spot_img
spot_img
Jumat, September 18, 2026
BerandaNewsMuslim Arbi Soroti Korban Bella 72: Empati Sherly Tjoanda Dinilai Tak Seindah...

Muslim Arbi Soroti Korban Bella 72: Empati Sherly Tjoanda Dinilai Tak Seindah di TikTok

spot_img

Muslim Arbi Soroti Korban Bella 72: Empati Sherly Tjoanda Dinilai Tak Seindah di TikTok

INDOVIEWNEWS.COM— Direktur Gerakan Perubahan sekaligus Koordinator Indonesia Bersatu, Muslim Arbi, menyoroti kembali tragedi speedboat Bella 72 yang menewaskan calon gubernur Maluku Utara Benny Laos dan lima orang lainnya pada 12 Oktober 2024.

Dalam catatan kritisnya, Kamis (17/9/2026), Muslim menyoroti kesaksian sejumlah korban Bella 72 yang diberitakan sejumlah media lokal Maluku Utara. Ia mempertanyakan sejauh mana perhatian terhadap korban yang mengalami luka dan masih menghadapi persoalan biaya pemulihan.

Muslim bahkan mempertentangkan citra empatik Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda yang menurutnya kerap tampil dalam berbagai konten media sosial dengan kesaksian korban tragedi Bella 72.

“Di TikTok, Sherly Tjoanda adalah Gubernur yang sempurna. Empatik, humanis, penyayang rakyat. Kebijakannya soal RLTH, beasiswa S1, dan gratis uang sekolah SMA di-blow up dengan backsound haru dan filter estetik,” tulis Muslim.

Namun, menurut dia, kesaksian korban Bella 72 yang kembali beredar di media lokal menunjukkan persoalan berbeda.

Salah seorang korban, sebagaimana dikutip Muslim dari pemberitaan media lokal, mengaku harus menanggung sendiri biaya pengobatan meski sebelumnya merupakan bagian dari tim pemenangan Benny Laos.

“Biaya rumah sakitnya, itu biaya sendiri. Sherly tidak menanggungnya. Padahal saya hadir dan ditugaskan oleh partai untuk mengkampanyekan Bapak BL sebagai Calon Gubernur. Harusnya, Ibu Sherly itu harus empaty sadiki kah. Ini torang hanya dapa janji-janji terus,” demikian kesaksian korban yang dikutip dalam catatan Muslim.

BACA JUGA :  Muslim Arbi: Inisiator Buku Islam ala Prabowo Diduga Bagian Operasi Pembusukan Terhadap Presiden

Korban lainnya disebut mengalami patah tulang dan harus menjalani perawatan dengan biaya sendiri.

“Untuk kumpul dana perawatan, saya terpaksa harus ngojek,” demikian kesaksian lain yang dikutip Muslim.

Soroti Kekayaan Sherly Tjoanda

Muslim kemudian mengaitkan persoalan tersebut dengan besarnya harta kekayaan Sherly Tjoanda yang tercatat dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN).

Berdasarkan laporan yang diberitakan sejumlah media, harta Sherly pada laporan awal masa jabatannya tercatat sekitar Rp709,76 miliar. Laporan berikutnya yang disetor pada 24 April 2025 mencatat total kekayaan sekitar Rp972,11 miliar.

Atas angka tersebut, Muslim mempertanyakan mengapa masih ada korban Bella 72 yang mengaku kesulitan membiayai pengobatan.

“Pertanyaan kritisnya sederhana: Mengapa seorang Gubernur dengan harta Rp700 miliar tidak mampu membayar biaya berobat timnya yang patah tulang? Mengapa ia membiarkan mereka ngojek untuk biaya kontrol ke Jakarta?” tulis Muslim.

Muslim juga menggunakan konsep impression management Erving Goffman untuk menggambarkan perbedaan antara citra yang ditampilkan di ruang publik dan kondisi yang menurutnya terjadi di balik layar.

“Apa yang kita lihat di TikTok adalah ‘front stage’ – panggung depan, tempat aktor politik menampilkan persona ideal. Ramah, dermawan, menangis bersama rakyat,” katanya.

“Back stage – panggung belakang, saat kamera mati dan tidak ada like, yang terlihat adalah kalkulasi dingin,” lanjut Muslim.

BACA JUGA :  Mafia Kekuasaan Terbentang dari Hulu ke Hilir? Muslim Arbi Soroti Amandemen UUD 1945 dan Politik Biaya Tinggi

Muslim Pertanyakan Empati terhadap Korban Bella 72

Dalam catatannya, Muslim juga membedakan antara empati yang menurutnya bersifat personal dengan empati yang ditampilkan melalui kebijakan pemerintah.

“Empati otentik adalah empati yang dibayar dengan pengorbanan pribadi,” tulisnya.

Sebaliknya, ia menyebut kebijakan pemerintah yang menggunakan APBD kemudian dipromosikan melalui media sosial tidak otomatis dapat dipandang sebagai bentuk empati personal.

“Gratiskan uang sekolah pakai APBD, lalu di-TikTok-kan seolah itu uang pribadi. Itu bukan empati, itu investasi pencitraan,” kata Muslim.

Ia kemudian mempertanyakan tanggung jawab moral terhadap para korban tragedi Bella 72 yang menurut kesaksian disebut merupakan bagian dari tim pemenangan Benny Laos.

“Jika kepada timnya sendiri yang berdarah-darah untuk suaminya saja ia abai, bagaimana kepada rakyat Maluku Utara yang tidak ia kenal?” ujar Muslim.

Muslim menutup catatannya dengan kritik keras terhadap citra politik Sherly Tjoanda di media sosial.

“Sherly Tjoanda memang Gubernur yang baik di TikTok. Tapi di mata korban Bella 72 yang kakinya pincang dan tangannya ber-platina, ia jauh dari indah,” tulisnya.

“Karena pada akhirnya, TikTok bisa memfilter wajah, tapi tidak bisa memfilter watak,” sambung Muslim.

Sebagai konteks, tragedi Bella 72 terjadi di Pelabuhan Regional Bobong, Pulau Taliabu, pada 12 Oktober 2024. Basarnas saat itu melaporkan 33 orang berada dalam speedboat tersebut, dengan 27 orang selamat dan enam meninggal dunia, termasuk Benny Laos. Sherly Tjoanda juga termasuk korban yang menjalani perawatan.

BACA JUGA :  Disebut "Terbaik", Muslim Arbi: Pergub-Pergub Sherly Tjoanda Bermasalah Kok

Pernyataan mengenai kondisi korban Bella 72, biaya pengobatan, serta penilaian terhadap Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda dalam berita ini merupakan pandangan dan kritik Muslim Arbi yang disampaikan dalam catatan tertulisnya pada 17 September 2026, dengan merujuk pada kesaksian korban yang diberitakan sejumlah media lokal. Media ini membuka ruang bagi Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda maupun pihak-pihak lain yang disebut atau terkait untuk memberikan klarifikasi, bantahan, atau tanggapan sesuai prinsip keberimbangan dan asas praduga tak bersalah.


DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

BACA JUGA :  Anak Kampung Pekopen Kobra: Mayor (Purn.) Nengkin Siap Pimpin Desa Tambun
spot_img
Must Read
spot_img
Populer
spot_img