesar: jika tidak ada pengawasan publik yang terbuka, maka setiap keberhasilan bisa saja diklaim, sementara setiap kegagalan bisa disembunyikan.

BACA JUGA :  KONGRES RAKYAT BANTEN V: ADU KONSEP & SOLUSI

Ketiga:
“Strategi total football”, Koordinasi atau sentralisasi kekuasaan?

Istilah “total football” terdengar indah, tetapi dalam praktik pemerintahan bisa bermakna ganda. Di satu sisi bermakna sinergi lintas lembaga. Namun di sisi lain, ini bisa berarti sentralisasi kewenangan yang berlebihan, di mana kritik dan kendali dari bawah justru ikut diredam. Apakah Bulog dan instansi lain benar-benar bergerak atas inisiatif bersama, atau sekadar menjalankan perintah dari satu pusat kebijakan? Tanpa kejelasan ini, “total football” berisiko menjadi alasan untuk menutup ruang partisipasi publik.

Keempat: “Berdasarkan data dan fakta”, Data siapa yang dipakai?

Said Didu benar menekankan pentingnya data. Namun pertanyaan krusialnya adalah: siapa yang mengumpulkan data? Metodologinya apa? Dan apakah data tersebut terbuka untuk diverifikasi oleh pihak independen? Selama data utama hanya dikuasai oleh pemerintah dan belum diaudit oleh lembaga statistik yang sepenuhnya mandiri, maka “data dan fakta” yang disampaikan tetap memiliki risiko menjadi alat legitimasi kebijakan, bukan dasar evaluasi yang objektif.

BACA JUGA :  PREMAN BERKEDOK ORMAS - RUSAKNYA TATANAN DEMOKRASI DAN RUSAKNYA NEGARA HUKUM

Kelima:
“Konsisten menghadapi tekanan” Konsisten pada kebenaran atau konsisten pada kehendak?

Konsistensi memang sifat yang terpuji. Namun konsistensi yang tidak disertai kesiapan untuk mendengarkan koreksi, justru berbahaya. Bisa berubah menjadi keras kepala dan penolakan terhadap perbaikan. Tekanan yang datang belum tentu negatif; bisa jadi itu adalah umpan balik dari lapangan yang justru dibutuhkan agar kebijakan tidak melenceng dari kepentingan rakyat. Menganggap semua tekanan sebagai hal yang harus dilawan, adalah sikap yang berisiko menutup mata terhadap realita.

Jangan Terburu-buru Mengulang Pola yang Belum Teruji

Saran Said Didu agar lima pola ini diterapkan pada semua program strategis lainnya, terlalu prematur. Sebelum meniru modelnya, kita wajib terlebih dahulu melakukan evaluasi menyeluruh yang melibatkan pihak independen:

– Apakah produksi benar-benar naik atau hanya impor yang diatur sedemikian rupa?
– Apakah petani benar-benar sejahtera atau hanya angka di atas kertas yang terlihat bagus?
– Apakah kelembagaan benar-benar bersih atau sekadar belum terungkap masalahnya?

BACA JUGA :  KETIKA MENTERI DESA HARUS "TELEPON LANGSUNG" TNI: TANDA BAHAYA TATA KELOLA GALIAN C DI BANTEN

Swasembada pangan bukanlah soal berapa cepat target dicapai, melainkan seberapa kokoh dan berkeadilan sistem yang dibangun di atasnya. Keberhasilan sejati tidak perlu dibela dengan narasi yang menutup kritik, tetapi akan terlihat jelas dari kesejahteraan petani dan kemudahan akses pangan bagi seluruh rakyat.


DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

BACA JUGA :  FRANKENSTEIN 1818 – AI 2026
spot_img
Must Read
spot_img
Populer
spot_img