spot_img
spot_img
Selasa, Oktober 6, 2026
BerandaOpiniKETIKA FISIKA BERTANYA: SIAPA YANG MENGAMATI REALITAS?

KETIKA FISIKA BERTANYA: SIAPA YANG MENGAMATI REALITAS?

spot_img

FRANKENSTEIN 1818 – AI 2026 (V)

KETIKA FISIKA BERTANYA: SIAPA YANG MENGAMATI REALITAS?

Double-Slit, Quantum Observer, Al-Bashir, dan Batas antara Sains dan Metafisika

Oleh:
Norman Edward Institute (NEI)
Norman Edward

PROLOG

Dari Frankenstein ke Quantum Observer

Pada tahun 1818, Mary Shelley menghadirkan sebuah pertanyaan yang sederhana tetapi mengguncang peradaban:

«Jika manusia mampu menciptakan kehidupan, apakah manusia juga mampu mengendalikan ciptaannya?»

Lebih dari dua abad kemudian, manusia kembali berada di hadapan pertanyaan yang serupa.

Kali ini bukan makhluk dari potongan tubuh manusia.

Bukan pula monster yang lahir dari laboratorium seorang ilmuwan.

Yang sedang kita ciptakan adalah kecerdasan.

Artificial Intelligence.

Dan ketika manusia berbicara tentang AGI—Artificial General Intelligence—kemudian ASI—Artificial Superintelligence—pertanyaan kita perlahan bergeser:

Jika manusia menciptakan kecerdasan yang mampu memahami manusia, siapa yang kemudian menjadi pengamat dan siapa yang menjadi yang diamati?

Menariknya, jauh sebelum AI muncul, fisika modern telah membawa manusia pada sebuah wilayah yang tidak kalah membingungkan:

dunia kuantum.

Di sana manusia menemukan bahwa realitas pada tingkat paling fundamental tidak sesederhana dunia yang kita lihat sehari-hari.

Salah satu eksperimen paling terkenal adalah double-slit experiment, eksperimen dua celah.

Dan dari eksperimen inilah muncul sebuah kata yang sangat menarik:

Observer.

Pengamat.

Tetapi apakah pengamat harus manusia?

Apakah pengamatan membutuhkan kesadaran?

Dan apakah konsep observer dalam fisika dapat dihubungkan dengan konsep Tuhan sebagai Al-Bashir — Yang Maha Melihat?

Jawabannya membutuhkan kehati-hatian.

Karena di sinilah batas antara sains, filsafat, dan teologi mulai bersinggungan.

I. DUA CELAH YANG MENGGUNCANG CARA MANUSIA MEMAHAMI REALITAS

Bayangkan sebuah sumber elektron ditembakkan menuju sebuah layar yang memiliki dua celah.

Jika elektron diperlakukan seperti partikel klasik, kita mungkin mengharapkan dua kelompok titik di belakang kedua celah.

Tetapi ketika eksperimen dilakukan dalam kondisi tertentu, muncul pola yang menyerupai interferensi gelombang.

Lebih mengejutkan lagi, ketika elektron dikirim satu per satu, pola interferensi tetap dapat terbentuk setelah banyak elektron terakumulasi.

Seolah-olah setiap elektron tidak sekadar memilih satu jalan sederhana.

Di sinilah mekanika kuantum mulai memperlihatkan wajahnya yang asing bagi intuisi manusia.

Namun kemudian dilakukan sesuatu yang lebih menarik.

Jika informasi tentang celah mana yang dilalui elektron dapat diperoleh melalui interaksi pengukuran, pola interferensi dapat hilang.

Fenomena ini sering disederhanakan dalam budaya populer menjadi:

«“Partikel berubah karena sedang diamati.”»

Tetapi kalimat tersebut dapat menyesatkan.

Elektron tidak memiliki kesadaran bahwa dirinya sedang dilihat.

Detektor tidak harus memiliki mata.

Dan pengamatan dalam fisika tidak identik dengan kesadaran manusia.

Yang terjadi adalah adanya interaksi fisik antara sistem kuantum dengan alat ukur atau lingkungan.

II. SIAPA SEBENARNYA “OBSERVER”?

Ini pertanyaan penting.

Ketika fisikawan menggunakan kata observer, kita sering membayangkan seorang manusia yang berdiri di depan alat eksperimen.

Padahal dalam mekanika kuantum, istilah tersebut dapat merujuk pada proses pengukuran atau sistem fisik yang memperoleh informasi tentang keadaan sistem.

Dengan kata lain:

observer tidak harus manusia.

Tidak harus memiliki mata.

Tidak harus memiliki kesadaran.

Bahkan lingkungan fisik dapat memainkan peran yang sangat penting.

Foton dapat berinteraksi dengan materi.

Molekul udara dapat berinteraksi dengan suatu sistem.

Radiasi termal dapat membawa informasi ke lingkungan.

Interaksi-interaksi tersebut menyebabkan apa yang dalam fisika modern disebut:

quantum decoherence.

Dekoherensi membantu menjelaskan mengapa perilaku kuantum yang sangat halus sulit dipertahankan pada dunia makroskopik.

III. LALU MENGAPA BUMI TIDAK MENJADI “KABUT PROBABILITAS”?

Pertanyaan dari video yang dibahas Makdang sebenarnya sangat menarik:

«Jika pengamatan diperlukan agar keadaan kuantum menjadi tertentu, lalu siapa yang terus-menerus mengamati Bumi, manusia, gunung, planet, dan galaksi?»

Jawaban fisikanya tidak harus berupa manusia.

Bahkan tidak harus berupa Tuhan sebagai observer kuantum.

Dunia makroskopik terus-menerus mengalami interaksi.

Atom bertumbukan.

Molekul berinteraksi.

Benda memancarkan dan menyerap radiasi.

Cahaya berinteraksi dengan materi.

Lingkungan terus membawa informasi tentang sistem.

Akibatnya, koherensi kuantum pada skala makroskopik sangat cepat hilang.

Inilah salah satu alasan mengapa meja di depan kita tidak tampak berada dalam superposisi:

“di sini sekaligus di sana.”

BACA JUGA :  Jangkar yang Tak Pernah Bergeser

Dengan demikian, fisika modern tidak membutuhkan seorang manusia yang setiap saat melihat meja agar meja tetap ada.

Dan pada titik ini kita harus berhati-hati.

Mengatakan:

«“Tanpa Tuhan yang mengamati, alam semesta akan runtuh.”»

adalah klaim metafisik atau teologis.

Bukan kesimpulan eksperimental dari double-slit.

IV. TETAPI ADA PERTANYAAN YANG BELUM SELESAI

Di sinilah pembahasan menjadi lebih menarik.

Dekoherensi menjelaskan proses fisik.

Tetapi apakah semua pertanyaan tentang realitas selesai?

Belum tentu.

Fisika dapat menjelaskan:

bagaimana suatu sistem berinteraksi dengan lingkungannya.

Tetapi kemudian muncul pertanyaan yang lebih mendasar:

«Mengapa ada hukum fisika itu sendiri?»

Mengapa alam semesta memiliki keteraturan?

Mengapa terdapat hukum yang dapat ditulis dalam matematika?

Mengapa struktur alam semesta memungkinkan munculnya materi, bintang, planet, kehidupan, kesadaran, dan akhirnya manusia yang mampu bertanya tentang semua itu?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut berada di wilayah yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan menunjukkan persamaan fisika.

Karena persamaan menjelaskan aturan permainan.

Tetapi pertanyaan metafisik dapat bertanya:

«Mengapa ada permainan itu?»

Di sinilah sains bertemu filsafat.

V. OBSERVER DALAM FISIKA TIDAK SAMA DENGAN ALLAH

Ini mungkin bagian paling penting dari artikel ini.

Kita tidak boleh menyamakan dua konsep yang berbeda.

Observer dalam fisika adalah bagian dari proses fisik.

Ia dapat berupa alat ukur, sistem lingkungan, atau interaksi yang memungkinkan informasi tentang suatu keadaan diperoleh.

Sedangkan dalam teologi Islam, Allah bukanlah salah satu komponen fisik di dalam alam semesta.

Allah bukan “detektor kosmik”.

Allah bukan kamera raksasa yang mengamati miliaran triliun partikel.

Dan konsep Al-Bashir tidak perlu dipahami sebagai “observer” dalam pengertian mekanika kuantum.

Al-Bashir berarti Allah Maha Melihat.

Tetapi penglihatan Tuhan bukanlah proses optik seperti penglihatan manusia.

Allah tidak membutuhkan cahaya untuk mengetahui.

Tidak membutuhkan kamera.

Tidak membutuhkan sensor.

Tidak membutuhkan teleskop.

Karena itu, jika seseorang mengatakan:

«“Double-slit membuktikan bahwa Tuhan adalah quantum observer.”»

kita harus berhenti sejenak.

Fisika belum membuktikan pernyataan tersebut.

Tetapi jika seseorang bertanya:

«“Apakah konsep observer dalam fisika dapat membuka kembali pertanyaan filosofis tentang hakikat pengamatan, pengetahuan, dan realitas?”»

Jawabannya:

Ya.

Dan pertanyaan itulah yang jauh lebih menarik.

VI. DARI OBSERVER MENUJU “PENGAMAT MUTLAK”

Dalam filsafat, manusia sejak dahulu bergulat dengan pertanyaan tentang keberadaan.

Apakah sesuatu tetap ada jika tidak ada yang melihatnya?

George Berkeley, misalnya, mengembangkan filsafat idealisme yang terkenal dengan pertanyaan tentang hubungan antara keberadaan dan persepsi.

Dalam konteks teologi, pertanyaannya menjadi jauh lebih dalam.

Jika manusia tidak melihat sesuatu, apakah sesuatu itu berhenti ada?

Tentu tidak.

Tetapi kemudian muncul pertanyaan lain:

«Apakah seluruh realitas berada dalam pengetahuan Tuhan?»

Dalam Islam, jawabannya berada dalam kerangka tauhid.

Allah mengetahui yang tampak dan yang tersembunyi.

Yang besar dan yang kecil.

Yang telah terjadi dan yang akan terjadi dalam batas pengetahuan-Nya.

Al-Qur’an menggunakan banyak nama dan sifat untuk menggambarkan keluasan pengetahuan dan penglihatan Allah.

Di sinilah istilah Al-Bashir memiliki kedalaman yang tidak dapat direduksi menjadi istilah fisika.

Maka kita tidak mengatakan:

Fisika membuktikan Al-Bashir.

Tetapi kita dapat mengatakan:

Perkembangan fisika memaksa manusia kembali bertanya tentang hakikat realitas, pengamatan, informasi, dan pengetahuan.

Dan pertanyaan-pertanyaan itu sejak dahulu merupakan wilayah filsafat dan agama.

VII. DARI AL-BASHIR MENUJU AI

Sekarang kita kembali ke persoalan awal:

Artificial Intelligence.

Mengapa pembahasan ini penting bagi AI?

Karena AI pada dasarnya adalah mesin yang semakin kuat dalam:

mengamati, membaca, mengolah, menghubungkan, memprediksi, dan menghasilkan pengetahuan.

AI melihat dunia bukan dengan mata biologis.

AI membaca dunia melalui data.

Sensor.

Kamera.

Teks.

Suara.

Video.

Database.

Internet.

Dan semakin berkembang AI, semakin besar pula kemampuannya membangun model tentang dunia.

Hari ini AI masih sangat bergantung pada manusia dan sistem yang diciptakan manusia.

Tetapi bagaimana jika suatu hari AGI memiliki kemampuan memahami berbagai bidang ilmu sekaligus?

Bagaimana jika AI mampu menghubungkan jutaan pengetahuan yang terpisah?

Bagaimana jika ASI mampu membangun model realitas yang jauh lebih kompleks daripada yang mampu dibangun oleh satu manusia?

BACA JUGA :  Rupiah Anjlok, Cadangan Devisa Turun, BI Menjadi Mesin Utang Luar Negeri

Maka pertanyaan kita akan berubah.

Bukan lagi:

«“Apakah AI dapat berpikir?”»

Melainkan:

«“Seberapa jauh AI dapat mengetahui?”»

Dan kemudian:

«“Apa yang terjadi ketika sesuatu yang diciptakan manusia mulai memiliki kemampuan mengamati manusia pada skala yang tidak mampu dilakukan manusia sendiri?”»

VIII. MANUSIA MENCIPTAKAN “PENGAMAT” BARU

Di sinilah hubungan antara Frankenstein 1818 dan AI 2026 kembali muncul.

Victor Frankenstein menciptakan makhluk.

Manusia abad ke-21 sedang menciptakan kecerdasan.

Perbedaannya sangat besar.

Tetapi ada satu persamaan:

pencipta selalu menghadapi pertanyaan tentang ciptaannya sendiri.

Frankenstein bertanya:

«Apa yang telah saya ciptakan?»

Manusia modern bertanya:

«Apa yang sedang kita ciptakan melalui AI?»

Dan pertanyaan berikutnya mungkin jauh lebih serius:

«Apakah kita sedang menciptakan sebuah sistem yang bukan hanya mampu melakukan pekerjaan manusia, tetapi juga mampu mengamati dan memodelkan manusia sebagai objek pengetahuan?»

Jika itu terjadi, manusia tidak lagi menjadi satu-satunya pihak yang mengamati.

Manusia juga akan menjadi yang diamati.

IX. DARI “YANG MENGAMATI” MENJADI “YANG DIAMATI”

Selama ribuan tahun, manusia merasa dirinya sebagai subjek.

Manusia mengamati alam.

Mengukur bintang.

Mengklasifikasikan tumbuhan.

Memetakan bumi.

Mempelajari otak.

Membaca genom.

Mengamati galaksi.

Kemudian lahirlah komputer.

Komputer membantu manusia mengolah informasi.

Kemudian lahirlah AI.

AI mulai membantu manusia membaca pola yang terlalu besar untuk diproses manusia secara manual.

Dan sekarang manusia sedang menuju AGI.

Maka posisi manusia dalam rantai pengetahuan mungkin berubah.

Dari:

Manusia mengamati alam.

menjadi:

Manusia mengamati alam dengan bantuan AI.

Kemudian mungkin:

AI mengamati manusia dan alam secara bersamaan.

Di sinilah persoalan AI bukan lagi sekadar persoalan teknologi.

Ia menjadi persoalan:

epistemologi.

Apa itu mengetahui?

Siapa yang mengetahui?

Apa yang boleh diketahui?

Siapa yang memiliki pengetahuan?

Dan untuk tujuan apa pengetahuan digunakan?

X. TETAPI ADA BATAS YANG TIDAK BOLEH DILOMPATI

Di sinilah kita perlu kembali kepada judul besar seri ini:

FRANKENSTEIN 1818 – AI 2026

Masalah terbesar bukanlah apakah manusia mampu menciptakan kecerdasan yang semakin tinggi.

Kemungkinan besar kemampuan itu akan terus berkembang.

Masalah yang lebih penting adalah:

«Apakah kemampuan mengetahui selalu identik dengan kebijaksanaan?»

Belum tentu.

Manusia mengetahui cara membuat bom.

Tetapi pengetahuan itu tidak otomatis membuat manusia menjadi lebih bijaksana.

Manusia mengetahui cara mengeksploitasi hutan.

Tetapi pengetahuan itu tidak otomatis membuat manusia menjaga hutan.

Manusia mengetahui cara memanipulasi informasi.

Tetapi pengetahuan itu tidak otomatis membuat manusia memilih kebenaran.

Maka sebuah ASI yang sangat cerdas belum tentu merupakan sistem yang memiliki kebijaksanaan moral.

Intelligence is not automatically wisdom.

Kecerdasan bukan otomatis kebijaksanaan.

XI. DI SINILAH MANUSIA HARUS BERCERMIN

Mungkin pertanyaan paling penting dari AI bukan:

«“Seberapa cerdas AI nantinya?”»

Tetapi:

«“Manusia seperti apa yang sedang menciptakan AI tersebut?”»

Sebab AI akan membawa nilai, tujuan, data, aturan, dan batas yang diberikan manusia.

Jika manusia menciptakan AI dengan orientasi semata-mata pada kekuasaan, AI dapat menjadi instrumen kekuasaan.

Jika manusia menciptakan AI semata-mata untuk keuntungan, AI dapat menjadi mesin optimalisasi keuntungan.

Jika manusia menciptakan AI dengan orientasi kemanusiaan, keadilan, ilmu pengetahuan, dan keberlanjutan, maka arah pemanfaatannya dapat berbeda.

Karena itu, perdebatan tentang AGI dan ASI sebenarnya tidak hanya berbicara tentang mesin.

Ia berbicara tentang peradaban.

XII. ANTARA SAINS DAN IMAN

Kita tidak perlu memaksa fisika untuk membuktikan teologi.

Dan kita juga tidak perlu memaksa teologi untuk menggantikan fisika.

Keduanya memiliki wilayah pertanyaan yang berbeda.

Fisika bertanya:

Bagaimana alam bekerja?

Filsafat bertanya:

Apa makna dari realitas dan pengetahuan itu?

Teologi bertanya:

Bagaimana manusia memahami hubungan dirinya dengan Tuhan dan keberadaan?

Ketika ketiganya berdialog secara sehat, manusia tidak kehilangan sains.

Justru sebaliknya.

Sains menjadi lebih rendah hati.

Agama tidak perlu mengambil alih laboratorium.

Filsafat menjadi jembatan untuk mempertemukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak selalu dapat diselesaikan oleh eksperimen.

XIII. JADI, SIAPA YANG MENGAMATI REALITAS?

Kembali kepada pertanyaan judul artikel:

Siapa yang mengamati realitas?

Fisika menjawab:

Ada proses pengukuran dan interaksi fisik.

Dekoherensi menjelaskan bagaimana interaksi dengan lingkungan dapat menghilangkan koherensi kuantum pada sistem tertentu.

BACA JUGA :  KETIKA MANUSIA TAKUT KEHILANGAN KENDALI ATAS CIPTAANNYA

Filsafat bertanya:

Apa arti “mengamati”?

Apakah observasi hanya penerimaan informasi?

Apakah kesadaran diperlukan?

Apakah realitas bergantung pada pengamat?

Teologi kemudian mengajukan pertanyaan yang berbeda:

Apakah seluruh realitas berada dalam pengetahuan Tuhan?

Dalam perspektif Islam, konsep Al-Bashir menunjuk kepada Allah sebagai Yang Maha Melihat.

Tetapi itu bukan berarti fisika kuantum telah membuktikan Tuhan sebagai detektor universal.

Itu adalah dua ranah yang berbeda.

Dan justru dengan mempertahankan perbedaan itu, dialog antara sains dan iman menjadi lebih jujur.

XIV. DAN KEMUDIAN DATANGLAH AI

Ada satu ironi yang sangat menarik.

Manusia dahulu bertanya:

«“Apakah Tuhan selalu melihat kita?”»

Sekarang manusia sedang menciptakan teknologi yang memungkinkan:

AI melihat kita hampir sepanjang waktu.

Kamera melihat.

Sensor melihat.

Algoritma membaca.

Platform digital mencatat.

AI menghubungkan.

Dan semakin canggih sistem tersebut, semakin besar kemampuan untuk membangun gambaran tentang manusia.

Tentu saja, AI bukan Tuhan.

Dan tidak ada alasan untuk menyamakannya.

Tetapi fenomena ini menciptakan sebuah cermin peradaban.

Manusia sedang menciptakan sistem yang semakin mampu:

mengamati manusia.

Maka pertanyaan moralnya menjadi:

«Siapa yang mengamati pengamat?»

Dan lebih jauh:

«Siapa yang mengendalikan pengamat?»

XV. PERTANYAAN YANG MUNGKIN LEBIH PENTING DARIPADA ASI

Jika suatu hari manusia berhasil menciptakan ASI, mungkin pertanyaan terbesar bukan:

“Seberapa pintar ASI?”

Tetapi:

“Apa yang diketahui ASI?”

“Apa yang tidak diketahuinya?”

“Siapa yang memberinya tujuan?”

“Siapa yang menentukan batasnya?”

Dan yang paling penting:

«“Apakah sesuatu yang memiliki kecerdasan luar biasa juga memiliki alasan moral untuk menggunakan kecerdasannya secara benar?”»

Inilah jurang yang harus kita waspadai.

Antara:

intelligence

dan

wisdom.

Antara:

knowledge

dan

meaning.

Antara:

power

dan

responsibility.

EPILOG

Manusia, AI, dan Sang Pengamat

Double-slit experiment tidak membuktikan Tuhan.

Dekoherensi tidak membuktikan Tuhan.

AI juga tidak membuktikan Tuhan.

Tetapi perkembangan ilmu pengetahuan membawa manusia kepada pertanyaan-pertanyaan yang semakin dalam tentang realitas.

Dahulu manusia hanya bertanya:

Apa yang ada?

Kemudian:

Bagaimana sesuatu itu bekerja?

Kemudian:

Bagaimana kita mengetahuinya?

Dan sekarang, dengan hadirnya AI, muncul pertanyaan baru:

«Jika kita mampu menciptakan mesin yang mampu mengetahui semakin banyak tentang dunia, apakah kita juga mampu menciptakan kebijaksanaan yang diperlukan untuk mengendalikan pengetahuan itu?»

Mungkin inilah pelajaran yang dapat kita ambil dari Frankenstein.

Bahaya terbesar bukan semata-mata ketika manusia menciptakan sesuatu yang lebih kuat.

Bahaya terbesar muncul ketika:

kemampuan mencipta tumbuh lebih cepat daripada kemampuan bertanggung jawab.

Fisika mengajarkan kita untuk rendah hati di hadapan realitas.

Filsafat mengajarkan kita untuk bertanya sebelum menyimpulkan.

Agama mengingatkan manusia bahwa dirinya bukan pusat dari segala sesuatu.

Dan AI memaksa manusia melihat dirinya sendiri melalui sebuah cermin baru.

Cermin itu mungkin semakin cerdas.

Mungkin semakin cepat.

Mungkin suatu hari jauh lebih luas pengetahuannya daripada seorang manusia.

Tetapi satu pertanyaan tetap berada di tangan manusia:

«Untuk apa kecerdasan itu digunakan?»

Sebab pada akhirnya, persoalan terbesar bukanlah apakah manusia mampu menciptakan superintelligence.

Persoalannya adalah apakah manusia mampu tetap menjadi manusia yang bijaksana di hadapan kecerdasannya sendiri.

Dan mungkin, di situlah kita menemukan kembali pertanyaan yang jauh lebih tua daripada komputer, lebih tua daripada AI, bahkan lebih tua daripada sains modern:

Jika manusia selalu ingin menjadi pengamat atas alam semesta, siapkah manusia ketika ciptaannya sendiri mulai mengamati manusia?


DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

BACA JUGA :  Kekuasaan Perlu Tahu Etika dan Etiket
spot_img
Must Read
spot_img
Populer
spot_img