spot_img
spot_img
Sabtu, Oktober 10, 2026
BerandaHeadlineKH Said Aqil Siradj Singgung “Parcok” hingga Politik Dinasti: Anak Jadi Wapres,...

KH Said Aqil Siradj Singgung “Parcok” hingga Politik Dinasti: Anak Jadi Wapres, Mantu Diusahakan Jadi Gubernur

spot_img

KH Said Aqil Siradj Singgung “Parcok” hingga Politik Dinasti: Anak Jadi Wapres, Mantu Diusahakan Jadi Gubernur

INDOVIEWNEWS.COM— Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj melontarkan kritik tajam terhadap praktik politik kekuasaan yang menurutnya dapat mengarah pada politik dinasti. Ia menyinggung fenomena ketika seorang anak menjadi wakil presiden, sementara anggota keluarga lainnya juga didorong menduduki jabatan publik.

“Anak kalau jadi wakil presiden, apa harus diusahakan mantu juga diusahakan jadi gubernur. Ada ya kayak itu, ada kan?” kata Said Aqil dalam pernyataannya yang beredar di YouTube, Jumat (21/8/2026).

Ia kemudian menyinggung ketentuan mengenai batas usia calon wakil presiden. Menurutnya, aturan mengenai persyaratan usia maupun pengalaman sebagai pejabat publik sempat menjadi bagian dari perdebatan politik dan hukum.

Said Aqil juga menyebut istilah “parcok” atau “Partai Coklat” ketika menggambarkan kekuatan politik yang menurutnya bergerak untuk memenangkan kepentingan tertentu.

BACA JUGA :  Ganggu Stabilitas Pemerintahan Prabowo Subianto, Koalisi Peduli Indonesia: Pernyataan Budi Arie Diduga Makar

“Yang jalan siapa? Jalan semuanya namanya parcok, Partai Coklat. Kerahkan semuanya yang menang,” katanya.

Dalam pernyataannya, Said Aqil juga menyinggung dinamika Muktamar NU di Lampung. Ia mengklaim adanya upaya menggunakan kekuatan finansial untuk memengaruhi kontestasi internal organisasi.

Ia bahkan mengaku pernah mendapat tawaran uang dalam jumlah besar.

“Muktamar NU Lampung untuk mengalahkan saya yaitu bawa uang Rp50 miliar. Saya ada yang nawari uang, saya enggak mau,” ujar Said Aqil.

Ia kembali menegaskan bahwa dirinya tidak tertarik menggunakan uang sebagai instrumen untuk memperoleh jabatan dalam organisasi.

“Untuk apa ketua kok pakai uang?” katanya.

Menurut dia, kepemimpinan organisasi keagamaan semestinya tidak berorientasi pada pengelolaan kepentingan ekonomi dan keuangan, melainkan pada pelayanan keumatan.

“Mau ngurus tahlilan, mau ngurus haul, manakiban, tawasulan pakai uang. Enggak akan ngurus ekonomi, enggak ngurus duit, enggak akan ngurus bank,” ujarnya.

BACA JUGA :  Aktivis Politik Kebangsaan: Pergeseran Sistem Pemilihan Pemimpin NU Selaras Sila Keempat Pancasila

Said Aqil kemudian memperluas kritiknya terhadap persoalan integritas dan korupsi. Ia menilai Indonesia sedang menghadapi persoalan serius terkait hilangnya nilai-nilai kejujuran dalam kehidupan publik.

“Walhasil saat ini kita sedang kehilangan fuad,” katanya.

Menurutnya, persoalan tersebut tidak hanya berada pada level pemerintahan pusat, tetapi dapat ditemukan hingga tingkat paling bawah.

“Dari presiden sampai ke ketua RT,” ujarnya.

Ia juga menyinggung dugaan praktik korupsi yang menurutnya terjadi di berbagai sektor dan lembaga, termasuk yang berkaitan dengan penyelenggaraan ibadah haji hingga pengelolaan kegiatan di tingkat masyarakat.

“Dari Menteri Agama, haji pun dikorupsi sampai DKM,” kata Said Aqil.

Ia bahkan menyebut persoalan integritas dapat muncul dalam berbagai kegiatan masyarakat, mulai dari pengelolaan masjid hingga kepanitiaan kegiatan keagamaan dan olahraga.

BACA JUGA :  Prof Hendri Subiakto: Putusan MK Cacatkan Legitimasi Moral Gibran, Bola Politik Kini di Tangan Prabowo

“Banyak kan anak DKM yang korupsi, banyak kan dari panitia olahraga sampai panitia Maulid Nabi,” ujarnya.


DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

BACA JUGA :  Hendrajit Ingatkan Pemrakarsa Aksi 27 Agustus Harus Punya “Penglihatan Ganda” Antisipasi Plot Twist
spot_img
Must Read
spot_img
Populer
spot_img