spot_img
spot_img
Jumat, Oktober 9, 2026
BerandaOpiniTANTANGAN DAKWAH DI ERA DIGITAL

TANTANGAN DAKWAH DI ERA DIGITAL

spot_img

TANTANGAN DAKWAH DI ERA DIGITAL

Oleh : Mohammad Rosyad

Allah berfirman:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS Ali Imron 104)

Didalam ayat tersebut terkandunga beberapa makna
1. Menyeru kepada Kebajikan   ) يدْعُونَ إِلَى الْخَيْر ): Mengajak manusia kepada Islam, iman, dan nilai-nilai kebaikan universal yang menyelamatkan kehidupan dunia dan akhirat.
2. Menyuruh kepada yang Makruf (وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ): Menganjurkan ketaatan, amal saleh, serta segala perbuatan baik yang diakui oleh syariat dan akal sehat.
3. Mencegah dari yang Mungkar (يَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ): Mencegah dan melarang segala bentuk kemaksiatan, kezaliman, serta perbuatan yang dilarang agama
4. Dakwah secara berjamaah. Kata minkum ummatan ( sekelompok orang sebagian dari kamu) menunjukkan bahwa dakwah memerlukan kelembagaan atau kelompok khusus yang fokus mengawal kebaikan umat, meski secara individual setiap Muslim tetap memiliki tanggung jawab moral sesuai kapasitasnya.
5. Melakukan aktivitas dakwah akan membawa keberuntungan (Al-Muflihuun), apapun hasilnya. Kesuksesan dan kejayaan umat Islam serta keselamatan dari perpecahan sangat ditentukan oleh konsistensi dakwah terutama yang teroganisir. Seandainya dakwah yang dilakukan belum membuahkan hasil yang diharapkan para pelakunya tetap beruntung karena mendapat keridhoan dari Allah.

Dalam Fiqhud Dakwah dibedakan antara tabligh dan dakwah. Dakwah menitikberatkan pada upaya mengajak dan mengubah perilaku ke arah kebaikan secata menyeluruh, sementara tabligh menitikberatkan pada sampainya informasi tentang ajaran Islam kepada objek dakwah. Kedua aktivitas tersebut harus berkolaborasi untuk mencapai tujuan.
Dakwah adalah tanggung jawab seluruh Umat Islam, oleh karena itu seluruh Umat Islam hendakmya terlibat dalam aktivitas dakwah apapun profesinya. Slogan “nahnu du’aat qobla syai’ menunjukkan keterlibata dalam aktivitas dakwah melekat dalam diri seorang muslim kapanpun dan dimanapun.

BACA JUGA :  Hukum Tajam ke Bawah, Nyaman ke Atas: Ketika Penjara Menjelma Hotel Bintang Lima

Di zaman sekarang dakwah mempunyai tantangan yang luar biasa, antara lain adalah banjir informasi, gaya hidup modern yang hedonis.

1. INFORMATION OVERLOADED (Banjir Informasi)

Di era digital salah satu tantangan terbesar dakwah adalah banjirnya informasi yang bisa diakses oleh setiap orang.

Kemudahan memproduksi dan mengakses konten membuat umat disuguhi jutaan informasi setiap detik, namun tidak semuanya valid, bermanfaat atau sesuai dengan syariat. Ada beberapa fenomena yang harus diwaspadai di era digital saat ini yang sangat berpengaruh kepada keberhasilan dakwah:

a. Maraknya hoaks dan disinformasi. Informasi keagamaan palsu atau tidak tervalidasi sangat banyak beredar  di dunia. Hal ini dapat menyesatkan pemahaman agama dan memicu perpecahan.

b. Erosi otoritas keagamaan. Umat sekarang cenderung menjadikan mesin pencari atau instant influncer   sebagai rujukan utama. Mbah Google menjadi mufti kelas dunia. Sehingga mengabaikan sanad ilmu dan otoritas ulama

c. Substansi kalah dengan algoritma. Konten dakwah seringkali dinilai dari viralitas dan jumlah viewer dan estetika visual. Bukan dari kedalaman ilmu atau kebenaran isinya. Konten yang muncul di halaman pertama dianggap satu-satunya kebenaran

d. Degradasi akhlak digital. Masyarakat mudah  berkomentar kasar yang menimbulkan ujaran kebencian ketika terjadi perbedaan pendapat, debat kusir bukan diskusi untuk  mencari pemahaman.

e. Kompetisi perhatian. Konten dakwah harus bersaing dengan sekuat tenaga melawan gempuran konten hiburan, game dan musik yang jauh lebih menarik terutama bagi generasi muda.

2. HEDONIC LIFESTYLE

Hedonic lifestyle adalah pola hidup yang menempatkan kesenangan materi, hiburan dan kenikmatan duniawi lainnya sebagai tujuan utama hidupnya.

Hedonic lifestyle sebenarnya dipicu oleh adanya banjir informasi. Algoritma media sosial terus membombardir masyarkat dengan konten kemewahan. Konten dakwah sering kalah dengan konten hiburan yang menampilkan kemewahan.

Sikap hedonis ini sangat berpengaruh terhadap umat karena bisa terjadi pergeseran orientasi hidup: Fokus masyarakat berubah dari mengejar keberkahan akhirat menjadi sekadar mengejar kepuasan duniawi yang sementara.

BACA JUGA :  Indonesia Jangan Naif: Saatnya Miliki UU Penanggulangan Spionase dan Intervensi Asing

Fokus mengejar kepuasan duniawi akan menyebabkan:

a. Konsumerisme dan materialistis: Kebahagiaan diukur dari kepemilikan barang mewah, status sosial, dan pengakuan di media sosial (panjat sosial). Gaya hidup konsumptif akan menimbulkan penurunan kemampuan finansial. Akibatnya kemampuan membayar zakat, sedekah dan menolong orang yang kesulitan menjadi menurun.

b. Berpotensi melanggar batas halal-haram: Demi memenuhi standar gaya hidup yang tinggi, sebagian orang cenderung menghalalkan segala cara, seperti terlibat riba, judi online, atau korupsi.

c. Jiwa menjadi kering dan hati mengeras: Kesenangan fisik yang berlebihan sering kali membuat jiwa menjadi hampa dan hati menjadi keras, sehingga malas beribadah dan abai terhadap urgensi mengingat kematian.

Hedonic lifestyle dapat memicu gaya hidup hustle culture, gaya hidup yang menuntut seseorang untuk bekerja secara terus menerus tanpa kenal lelah demi mencapai kesuksesan karir dan finansial.

Gaya hidup hustle culture sangat berpengaruh terhadap aktivitas dakwah.

Kesibukan ekstrem membuat umat kehabisan waktu dan energi, sehingga kehilangan kesempatan untuk silaturrahim, menambah pengetahuan agama dan menguatkan iman dengan  hadir di majelis taklim atau kajian rutin.

Bahkan bisa lebih parah dengan meninggalkan kewajiban beribadah.
Orang yang terjangkit hustle culture akan mengalami keletihan spiritual (burnout). Kelelahan mental kronis akibat bekerja terus-menerus membuat pesan dakwah sulit masuk kedalam jiwanya dan sulit meresapi nilai-nilai agama.

Semua problem yang tergambar diatas bukan untuk mengendorkan semangat dakwah, tetapi mendorong kita mencari jalan mengatasi problem tersebut agar tujuan dakwah tercapai.

Dakwah harus mampu menjadi solusi atas berbagai problematika di masyarakat, bukan justru menghindar atau menutup mata dari kenyataan sosial.

Dakwah yang efektif tidak hanya berfokus pada aspek ritual ibadah di dalam masjid, tetapi juga harus menyentuh realitas kehidupan sehari-hari umat.

Kita seyogyanya bisa meneladani Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dalam beridakwah.  Beliau tidak hanya mengajarkan akidah dan ibadah, tetapi juga mengubah struktur sosial, menghapus kebiasaan buruk jahiliah, membangun ekonomi yang adil, dan mempersatukan suku-suku yang bertikai.

BACA JUGA :  Taklimat Prabowo dan Konsolidasi Elite TNI-Polri

Dakwah yang ideal bukanlah dakwah seperti menara gading dan tidak membumi. Dakwah yang hanya bicara soal akhirat tanpa memedulikan penderitaan duniawi umat. Dakwah seperti itu akan terasa berjarak dan sulit diterima oleh masyarakat, terutama yang sedang mengalami krisis.

Sebagai pengingat dan penyemangat mari kita renungkan ayat 125 surat An Nahl:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk

Kita tutup dengan do’a :

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا هَادِينَ مُهْتَدِينَ ، غَيْرَ ضَالِّيْنَ وَلا مُضِلِّينَ.

Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang mendapat hidayah dan menjadi jalan agar orang lain mendapat hidayah , bukan yang sesat dan bukan yang menyesatkan.


DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

BACA JUGA :  Hukum Tajam ke Bawah, Nyaman ke Atas: Ketika Penjara Menjelma Hotel Bintang Lima
spot_img
Must Read
spot_img
Populer
spot_img