Susanah Pengupas Bawang Viral, Muslim Arbi Soroti Dugaan Skenario Mendelegitimasi Prabowo
INDOVIEWNEWS.COM— Direktur Gerakan Perubahan Muslim Arbi menyoroti polemik viral mengenai Susanah si pengupas bawang yang disebut Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya di depan Sidang MPR pada 14 Agustus 2026. Muslim mempertanyakan apakah kegaduhan yang muncul setelah pidato tersebut merupakan bagian dari desain untuk mengacaukan situasi dan mendelegitimasi Presiden Prabowo.
Dalam catatan berjudul “Catatan Kecil dari Tepian Kali Brantas: Susanah si Pengupas Bawang, Bagian dari Desain Mengacaukan Situasi?”, Kamis (20/8/2026), Muslim Arbi menyebut nama Susanah mendadak menjadi viral setelah disebut Presiden Prabowo.
“Susanah si Pengupas Bawang. Mendadak heboh. Namanya mendadak viral. Setelah disebut namanya oleh Presiden Prabowo saat pidato pada 14 Agustus lalu di depan Sidang MPR,” ujar Muslim Arbi.
Menurutnya, penyebutan mengenai Susanah dan penghasilan dari pekerjaan mengupas bawang kemudian memicu beragam meme dan komentar nyinyir di jagat maya. Ia menilai Presiden Prabowo bahkan menjadi sasaran tertawaan dan kritik keras.
“Setelah Presiden pidato Susanah berpenghasilan Rp700 ribu per kg dari kupas bawang, jagat maya heboh. Meme dan komen nyinyir di mana-mana. Rakyat banyak pun ramai-ramai menertawakan Presiden. Bahkan ada beberapa tulisan menyebutkan Presiden sakit jiwa dan tidak pantas jadi presiden,” katanya.
Muslim mengaitkan kegaduhan tersebut dengan sejumlah peristiwa politik dan sosial yang terjadi menjelang dan sesudah peringatan 17 Agustus. Ia mencatat, pada saat peringatan kemerdekaan, situasi di Aceh dan Papua bergolak, sementara sehari setelah peringatan di Istana, mahasiswa jaket kuning menggelar demonstrasi di Jakarta.
Sebelumnya, kata Muslim, Presiden Prabowo juga menjadi sasaran kritik setelah melontarkan istilah “Londo Ireng” dalam pidatonya.
“Sebelumnya Presiden jadi bulan-bulanan karena dalam pidato melontarkan istilah Londo Ireng. Londo Ireng pun jadi gorengan. Padahal itu kritikan kelakuan sebagian anak bangsa yang kelakuannya mirip penjajah Belanda,” ujarnya.
Muslim kemudian mengungkap informasi yang menurut dia diperolehnya saat menjadi narasumber dalam sebuah podcast bersama seorang YouTuber di sebuah restoran di Bogor pada 3 Agustus 2026.
“Dia bilang: Bang, nanti ada skenario untuk jatuhkan Prabowo saat pidato di bulan Agustus memperingati kemerdekaan. Dibuat pidato yang dibaca Prabowo akan bikin rakyat marah. Sehingga rakyat akan ramai-ramai turun ke jalan untuk protes ke Presiden. Bahkan saat itu, Presiden akan dipaksa turun karena rakyat sudah tidak percaya lagi,” tutur Muslim, mengutip informasi yang disampaikan YouTuber tersebut.
Muslim mengatakan informasi itu kembali terlintas dalam pikirannya ketika polemik mengenai Susanah si pengupas bawang mencuat setelah pidato Presiden. “Kalau dilihat dari kasus kupas bawang di pidato Presiden itu, bisa jadi info soal rencana Agustus itu benar,” katanya.
Karena itu, Muslim mempertanyakan apakah penyebutan Susanah dan polemik mengenai angka penghasilannya dapat dianggap sebagai bagian dari skenario untuk mendelegitimasi Presiden Prabowo.
“Nah, dari pidato Presiden yang sebut Susanah pengupas bawang yang gajinya Rp700 ribu per kg itu, apa bisa dianggap sebagai bagian dari skenario mendelegitimasi Presiden Prabowo? Lalu akan disusul dengan kemarahan rakyat dan juga mahasiswa seperti 1998?” ujarnya.
Namun demikian, Muslim menyebut telah ada klarifikasi untuk meluruskan persoalan tersebut. Ia menyatakan bahwa yang benar, pendapatan Susanah adalah Rp700 per kilogram dari pekerjaan mengupas bawang, bukan Rp700 ribu per kilogram sebagaimana yang kemudian menjadi polemik di publik.
“Tetapi Komgidi sudah bikin klarifikasi untuk luruskan pidato Presiden soal Susanah. Yang benar itu pendapatannya Rp700 per kg dari kupas bawang,” kata Muslim.
Muslim selanjutnya melontarkan pertanyaan mengenai adanya pihak-pihak yang, menurut pandangannya, berupaya mendelegitimasi Presiden melalui berbagai isu.
“Sudah demikian ketakutan kah para Londo Ireng di negeri ini, sehingga berbagai desain murahan pun dilakukan untuk mendelegitimasi Presiden?” katanya.
Ia menilai terdapat sejumlah kekuatan yang disebutnya destruktif dan tengah panik jika pemerintahan Presiden Prabowo semakin menunjukkan pencapaian kerja dalam dua tahun pertama pemerintahannya.
“Nampaknya beberapa kekuatan destruktif yang sering disinyalir beberapa tokoh belakangan ini sangat panik dan ketakutan jika Presiden Prabowo semakin menunjukkan pencapaian kerja pemerintahan dalam 2 tahun ini. Para Konglo Hitam ketakutan, juga Genk Solo dan antek-anteknya. Sehingga berbagai desain norak dan murahan pun dipaksakan dilakukan,” ujar Muslim.
Bagi Muslim, situasi tersebut justru menjadi tontonan yang menggelikan bagi masyarakat yang berpikir jernih.
“Bagi yang berakal sehat dan waras, semakin geli menyaksikan drama segelintir orang-orang itu,” katanya.
Muslim juga mempertanyakan mengapa gerakan politik atau kritik terhadap pemerintah, jika memang dimaksudkan untuk kepentingan bangsa, tidak ditempuh dengan cara yang menurutnya lebih cerdas.
“Kenapa tidak bikin gerakan cerdas dan smart, jika ingin mencintai bangsa ini? Kok gaduh melulu yang diproduksi? Apa gerakan kalian tidak capek?” ujarnya.
Ia menutup catatannya dengan nada satir. “Bikin gerakan kok enggak waras itu loh? Hehehe,” pungkas Muslim Arbi.
Hingga berita ini diturunkan, pernyataan Muslim Arbi mengenai adanya dugaan “skenario” untuk menjatuhkan atau mendelegitimasi Presiden Prabowo merupakan pandangan dan analisis pribadinya berdasarkan informasi yang ia terima. Pihak-pihak yang disebut dalam pernyataannya, termasuk yang disebut sebagai “Konglo Hitam”, “Genk Solo”, maupun pihak lain yang diduga terkait dengan desain tersebut, belum memberikan tanggapan atas pernyataan itu.







