Menimbang Ulang Kekayaan: Memiliki Barang atau Memiliki Waktu?
Oleh: Agus Abubakar Arsal Alhabsyi
“Man must choose whether to be rich in things or in the freedom to use them.”
Kutipan di atas menampar realitas modern kita dengan sangat telak. Di era digital saat ini, kita terus-menerus dibombardir oleh narasi bahwa kesuksesan diukur dari apa yang kita miliki: gawai rilisan terbaru, kendaraan mewah, atau aset fisik yang megah.
Namun, ajaran Islam dan permenungan ini mengingatkan kita pada sebuah paradoks: semakin banyak barang yang kita kumpulkan tanpa arah, semakin sedikit otonomi dan ketenangan yang tersisa untuk benar-benar menikmati hidup.
1. Jebakan “Kaya Barang” (Rich in Things)
Ketika seseorang berfokus penuh untuk kaya secara materi, ia sering kali tanpa sadar melakukan barter antara kebebasannya dengan perhiasan duniawi. Al-Qur’an mengingatkan bagaimana fenomena bermegah-megahan dapat melalaikan manusia hingga akhir hayatnya:
أَلْهَىٰكُمُ ٱلتَّكَاثُرُ . حَتَّىٰ زُرْتُمُ ٱلْمَقَابِرَ “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” — QS. At-Takasur: 1–2
Beban Perawatan (Maintenance Overhead): Setiap barang yang dibeli menuntut ruang, perhatian, dan biaya perawatan. Harta yang menumpuk tanpa kemanfaatan nyata hanya menambah beban fikiran dan pertanggungjawaban di hadapan Allah kelak.
Siklus Kerja-Konsumsi: Untuk mempertahankan atau menambah barang-barang ini, seseorang terpaksa menghabiskan seluruh waktunya bekerja. Rasulullah SAW menggambarkan keletihan hamba yang diperbudak oleh materi:
تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ وَعَبْدُ الْقَطِيفَةِ وَعَبْدُ الْخَمِيصَةِ
“Celakalah hamba dinar, hamba dirham, hamba pakaian bagus, dan hamba kain beludru…” — HR. Bukhari no. 2887
Ilusi Kepemilikan: Manusia sering mengira dirinya adalah pemilik sejati atas hartanya. Padahal, jika hilangnya suatu barang atau tergoresnya sebuah kendaraan mampu merusak suasana hati dan kedamaian jiwa berhari-hari, barang itulah yang sebenarnya mengendalikan emosi manusia.
2. Kebebasan untuk Menggunakan (Freedom to Use)
Di sisi lain, kaya dalam “kebebasan untuk menggunakan” adalah bentuk kekayaan yang berbasis pada otonomi waktu, ketenangan jiwa, dan kemanfaatan (utility). Islam tidak melarang kepemilikan materi, melainkan mengajarkan agar harta berada di tangan, bukan di dalam hati.
Hakikat kekayaan yang sejati ditegaskan oleh Rasulullah SAW:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Kekayaan itu bukanlah dengan banyaknya harta bendanya, melainkan kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa.” — HR. Bukhari no. 6446 & Muslim no. 1051
“Apa gunanya memiliki perpustakaan pribadi yang megah dengan ribuan buku, jika waktu dan energi Anda habis terkuras untuk bekerja, hingga Anda terlalu lelah bahkan untuk membaca satu bab saja?”
Ketika seseorang memprioritaskan kebebasan waktu dan kecukupan jiwa, orientasi hidupnya berubah:
Pengalaman dan Keberkahan di Atas Benda: Waktu dan rezeki diinvestasikan untuk ibadah, memori, hubungan antarsesama, kesehatan, dan ilmu—hal-hal yang memberikan kemanfaatan abadi. Rasulullah SAW mengingatkan pentingnya memanfaatkan otonomi waktu sebelum kesibukan datang menyita:
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum waktu sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.” — HR. Al-Hakim (1/306)
Fleksibilitas dan Ketenangan Jiwa: Tanpa keterikatan berlebih pada aset fisik yang membebankan, seseorang memiliki kebebasan langkah untuk mengambil keputusan hidup yang berorientasi pada keberkahan dan kemaslahatan.
Menemukan Titik Keseimbangan
Pilihan ini tidak selalu hitam dan putih. Tantangan sejati bagi manusia adalah menemukan titik keseimbangan (middle ground)—menggunakan dunia sebagai sarana mencapai kebebasan akhirat dan keberkahan hidup, bukan menjadikannya tujuan utama.
Allah SWT berfirman:
وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia…” — QS. Al-Qasas: 77
Gunakan barang untuk membeli kebebasan, jangan tukar kebebasan hanya demi menumpuk barang. Memiliki sarana atau kendaraan yang andal itu baik jika mendukung mobilisasi dan produktivitas kebaikan. Namun, memaksakan diri memiliki sesuatu di luar kemampuan hanya demi gengsi justru akan memenjarakan ketenangan pikiran.
Pada akhirnya, kekayaan sejati bukanlah tentang seberapa banyak harta yang berhasil kita kumpulkan, melainkan seberapa leluasa kita mengendalikan hari-hari kita untuk hal yang benar-benar bernilai.
Bekasi, Oktober 2026
AAAA
DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.







