Rocky Gerung di Wantimpres: Loyal, Kritis, dan Wajib Memberi Solusi
Agus Abubakar Arsal
Pelantikan Rocky Gerung sebagai anggota Wantimpres pada 2 Oktober 2026 membelah publik. Kekecewaan sebagian orang bisa dimengerti, sebab Rocky lama dianggap pengingat bahwa kekuasaan perlu terus dicurigai. Namun pilihannya juga bisa dipahami. Setelah bertahun-tahun di luar, termasuk menghadapi caci maki dan puluhan laporan di era Jokowi, tawaran menyampaikan pertimbangan langsung kepada presiden terasa sebagai kesempatan.
Tuduhan inkonsisten karena video lama tentang menolak jabatan terlalu cepat. Pertanyaan Feri Amsari saat itu bersifat umum, dan Rocky kini menilai Wantimpres berbeda dari jabatan teknis pemerintahan. Selama era Jokowi, ia memang konsisten beroposisi.
Meski begitu, ada pertanyaan yang tak boleh dihindari. Pada 2019 Rocky berjanji mengkritik Prabowo 12 menit setelah dilantik. Kritiknya kini ada, tetapi terukur: menyasar MBG, koperasi, dan para menteri, sementara Prabowo sendiri digambarkan sebagai pemimpin dengan visi besar.
Sebagai bagian dari kekuasaan, kritik terbukanya hampir pasti menyusut. Rocky sendiri membedakan fungsi dewan yang “kritis” dari “kritik”, dengan presiden sebagai pengguna pertimbangannya. Tugas Wantimpres bersifat rahasia, sehingga publik tidak bisa memverifikasi apakah nasihatnya masih tajam. Klaim bahwa kritik dari dalam lebih efektif pun baru berupa hipotesis.
Karena negara menggajinya, dengan fasilitas setara menteri, tuntutan atasnya ikut bergeser: kritis saja tidak cukup, ia juga harus menawarkan solusi. Rocky menempatkan perannya pada wilayah etis, bukan teknis. Itu tak boleh menjadi pagar yang terlalu nyaman. Solusi tak harus berupa program rinci, tetapi bisa berupa alternatif arah kebijakan yang bisa dipertanggungjawabkan.
Karena itu, ukuran yang adil bukan lagi seberapa keras ia mengkritik, melainkan apakah ada perubahan nyata yang bisa ditelusuri dari nasihatnya, dan apakah ia bersedia sesekali menyatakan di publik bahwa ia pernah berbeda pandangan dengan presiden. Rocky pernah meminta publik mencatat jejak digitalnya. Menagih itu bukan memusuhi, melainkan menghormatinya sebagai pemikir yang kata-katanya dianggap penting.
—
Bekasi, 061026
(AAA + AI)
DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.






