spot_img
spot_img
Selasa, Agustus 25, 2026
BerandaPolitikBenz Jono Hartono: Tuhan Tidak Pernah Tidak Adil, Manusialah yang Sering Menyalahgunakan...

Benz Jono Hartono: Tuhan Tidak Pernah Tidak Adil, Manusialah yang Sering Menyalahgunakan Kekuasaan

spot_img

Benz Jono Hartono: Tuhan Tidak Pernah Tidak Adil, Manusialah yang Sering Menyalahgunakan Kekuasaan

INDOVIEWNEWS.COM– Praktisi media massa Benz Jono Hartono mengajak umat beriman untuk tidak menyamakan ketidakadilan yang dilakukan manusia dengan keadilan Tuhan. Menurutnya, kegelisahan melihat orang beriman teraniaya dan kebenaran seolah dikalahkan kekuasaan merupakan persoalan yang harus dihadapi dengan introspeksi, iman, ilmu, dan perjuangan yang bermartabat.

Dalam rilisnya, Kamis (20/8/2026), Benz mengungkapkan bahwa ada kalanya seorang manusia beriman berada pada titik ketika hatinya mempertanyakan keadilan Tuhan.

“Ada kalanya seorang manusia beriman berada pada titik ketika hatinya bertanya: ‘Ya Allah, di manakah keadilan-Mu?’” ujar Benz.

Ia menegaskan, pertanyaan tersebut tidak selalu berarti penolakan terhadap Tuhan, melainkan dapat lahir dari kepedihan melihat kenyataan ketika orang beriman merasa terzalimi, kebenaran seakan dikalahkan kekuasaan, dan kebijakan negara dinilai tidak berpihak pada nilai-nilai yang diyakini masyarakat.

Namun, Benz mengingatkan agar ketidakadilan akibat tindakan manusia tidak dinisbatkan kepada Tuhan.

“Apakah ketidakadilan yang dilakukan manusia boleh kita nisbatkan sebagai ketidakadilan Tuhan? Tentu tidak,” tegasnya.

Menurut Benz, Allah SWT tidak diskriminatif dan tidak mengukur manusia berdasarkan jumlah, kekayaan, jabatan, suku, kelompok maupun kekuatan politik. Dalam pandangan Islam, kata dia, ukuran kemuliaan manusia adalah ketakwaannya.

Ia juga mengingatkan bahwa kemenangan politik, ekonomi, maupun kekuasaan tidak selalu menjadi tanda bahwa seseorang berada di pihak yang benar.

“Banyak orang zalim pernah berkuasa. Banyak orang baik pernah ditindas. Banyak kebenaran pernah dipukul mundur,” katanya.

Benz menilai penderitaan dan kekalahan sementara tidak dapat dijadikan bukti bahwa Tuhan meninggalkan orang-orang beriman. Sebaliknya, kondisi tersebut dapat menjadi ujian terhadap keimanan, kesabaran, keberanian, dan kualitas perjuangan.

Ia mengutip QS Al-‘Ankabut ayat 2 yang mempertanyakan apakah manusia mengira akan dibiarkan hanya dengan mengatakan telah beriman tanpa melalui ujian.

Karena itu, Benz meminta masyarakat mengkritik kebijakan dan perilaku manusia apabila dinilai tidak adil, tanpa menjadikan kritik tersebut sebagai alasan untuk menuduh Tuhan tidak adil.

“Ketika kekuasaan digunakan untuk menekan masyarakat, merampas hak rakyat, memperkaya kelompok tertentu, atau mengabaikan nilai-nilai moral dan ketuhanan, maka manusia harus berani melakukan koreksi,” ujarnya.

Namun, ia menekankan bahwa koreksi harus dilakukan dengan ilmu, argumentasi, akhlak, dan perjuangan yang bermartabat, bukan melalui kebencian terhadap kelompok agama atau identitas tertentu.

Benz juga mengajak umat Islam yang menjadi bagian dari mayoritas penduduk Indonesia untuk melakukan introspeksi. Menurutnya, persoalan yang harus dijawab bukan sekadar mengapa umat beriman merasa terus dikalahkan, tetapi mengapa jumlah mayoritas belum sepenuhnya menjadi kekuatan moral, intelektual, ekonomi, politik, dan sosial untuk menghadirkan keadilan.

“Mayoritas bukan jaminan kemenangan,” katanya.

Ia menilai kemenangan membutuhkan kualitas, ketakwaan, ilmu, kerja keras, persatuan, keadilan, dan kesungguhan dalam memperbaiki kehidupan. Karena itu, umat tidak seharusnya hanya mencari pihak yang disalahkan, sementara persoalan internal seperti korupsi, perebutan kekuasaan, fanatisme kelompok, saling mencaci, dan lemahnya persatuan dibiarkan.

Benz juga mengingatkan agar umat beriman tidak putus asa ketika menghadapi ketidakadilan.

“Jangan sampai muncul kesimpulan, ‘Allah tidak peduli kepada kami.’ Justru pada saat seperti itulah seorang mukmin harus semakin dekat kepada Allah,” tuturnya.

Ia menegaskan bahwa keadilan Tuhan tidak selalu hadir dalam bentuk kemenangan yang langsung dapat disaksikan manusia. Keadilan itu, menurutnya, dapat hadir melalui perubahan sejarah, pertanggungjawaban di dunia, maupun kesempurnaan keadilan di akhirat.

Pada akhirnya, Benz mengajak masyarakat mengubah pertanyaan “Apakah Tuhan Yang Maha Esa masih adil?” menjadi pertanyaan yang lebih reflektif: “Apakah kita, sebagai hamba Tuhan, sudah benar-benar berlaku adil?”

“Apakah kita sudah adil kepada keluarga? Apakah kita sudah adil kepada rakyat? Apakah pejabat sudah adil kepada orang yang dipimpinnya? Apakah pengusaha sudah adil kepada pekerjanya? Apakah ulama sudah adil dalam menyampaikan kebenaran? Apakah wartawan sudah adil dalam memberitakan fakta? Apakah politisi sudah adil dalam menggunakan amanah kekuasaan?” paparnya.

Menurut Benz, persoalan terbesar mungkin bukan karena Tuhan meninggalkan manusia, melainkan manusia yang semakin jauh meninggalkan nilai-nilai Tuhan.

“Maka janganlah kezaliman manusia membuat kita menuduh Tuhan tidak adil. Justru ketika dunia terasa semakin tidak adil, orang-orang beriman harus menjadi semakin kuat dalam menegakkan keadilan,” pungkasnya.

Ia menekankan perjuangan tersebut harus dilakukan tanpa kebencian, diskriminasi, maupun kekerasan, melainkan dengan iman, ilmu, akhlak, persatuan, keberanian, dan cara-cara yang bermartabat.

“Sebab pada akhirnya, kekuasaan manusia akan berakhir. Jabatan akan berakhir. Harta akan ditinggalkan. Rezim akan berganti. Tetapi keadilan Allah SWT tidak pernah berakhir,” kata Benz.

spot_img
Must Read
spot_img
Populer
spot_img