spot_img
spot_img
Senin, September 14, 2026
BerandaPolitikSutoyo Abadi: “Kodok dan Kampret Masih Bersenyawa”, Soroti Manuver Jokowi Menuju 2029

Sutoyo Abadi: “Kodok dan Kampret Masih Bersenyawa”, Soroti Manuver Jokowi Menuju 2029

spot_img

Sutoyo Abadi: “Kodok dan Kampret Masih Bersenyawa”, Soroti Manuver Jokowi Menuju 2029

INDOVIENEWS.COM Pengamat politik Sutoyo Abadi menilai dinamika politik yang melibatkan Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) dan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto masih menunjukkan adanya keterkaitan kepentingan politik menuju Pemilu 2029.

Dalam rilisnya, Kamis (3/9/2026), Sutoyo menggunakan metafora “kodok” dan “kampret” untuk menggambarkan relasi politik antara kelompok-kelompok yang sebelumnya berada dalam posisi berseberangan.

Menurut Sutoyo, istilah tersebut merujuk pada polarisasi politik yang terjadi pada Pemilu 2019. Pendukung Jokowi ketika itu kerap disebut “cebong”, sedangkan pendukung Prabowo dijuluki “kampret”.

“Politik Jokowi seperti kodok dan katak, dibolak-balik tetap terbaca kodok dan katak,” kata Sutoyo.

Ia menilai metafora tersebut menggambarkan persepsinya bahwa gaya dan strategi politik Jokowi tidak banyak berubah. Sutoyo juga mengaitkan istilah “kodok” dengan citra Jokowi yang selama ini dikenal memiliki kebiasaan memelihara kodok atau katak di lingkungan kediamannya.

Sementara itu, istilah “kampret” disebut Sutoyo berkaitan dengan kelompok pendukung Prabowo pada kontestasi politik sebelumnya.

Menurut dia, dalam perkembangan politik berikutnya, kedua istilah tersebut tidak lagi semata-mata menggambarkan polarisasi pendukung Jokowi dan Prabowo, tetapi dapat digunakan untuk membaca dinamika hubungan politik keduanya.

BACA JUGA :  PSI Gagal ke Parlemen, Selamat Ginting: Dinasti Jokowi Terancam Tamat di 2029

Sutoyo bahkan menyebut sejumlah manuver politik yang berkembang belakangan sebagai indikasi adanya upaya mempertahankan pengaruh politik menjelang Pemilu 2029.

“Di atas adalah gambaran metafora, dalam realitas politik rakyat mengira Jokowi akan melakukan kudeta tersembunyi terhadap Prabowo itu hanya isapan jempol. Kodok dan kampret tetap bersenyawa,” ujarnya.

Membaca Tahapan Politik 2029

Sutoyo mengatakan manuver politik Jokowi menurut pandangannya tidak hanya berkaitan dengan persiapan menghadapi Pemilu 2029. Ia menilai proses tersebut sudah mulai terlihat secara bertahap sejak 2026.

“Manuver politik Jokowi bukan semata gerakan politik persiapan 2029, tapi ternyata penentuan jauh sebelumnya mulai terbaca dengan jelas tahapannya: tahun 2026 persiapan, 2027 konsolidasi, 2028 adalah pertarungan dan tahun 2029 adalah penentuan,” kata Sutoyo.

Ia menyoroti sejumlah aktivitas politik Jokowi di berbagai daerah serta konsolidasi terhadap kepala desa dan tokoh masyarakat yang disebutnya dapat menjadi bagian dari upaya mempertahankan jaringan dan pengaruh politik.

Sutoyo juga menyinggung pidato Budi Arie yang disebutnya disampaikan bersama Jokowi, serta wacana mengenai kemungkinan percepatan pergantian kekuasaan sebelum 2029.

Selain itu, ia menilai pernyataan Jokowi yang mengutip pepatah Jawa “lamun siro sekti ojo mateni” dapat dibaca sebagai upaya membangun konstruksi moral di tengah sejumlah persoalan politik yang terjadi selama masa kekuasaannya.

BACA JUGA :  Sutoyo Abadi: Jangan Remehkan Rakyat yang Diam Memendam Kemarahan

Pertanyakan Sikap Prabowo

Sutoyo juga mempertanyakan sikap Prabowo yang menurutnya cenderung diam dalam menghadapi dinamika politik tersebut.

“Apakah Prabowo sedang benar-benar memerintah, atau perlahan sedang dipaksa berbagi ruang kekuasaan dengan jaringan yang berasal dari Presiden sebelumnya,” ujar Sutoyo.

Menurut dia, jika kemungkinan kedua yang terjadi, persoalan politik Indonesia tidak lagi sebatas mengenai siapa yang menjadi presiden, tetapi menyangkut siapa yang sesungguhnya memiliki pengaruh dalam menentukan arah pemerintahan.

“Jika jawabannya yang kedua, maka persoalan Indonesia bukan lagi sekadar siapa Presidennya juga siapa yang sebenarnya menentukan arah politik pemerintahan di Indonesia,” katanya.

Pada bagian akhir rilisnya, Sutoyo menyimpulkan bahwa dinamika tersebut menunjukkan apa yang disebutnya sebagai “kodok dan kampret masih bersenyawa” dalam menghadapi Pemilu 2029.

“Kekuasaan tidak selalu kembali melalui pintu depan. Terbaca dengan jelas kodok dan kampret masih bersenyawa sama-sama ingin tetap berkuasa pada Pemilu 2029, bersekutu dengan back up sponsor oligarki dan kapital hitam dengan modal menjual sumber daya alam dan kedaulatan negara,” tutur Sutoyo.

BACA JUGA :  Prabowo Subianto Sang Presiden dalam Memaknai Ajaran Islam, Praktisi Media: Kekuasaan Harus Tunduk pada Nilai Moral

Pernyataan mengenai hubungan politik Jokowi-Prabowo, konsolidasi jaringan politik, dugaan dukungan oligarki, maupun arah kekuasaan menuju Pemilu 2029 merupakan pandangan dan analisis Sutoyo Abadi sebagaimana disampaikan dalam rilis.

Media memberikan ruang bagi pihak-pihak yang disebut atau terkait untuk memberikan klarifikasi, bantahan, maupun informasi dari perspektif mereka sesuai prinsip keberimbangan dan asas praduga tak bersalah.


DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

BACA JUGA :  Diamkan Budi Arie Sebut Kekuasaan Prabowo Tak Sampai 2029, Muslim Arbi: Jokowi Menyetujui
spot_img
Must Read
spot_img
Populer
spot_img