spot_img
spot_img
Senin, September 14, 2026
BerandaNewsPrabowo Subianto Sang Presiden dalam Memaknai Ajaran Islam, Praktisi Media: Kekuasaan Harus...

Prabowo Subianto Sang Presiden dalam Memaknai Ajaran Islam, Praktisi Media: Kekuasaan Harus Tunduk pada Nilai Moral

spot_img

Prabowo Subianto Sang Presiden dalam Memaknai Ajaran Islam, Praktisi Media: Kekuasaan Harus Tunduk pada Nilai Moral

INDOVIEWNEWS.COM — Praktisi Media Massa, Wadir CAJ PWI Pusat sekaligus Waketum SMSI Pusat, Benz Jono Hartono, mengulas bagaimana seorang pemimpin negara seperti Presiden Prabowo Subianto memaknai dan menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam kajian analisis yang disampaikan pada 10 September 2026, Benz menegaskan bahwa Islam tidak semestinya dipahami secara sempit hanya sebagai agama yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan.

“Islam bukan cuma soal ritual. Islam adalah way of life—jalan hidup yang menjadikan tauhid sebagai dasar dari seluruh perilaku manusia,” tulis Benz.

Menurutnya, Islam mengatur hubungan manusia dengan Allah, sesama manusia, lingkungan, sekaligus bagaimana kehidupan sosial dibangun berdasarkan keadilan, amanah, kemanusiaan, dan tanggung jawab.

Karena itu, seorang Muslim, kata Benz, tidak cukup hanya mengaku beragama Islam. Keyakinan tersebut harus ada di dalam hati dan terlihat dalam amal serta perilaku sehari-hari.

“Di sinilah menarik untuk melihat bagaimana seorang pemimpin negara seperti Prabowo Subianto memandang dan menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya.

Islam Harus Terlihat dalam Perilaku

Benz menekankan bahwa Islam tidak berhenti pada identitas maupun simbol-simbol luar.

Menurut dia, keislaman seseorang juga tercermin dari kejujuran, keadilan, amanah, kasih sayang, keberanian membela yang benar, serta kepedulian kepada orang-orang yang lemah.

“Dalam pandangan seperti ini, keberagamaan tidak seharusnya hanya terlihat dari simbol-simbol luar. Ia juga harus terlihat dari cara kekuasaan digunakan, hukum ditegakkan, kekayaan negara dikelola, dan rakyat kecil diperlakukan,” katanya.

Karena itu, bagi seorang pemimpin, menurut Benz, pertanyaan penting bukan sekadar apakah dirinya seorang Muslim, melainkan apakah kekuasaan yang dijalankan menghasilkan keadilan sesuai nilai-nilai Islam.

Prabowo dan Cara Memaknai Islam dalam Kekuasaan

Benz menyebut Prabowo Subianto sebagai seorang Muslim yang saat ini memegang amanah sebagai Presiden Republik Indonesia.

Namun, ia mengingatkan bahwa pemaknaan Islam bukan sesuatu yang dapat ditentukan sesuka hati oleh seorang presiden, siapa pun orangnya.

“Islam memiliki Al-Qur’an, Sunnah, tradisi keilmuan, dan metode yang telah dikembangkan para ulama,” tulisnya.

BACA JUGA :  KH Said Aqil Siradj Singgung “Parcok” hingga Politik Dinasti: Anak Jadi Wapres, Mantu Diusahakan Jadi Gubernur

Menurut Benz, seorang pemimpin memang dapat menerjemahkan nilai-nilai Islam ke dalam kebijakan publik. Namun, hal tersebut tidak berarti seorang pemimpin berwenang mengubah ajaran Islam sesuai kepentingan kekuasaan.

“Batas ini penting untuk dijaga. Islam tidak boleh dijadikan alat untuk membenarkan kekuasaan. Sebaliknya, kekuasaan harus tunduk pada nilai-nilai moral: amanah, keadilan, kejujuran, dan kemaslahatan manusia,” tegas Benz.

Islam Tidak Memaksa, tetapi Tetap Punya Konsekuensi

Benz juga menyoroti prinsip bahwa Islam tidak mengajarkan pemaksaan dalam beragama. Keimanan, menurutnya, harus lahir dari kesadaran.
Namun, tidak adanya paksaan bukan berarti tidak ada konsekuensi.

“Setiap sistem kehidupan akan membawa akibat dari nilai-nilai yang dipilih,” katanya.

Ia menjelaskan, apabila kehidupan dibangun di atas kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan kasih sayang, masyarakat memiliki peluang besar menciptakan ketertiban dan kemaslahatan.

Sebaliknya, jika kehidupan dibangun di atas keserakahan, kebohongan, korupsi, ketidakadilan, dan penghinaan terhadap martabat manusia, kehancuran moral akan sulit dihindari.

“Jadi, persoalannya bukan hanya apakah sebuah masyarakat memakai label ‘Islam’ atau tidak. Pertanyaan yang lebih penting adalah, apakah nilai-nilai yang dijalankan sesuai dengan prinsip keadilan dan kemanusiaan yang diajarkan Islam?” ujarnya.

Nabi Muhammad SAW Telah Memberikan Teladan

Benz menyebut Islam tidak hadir tanpa contoh. Nabi Muhammad SAW, menurutnya, telah menunjukkan bagaimana nilai tauhid diterapkan dalam kehidupan sosial.

“Beliau bukan hanya mengajarkan ibadah, tetapi juga kejujuran dalam berdagang, perlindungan bagi kaum lemah, penghormatan terhadap manusia, penyelesaian konflik, amanah dalam memimpin, dan keadilan dalam kehidupan bermasyarakat,” tulis Benz.

Karena itu, ketika membahas tata kelola kehidupan berdasarkan Islam, umat Islam memiliki contoh sejarah yang kuat melalui kehidupan Rasulullah SAW.

Namun, tantangan zaman sekarang bukan menyalin semua bentuk kehidupan masa lalu secara mentah-mentah.

“Tantangannya adalah bagaimana nilai-nilai universal Islam diterapkan dengan bijak dalam persoalan masa kini tanpa kehilangan prinsip dasarnya,” katanya.

Negara, Kekuasaan, dan Amanah

Benz menegaskan bahwa presiden pada dasarnya bukan pemilik negara, melainkan orang yang memegang amanah rakyat.

BACA JUGA :  Connie Rahakundini: Prabowo Seperti Raja Telanjang di Jalanan

“Dalam pandangan Islam, kekuasaan adalah amanah yang nantinya akan dipertanggungjawabkan, bukan sekadar fasilitas untuk menikmati jabatan,” ujarnya.

Karena itu, keberhasilan seorang pemimpin tidak cukup diukur dari pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, atau angka-angka material lainnya.

Ada sejumlah pertanyaan moral yang menurut Benz jauh lebih penting: apakah rakyat diperlakukan dengan adil, apakah hukum berlaku untuk semua, apakah orang miskin mendapat perlindungan, apakah kekayaan negara dikelola untuk kepentingan rakyat, apakah korupsi benar-benar diperangi, dan apakah manusia diperlakukan dengan bermartabat.

“Kalau jawabannya positif, di situlah nilai-nilai Islam terasa dalam kehidupan bernegara,” katanya.

Jangan Sampai Islam Hanya Jadi Simbol

Benz mengingatkan bahaya ketika simbol Islam digunakan untuk menutupi perilaku yang justru bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

“Islam mengajarkan kejujuran, jadi jangan sampai kebohongan dibenarkan. Islam mengajarkan keadilan, jadi jangan sampai ketidakadilan diberi pembenaran,” tegasnya.

Ia juga menambahkan, “Islam mengajarkan amanah, jadi jangan sampai korupsi dibungkus dengan bahasa pembangunan. Islam mengajarkan persaudaraan, jadi jangan sampai masyarakat terus diadu demi kepentingan politik.”

Menurut Benz, seorang pemimpin Muslim harus siap dikritik ketika kebijakannya dianggap bertentangan dengan nilai moral Islam.

“Kritik bukan penghinaan. Kritik adalah bagian dari pengawasan terhadap amanah kekuasaan,” ujarnya.

Prabowo dan Tantangan Memimpin sebagai Muslim

Dalam konteks kepemimpinan Prabowo Subianto, Benz menilai tantangan yang dihadapi sangat besar karena Presiden memimpin masyarakat Indonesia yang sangat beragam.

Karena itu, penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bernegara, menurutnya, harus dilakukan dengan bijak, tetap menghormati konstitusi, kemajemukan masyarakat, dan kebebasan beragama.

“Islam tidak perlu dipaksakan untuk menunjukkan kebenarannya. Islam justru harus menunjukkan kekuatannya lewat keteladanan, keadilan, kemanusiaan, dan kemaslahatan,” katanya.

Benz menilai jika nilai-nilai tersebut hadir dalam kebijakan negara, seorang pemimpin Muslim tidak perlu menjadikan negara sebagai alat untuk memaksakan keyakinan.

“Biarkan rakyat merasakan bahwa keadilan itu nyata, negara hadir untuk yang lemah, hukum tidak tajam ke bawah dan tumpul ke atas, serta kekuasaan benar-benar dipakai untuk kepentingan bersama,” tulisnya.

Islam Harus Menjadi Akhlak dalam Kekuasaan

Pada bagian akhir kajiannya, Benz menegaskan bahwa persoalan Islam dalam kepemimpinan bukan hanya mengenai apa yang diucapkan seorang pemimpin, tetapi terutama apa yang dilakukan ketika memegang kekuasaan.

BACA JUGA :  Rizal Fadillah Desak GRIB Jaya Dibubarkan: Dinilai Tak Berguna bagi Rakyat dan Langgar UU Ormas

“Islam yang hidup adalah Islam yang melahirkan akhlak. Islam yang hadir dalam pemerintahan adalah Islam yang melahirkan keadilan,” tegas Benz.

Ia melanjutkan, Islam yang hadir dalam ekonomi adalah Islam yang menolak keserakahan dan penindasan. Islam yang hadir dalam politik adalah Islam yang memandang kekuasaan sebagai amanah. Sedangkan Islam yang hadir dalam kehidupan sosial adalah Islam yang menjaga martabat manusia.

Karena itu, Benz menilai apabila Prabowo Subianto ingin menerapkan nilai-nilai Islam dalam kepemimpinannya, ukurannya bukan seberapa sering nama Islam disebut.

“Ukuran akhirnya adalah seberapa jauh rakyat merasakan keadilan, keamanan, kesejahteraan, dan kemanusiaan,” katanya.

Menurut Benz, kekuasaan dan jabatan pada akhirnya akan berakhir, sementara sejarah akan mencatat setiap keputusan seorang pemimpin.

“Sebab kekuasaan akan berakhir. Jabatan akan berakhir. Sejarah akan mencatat. Dan pada akhirnya, seorang pemimpin bukan hanya akan dinilai oleh manusia, tetapi juga akan dipertanggungjawabkan semuanya di hadapan Allah SWT,” pungkasnya.

Paparan ini merupakan kajian dan analisis Benz Jono Hartono mengenai pemaknaan nilai-nilai Islam dalam kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Media membuka ruang klarifikasi, bantahan, maupun informasi dari perspektif pihak-pihak yang disebut atau terkait, sesuai prinsip keberimbangan dan asas praduga tak bersalah.


DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

BACA JUGA :  Membuka Kebenaran Mengenai Terpenuhi atau Tidaknya Syarat Wapres Gibran
spot_img
Must Read
spot_img
Populer
spot_img