Topografi Standar Ganda Geopolitik: Ketika Perlawanan terhadap Israel Dicap Sesat
Dirangkai oleh: Agus Abubakar Arsal
Dinamika geopolitik global, khususnya yang melibatkan kawasan Timur Tengah dan dunia Islam, kerap kali dibaca melalui kacamata teologi sektarian. Di balik berbagai konflik yang berkecamuk, muncul sebuah pola pikir yang ironis sekaligus mengkhawatirkan: siapapun pihak yang secara nyata mengangkat senjata melawan Israel—terlebih jika berhadapan langsung dengan hegemoni Amerika Serikat—tiba-tiba mengalami “metamorfosis” naratif di mata kelompok pengamat tertentu (khususnya Buzzer wahfi takfiri) . Mereka seketika dicap sebagai aliran sesat, menyimpang, atau bahkan didelegitimasi dari lingkaran Islam.
Gejala ini bukanlah fenomena asing dalam lanskap media sosial dan diskursus publik hari ini. Ambil contoh bagaimana narasi dibangun untuk mendiskreditkan rezim Suriah dengan isu bahwa Bashar al-Assad adalah seorang Syiah, padahal kenyataannya ia berasal dari latar belakang Sunni. Perlakuan serupa dialami oleh kelompok Al-Houthi di Yaman yang diserang dengan label “Syiah Rafidah”, padahal mereka beraliran Syiah Zaidiyah—sebuah mazhab yang ironisnya dalam rekam jejak literasi kelompok pengkritik itu sendiri pernah diakui sebagai kelompok yang masih relatif dekat dengan Ahlussunnah.
Standar ganda ini semakin benderang tatkala dukungan moral maupun politik secara implisit maupun eksplisit diberikan kepada agresi pihak luar terhadap Iran. Alasan yang dikemukakan kerap digeneralisasi secara ekstrem, menstigma Iran bukan sebagai bagian dari Islam, melainkan entitas Syiah, Majusi, hingga dituduh kafir sekaligus. Kebencian serupa ditujukan kepada gerakan perlawanan Hizbullah yang tengah berkonfrontasi dengan Israel. Mereka tega melabelinya sebagai hizbusyaitan (partai setan), bahkan tidak jarang menyambut gugurnya pimpinan kelompok tersebut di medan laga dengan ekspresi sukacita. Ketika pemimpin spiritual Iran Ali Khamenei gugur mereka ‘sujud syukur’.
Jika ditarik lebih jauh ke dalam proyeksi geopolitik kawasan, pola stigmatisasi ini dapat dibaca sebagai sebuah formula tetap. Coba perhatikan hipotesis-hipotesis konflik berikut: jika kelak Oman berselisih dengan Israel, narasi pembiaran kehancuran besar kemungkinan akan dilegitimasi dengan dalih bahwa aliran Ibadi yang dianut mayoritas penduduknya dianggap sesat dan menyimpang. Begitu pula jika Afghanistan berkonfrontasi dengan Israel, label “Islam ekstrem”, “teroris”, dan “khawarij” dipastikan akan disematkan kepada Taliban.
Hal yang sama berlaku bagi kekuatan regional lainnya. Ketika Turki atau Mesir mengambil sikap tegas melawan Israel, mesin propaganda siap menembakkan peluru teologis: dicap sebagai Ikhwanul Muslimin, hizbiyyah, harakiyyah, hingga kelompok sesat—sama persis seperti tuduhan repetitif yang dialamatkan kepada Hamas hari ini. Bahkan, seandainya Pakistan yang maju berperang melawan Israel, seruan untuk tidak mendukung akan menggema dengan alasan mazhab keagamaan mereka yang dituduh dipenuhi unsur jamaah tabligh, sufi, ahli bid’ah, dan ahli khurafat.
Pada akhirnya, fenomena ini membuka mata kita bahwa isu akidah dan mazhab sering kali bukan lagi soal pencarian kebenaran teologis yang objektif, melainkan sekadar instrumen politis untuk mendelegitimasi musuh. Siapa pun yang berani menentang hegemoni Israel dan Amerika Serikat, pada detik itu pula mereka akan disulap menjadi kelompok menyimpang di ruang-ruang opini publik, sementara substansi perlawanan terhadap penjajahan justru dikaburkan oleh tirai sektarianisme.
Al Qur’an menegaskan bahwa permusuhan itu hanya kepada mereka yang zalim (QS 2:193). Kegagalan utama mereka adalah salah mendefinisikan musuh. Mereka hakikatnya adalah jahiliah abad ini. Aba wastakbar. Mereka menjadi kaki tangan MUSTAKBIRIN.
Bagaimana pandangan Anda, sejauh mana media massa turut memperparah pembingkaian teologis semacam ini dalam memengaruhi opini publik global?
DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.






