spot_img
spot_img
Selasa, September 15, 2026
BerandaHeadlineJika Kekuasaan Tak Peduli Rakyat, Untuk Apa Rakyat Peduli Penguasa? Sutoyo Abadi...

Jika Kekuasaan Tak Peduli Rakyat, Untuk Apa Rakyat Peduli Penguasa? Sutoyo Abadi Soroti Negara yang Dinilai Ambruk

spot_img

Jika Kekuasaan Tak Peduli Rakyat, Untuk Apa Rakyat Peduli Penguasa? Sutoyo Abadi Soroti Negara yang Dinilai Ambruk

INDOVIEWEWS.COM— Koordinator Kajian Politik Merah Putih, Sutoyo Abadi, menyoroti kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara yang menurutnya semakin menunjukkan ketidakpedulian kekuasaan terhadap rakyat.

Dalam pernyataannya, Selasa (15/9/2026), Sutoyo mengangkat kembali puisi “Cintaku” karya Emha Ainun Najib atau Cak Nun dari Puisi Kyai Mbeling sebagai pintu masuk untuk membaca situasi sosial-politik Indonesia.

Sutoyo mengatakan, puisi tersebut dapat dibaca sebagai kritik sosial-politik terhadap kondisi negara ketika struktur kekuasaan tidak lagi menjalankan fungsinya untuk melindungi dan melayani masyarakat.

“Kalau kekuasaan sudah tidak peduli rakyat, untuk apa rakyat peduli penguasa,” kata Sutoyo.

Menurut dia, rezim merupakan sistem atau tata cara kekuasaan dijalankan, sedangkan penguasa adalah orang atau kelompok yang sedang memegang kekuasaan. Karena itu, ia menilai persoalan tidak semata-mata menyangkut individu yang berkuasa, tetapi juga sistem yang memungkinkan kekuasaan dijalankan tanpa keberpihakan kepada rakyat.

Sutoyo kemudian mengutip bagian dari puisi “Cintaku” yang berbunyi:

“Katakan kepadanya bahwa cintaku tak diikat dunia.”
“Katakan bahwa dunia pecah, ambruk dan terbakar.”

Ia menilai penggalan tersebut relevan untuk menggambarkan situasi ketika struktur kekuasaan atau negara dianggap telah kehilangan fungsi dasarnya.

BACA JUGA :  Sutoyo Abadi: Hukuman Mati Koruptor Sudah Diatur Sejak 1999, yang Kurang Keberanian Politik

“Ketika struktur kekuasaan atau ‘negara’ ambruk, rakyat akan tetap berpegang pada nilai-nilai kemanusiaan, spiritualitas, dan kepedulian terhadap rakyat kecil—bukan pada institusi negara yang rapuh dan hanya menjadi beban rakyatnya,” ujar Sutoyo.

Sutoyo: Negara Bisa Ambruk, Nurani Rakyat Jangan

Sutoyo juga mengaitkan pandangan tersebut dengan pemikiran Cak Nun mengenai negara dan kekuasaan. Ia mengutip pernyataan yang menurutnya menggambarkan kritik terhadap praktik kekuasaan.

“Sebenarnya negara ini kan sudah tidak ada… Jadi, negara yang ada sekarang hanyalah sebuah alat buat nyengklak pejabat agar bisa tawar-menawar mencari untung sendiri… Menyelamatkan diri dan keluarga,” kata Sutoyo, mengutip pernyataan Cak Nun.

Menurut Sutoyo, kritik tersebut menunjukkan bahwa keberadaan negara tidak cukup hanya diukur dari eksistensi institusi pemerintahan. Negara, kata dia, semestinya hadir melalui tanggung jawab terhadap masyarakat dan perlindungan terhadap kelompok yang lemah.

Ia berpandangan, ketika sistem negara gagal menjalankan fungsinya, rakyat tidak seharusnya ikut kehilangan nilai kemanusiaan.

“Ketika sistem negara sudah gagal menjalankan fungsinya, rakyat tidak boleh ikut ‘ambruk’,” ujarnya.

Sutoyo juga menyinggung persoalan utang negara. Menurut dia, sekalipun negara harus menanggung beban utang yang besar, persoalan tersebut tidak semestinya dibebankan kepada rakyat secara tidak adil.

BACA JUGA :  Sutoyo Abadi: Jangan Remehkan Rakyat yang Diam Memendam Kemarahan

“Sekalipun negara harus menanggung hutang yang sangat besar, hutang tersebut sesungguhnya hutang para bandit, maling dan penghianat negara,” kata Sutoyo.

Pernyataan tersebut merupakan pandangan dan tudingan Sutoyo terhadap pihak yang menurutnya bertanggung jawab atas persoalan pengelolaan negara.

Kembali kepada Nurani Rakyat

Lebih lanjut, Sutoyo mengatakan kondisi negara yang dianggap gagal tidak boleh membuat masyarakat kehilangan kepedulian terhadap sesama.

Ia kembali mengutip puisi Cak Nun:
“…jika engkau mengharapkan keselamatan di esok hari ketuklah sendiri pintu Tuhan yang sejak lama – mengasingkan diri dirumah nurani rakyatmu.”

Bagi Sutoyo, penggalan tersebut menegaskan bahwa keselamatan tidak semata-mata bergantung pada institusi negara, tetapi juga pada kesadaran moral dan nurani masyarakat.

“Rakyat dalam ujian keimanan dan kemanusiaan, harus tetap peduli pada tetangga, pada yang lemah, pada kebenaran—meski negara tak lagi hadir,” tuturnya.

Ia mengatakan budaya masyarakat Indonesia selama ini memiliki modal sosial berupa semangat saling menjaga, mengingatkan, dan tolong-menolong.

Karena itu, menurut Sutoyo, ketika institusi negara dinilai gagal menjalankan fungsinya, masyarakat tetap perlu mempertahankan solidaritas sosial serta berpijak pada keadilan dan kebenaran.

BACA JUGA :  Muslim Arbi: Inisiator Buku Islam ala Prabowo Diduga Bagian Operasi Pembusukan Terhadap Presiden

“Kalau negara ambruk, rakyat sebenarnya tidak peduli, silakan ambruk, karena rezim dan penguasa sudah tidak peduli dengan rakyatnya,” kata Sutoyo.

Ia kemudian menegaskan kembali kritik utamanya terhadap relasi antara kekuasaan dan masyarakat.

“Jadi kalau rezim dan penguasa sudah tidak peduli dengan rakyat, untuk apa rakyat peduli dengan mereka,” pungkas Sutoyo.


DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

BACA JUGA :  Sutoyo Abadi: Umat Islam di Indonesia Kuat Menyerukan Amar Ma’ruf, Lemah dalam Nahi Munkar
spot_img
Must Read
spot_img
Populer
spot_img