Rizal Fadhillah: 90 Persen Menteri Diminta Direshuffle, “Menteri Butut, Presiden Juga Butut”
INDOVIEWNEWS.COM– Pemerhati politik dan kebangsaan Rizal Fadhillah menyoroti kritik terhadap kinerja kabinet pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Dalam pernyataannya, Sabtu (22/8/2026), Rizal mengutip pandangan Aliansi Mahasiswa Indonesia (AMI) yang menilai 90 persen menteri perlu direshuffle karena dinilai tidak berprestasi dan tidak memiliki kerja yang nyata.
“Kata Aliansi Mahasiswa Indonesia (AMI) 90 % Menteri harus direshuffle karena bukan saja tidak berprestasi tapi juga tidak ada kerja. Difikir mendalam benar juga, para Menteri itu kalaupun bekerja ya proforma, petantang-petenteng, tidak becus, dan yang pasti tidak berguna. Buang-buang duit negara saja untuk membiayai Menteri yang tidak mampu melayani rakyat. Mereka menjadi pelayan diri, famili, partai sendiri, dan oligarki,” kata Rizal Fadhillah.
Menurut Rizal, pujian Presiden terhadap para menterinya tidak sejalan dengan apa yang dirasakan masyarakat. Ia menilai rakyat tidak merasakan keberadaan dan kinerja para menteri dalam kehidupan sehari-hari.
“Meski dipuji oleh Presiden bahwa semua Menteri berprestasi tapi semua tahu itu puja-puji bullshit atau omong kosong. Presidennya sendiri buta dan tuli dari aspirasi rakyat. Rakyat tidak merasakan keberadaan para Menteri itu ‘wujuduhu ka adamihi’–ada dan tiada sama saja. Menteri gendut, badut, dan butut,” ujarnya.
Rizal kemudian melontarkan kritik keras terhadap Presiden yang menurutnya memberikan pujian kepada para menteri tersebut.
“Presiden yang memuji-muji Menteri butut adalah Presiden butut,” tegasnya.
Ia juga mengkritik sejumlah program yang disebutnya sebagai program Presiden, di antaranya MBG, KMP, BOP dan URI. Menurut Rizal, program-program tersebut, termasuk program lain yang disebutnya “seenak udel lainnya”, dinilai tidak memiliki perencanaan matang dalam memajukan dan melayani rakyat.
“Presiden MBG, KMP, BOP, URI, serta program seenak udel lainnya. Itu sepertinya tidak memiliki perencanaan yang matang terkait memajukan dan melayani rakyatnya. Mati untuk rakyat hanya di atas mimbar, sementara rakyat sudah mati tanpa harus diumbar. Bukannya lapangan kerja yang diprioritaskan, malah program yang menambah penghasilan orang yang sudah banyak kerja yang digencarkan. Korupsi pun semakin merajalela,” katanya.
Lebih lanjut, Rizal menilai dua tahun pemerintahan yang disebutnya tanpa arah yang jelas telah membuat rakyat kehilangan harapan. Ia juga menyampaikan sejumlah penilaian dan kecurigaan terhadap Presiden yang menurutnya memerlukan klarifikasi.
“Dua tahun memeritah tanpa jelas arah telah membuat rakyat kehilangan harapan. Meratapi nasib memiliki pemimpin yang tidak ajeg, narsistik, selalu merasa benar, omon salah mulu, londo coklat, dan dicurigai tidak beristri asli. Semua butuh klarifikasi. Bila perlu periksa kesehatan menyeluruh, agar tidak melebar berbagai interpretasi dan salah konklusi,” ungkapnya.
Dalam pandangannya, Presiden tidak boleh menutup mata dan telinga terhadap aspirasi masyarakat. Rizal pun menyebut sejumlah tuntutan yang menurutnya perlu direspons dan ditindaklanjuti secara konsisten.
“Presiden sesungguhnya tidak boleh buta dan tuli. Respon dan tidaklanjuti secara konsisten aspirasi. Aspirasi itu reshuffle dan perampingan kabinet, reformasi Polri, ganti Kapolri, tuntaskan kasus ijazah palsu Jokowi, makzulkan Gibran, UU Perampasan Aset sahkan, benahi KPK dan aturannya, stop MBG, jangan berdiplomasi dengan Israel, oligarki lawan, tangkap dan adili Jokowi, serta pulihkan kedaulatan rakyat,” papar Rizal.
Rizal juga meminta Prabowo tidak meniru pendahulunya dan memimpin pemerintahan secara serius. Ia mengkritik apa yang disebutnya sebagai tontonan para badut di panggung, sementara di sisi lain terdapat aktivis yang dikriminalisasi.
“Prabowo jangan tiru pendahulunya sebagai Presiden palsu dan tukang main kayu. Memimpin harus serius dengan menjauhi tontonan badut yang duduk bertiga di panggung. Tertawa-tawa menyaksikan para aktivis dikriminalisasi. Menyadari diri bahwa rakyat sesungguhnya sedang merenungi nasib,” katanya.
Di akhir pernyataannya, Rizal kembali merangkum kritiknya terhadap kondisi kepemimpinan dan kabinet saat ini.
“Memiliki Menteri butut dan Presiden butut,” pungkas Rizal Fadhillah.
Pernyataan Rizal Fadhillah tersebut merupakan pandangan dan kritik pribadi sebagai pemerhati politik dan kebangsaan. Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan langsung dari Presiden Prabowo Subianto, jajaran Kabinet Merah Putih, maupun pihak terkait atas seluruh pernyataan dan tudingan yang disampaikan.
Media membuka ruang hak jawab dan klarifikasi kepada semua pihak yang disebutkan dalam pemberitaan ini sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik.






