Rekening Botok Diblokir, Dokter Zulkifli Curiga Ada Skenario: Ini Memang Dibuat Besar
INDOVIEWNEWS.COM– Aktivis politik Dokter Zulkifli menyoroti langkah pemblokiran rekening yang dikaitkan dengan aktivis masyarakat Pati bernama Botok. Menurutnya, tindakan tersebut justru berpotensi membuat persoalan semakin besar dan menimbulkan pertanyaan mengenai tujuan di balik penanganan kasus tersebut.
Zulkifli menilai aparat kepolisian seharusnya dapat melihat secara lebih utuh rangkaian peristiwa yang terjadi, termasuk keterkaitan antara sejumlah pihak yang muncul dalam dinamika aksi demonstrasi.
“Dengan diblokirnya rekening Botok itu malah membesarkan masalah. Memang dibuat besar, targetnya memang dibuat besar,” kata Zulkifli di channel YouTube Obor Rakyat Reborn, Kamis (27/8/2026).
Ia mempertanyakan siapa yang sebenarnya berkepentingan membuat persoalan tersebut menjadi semakin besar. Menurutnya, publik patut mendapatkan penjelasan yang transparan agar tidak muncul berbagai spekulasi di tengah masyarakat.
“Polisi kan mesti ngerti. Kita jadi tanda tanya lagi, tujuannya apa dibesarkan? Siapa yang membesarkan?” ujarnya.
Zulkifli juga meminta agar rangkaian peristiwa tersebut tidak dilihat secara terpisah. Ia menyinggung adanya demonstran maupun kelompok relawan yang terlibat dalam dinamika politik belakangan ini.
“Tidak bisa kita lepaskan peristiwa Budi Arie dengan peristiwa ini,” katanya.
Lebih jauh, Zulkifli mempertanyakan munculnya kelompok atau pihak yang mengambil posisi berseberangan dengan demonstran. Ia menduga dinamika tersebut perlu ditelusuri secara serius untuk mengetahui apakah terdapat desain politik di baliknya.
Menurut dia, apabila memang terdapat dugaan adanya rencana makar, aparat penegak hukum harus bekerja berdasarkan bukti dan proses hukum yang jelas. Ia menilai persoalan sebesar itu tidak cukup diselesaikan hanya melalui permintaan maaf atau pertemuan informal.
“Ini harusnya di mana? Ya dipanggil. Minimal ini makar, ini ada rencana makar,” ujarnya.
Zulkifli juga mengkritik sikap sejumlah wakil rakyat yang dinilainya belum mencerminkan keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat.
“Minta maaf nggak cukup. Perwakilan saya sebagai rakyat tersinggung dong. Wakil saya ternyata cuma begitu, sowan-sowan begitu,” katanya.
Ia mempertanyakan posisi rakyat dalam sistem demokrasi ketika wakil rakyat justru dinilai lebih mengutamakan komunikasi elite.
“Rakyat dengan wakil rakyat, tinggi mana rakyat? Rakyat yang harus mengambil marwahnya. Ini wakil-wakil gombal semua,” ujar Zulkifli.
Dalam pernyataannya, Zulkifli juga menyinggung pertemuan Budi Arie Setiadi dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Ia menyebut Budi Arie sebagai salah satu figur yang sangat dekat dengan Jokowi.
Zulkifli menilai pertemuan tersebut patut dicermati, terutama karena berlangsung di tengah situasi politik yang sedang sensitif.
“Budi Arie ini kan wah, di-hard-nya Jokowi,” katanya.
Ia bahkan menduga pertemuan tersebut bukan sekadar pertemuan spontan yang kemudian diliput oleh wartawan.
“Pertama pertemuan itu saya pikir pasti didesain. Tidak apa doorstop ya istilahnya kalau wartawan, spontanitas. Tapi ini didesain,” ujarnya.
Zulkifli menyoroti adanya pengaturan tempat dan posisi dalam pertemuan tersebut yang menurutnya memperkuat dugaan bahwa pertemuan itu telah dipersiapkan sebelumnya.
“Ada tempat duduk ini Jokowi,” katanya.
Meski demikian, pernyataan Zulkifli tersebut merupakan pandangan dan dugaan politik yang masih memerlukan pembuktian serta klarifikasi dari pihak-pihak yang disebut.
Ia menegaskan bahwa dalam situasi politik yang tengah memanas, publik membutuhkan informasi yang terbuka dan penegakan hukum yang dapat dipertanggungjawabkan. Jangan sampai suatu persoalan justru semakin membesar karena informasi yang tidak lengkap dan narasi yang berkembang tanpa penjelasan resmi.
Menurut Zulkifli, transparansi menjadi penting agar masyarakat dapat membedakan antara fakta hukum, dugaan politik, dan opini yang berkembang di ruang publik.






