spot_img
spot_img
Kamis, Agustus 27, 2026
BerandaPolitikSutoyo Abadi: Presiden Berlindung dengan Imajinasi Konsolidasi Internal

Sutoyo Abadi: Presiden Berlindung dengan Imajinasi Konsolidasi Internal

spot_img

Sutoyo Abadi: Presiden Berlindung dengan Imajinasi Konsolidasi Internal

INDOVIEWNEWS— Koordinator Kajian Politik Sutoyo Abadi menilai konsolidasi internal Kabinet Merah Putih yang dibangun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto justru menghadapi persoalan struktural dan politis. Menurutnya, kabinet yang gemuk berpotensi menjadi beban apabila tidak diikuti dengan koordinasi, efisiensi, dan kinerja yang efektif.

Pandangan tersebut disampaikan Sutoyo dalam rilisnya, Kamis (27/8/2026), merujuk pada diskusi Kajian Politik Merah Putih yang digelar pada Senin malam, 25 Agustus 2026, dengan tema Konsolidasi Internal Kabinet Prabowo Subianto.

Sutoyo menyoroti besarnya jumlah anggota kabinet pemerintahan Prabowo. Ia menyebut terdapat 48 menteri, 55 wakil menteri, serta 10 pejabat setingkat menteri.

Sebagai perbandingan, Sutoyo menyebut sejumlah negara memiliki struktur kabinet yang lebih ramping. Amerika Serikat disebut memiliki 15 menteri utama, atau 25 jika termasuk pejabat kabinet non-kepala departemen. Inggris memiliki 28 anggota kabinet, sedangkan Prancis 34 menteri.

Di kawasan ASEAN, Sutoyo menyebut Thailand memiliki 35 menteri, Malaysia 31, Kamboja 28, Timor Leste 28, Filipina 26, Laos 24, Brunei Darussalam 20, Vietnam 18, Myanmar 17, dan Singapura 15 menteri.

Menurut Sutoyo, besarnya kabinet tersebut semula dapat dipandang sebagai strategi konsolidasi kekuasaan dan penyamaan visi pemerintahan.

“Presiden Prabowo mengira konsolidasi internal dengan kabinet gemuk sebagai strategi akan memperkuat stabilitas kekuasaan, menyamakan visi dan misinya, dengan memelihara loyalis akan menekan konflik, meredam guncangan dan ingin memastikan kebijakan berjalan mulus,” ujar Sutoyo.

Namun, ia menilai perkembangan pemerintahan menjelang dua tahun masa kepemimpinan Prabowo menunjukkan adanya sejumlah hambatan struktural dan politis.

Sutoyo juga mengutip pandangan pengamat politik Prof. Ryaas Rasyid yang sebelumnya menyatakan bahwa Kabinet Prabowo telah gagal.

“Berdasarkan berbagai laporan dan analisis evaluasi mendekati dua tahun Presiden Prabowo justru menghadapi beberapa hambatan struktural dan politis, koalisi terlihat solid di permukaan, sesungguhnya sudah retak dari dalam,” katanya.

Ia menyebut persoalan yang muncul antara lain berkaitan dengan kinerja, efisiensi, koordinasi, pengendalian birokrasi, benturan kepentingan, polarisasi, serta ketidakstabilan.

“Konsolidasi internal kabinet gemuk membawa petaka karena arusnya terlalu besar, birokrasi carut-marut, anggota kabinet jalan sendiri-sendiri,” kata Sutoyo.

Lebih jauh, Sutoyo menilai Kabinet Merah Putih berpotensi berubah menjadi beban bagi pemerintahan apabila persoalan koordinasi dan efektivitas tidak segera dibenahi.

“Kabinet Merah Putih semakin menjadi beban dan berpotensi membawa petaka. Presiden terpaksa hanya bertahan dan berlindung dengan imajinasi konsolidasi internal bahwa negara tetap terkendali,” ujar Sutoyo.

Pernyataan tersebut merupakan pandangan dan analisis Sutoyo Abadi dalam Kajian Politik Merah Putih. Pemerintah dan pihak terkait belum memberikan tanggapan dalam rilis tersebut.

spot_img
Must Read
spot_img
Populer
spot_img