spot_img
spot_img
Minggu, September 20, 2026
BerandaAnggaranPemerintahanSutoyo Abadi: Klaim Swasembada Pangan Menyesatkan, Indonesia Masih Impor Beras

Sutoyo Abadi: Klaim Swasembada Pangan Menyesatkan, Indonesia Masih Impor Beras

spot_img

Sutoyo Abadi: Klaim Swasembada Pangan Menyesatkan, Indonesia Masih Impor Beras

INDOVIEWNEWS.COM— Koordinator Kajian Politik Merah Putih, Sutoyo Abadi, mengkritisi klaim pemerintah mengenai swasembada pangan. Menurutnya, swasembada beras tidak serta-merta dapat disebut sebagai swasembada pangan karena cakupan ketahanan pangan jauh lebih luas.

Dalam pernyataannya, Ahad (20/9/2026), Sutoyo menyoroti data produksi beras dan masih adanya impor beras sebagai bagian dari persoalan yang perlu diperhatikan.

“Pemerintah mengklaim swasembada beras. BPS memperkirakan produksi beras 2025 sekitar 34,7–34,8 juta ton, di atas kebutuhan nasional sekitar 31 juta ton. Namun, pada Januari–Oktober 2025 Indonesia masih mencatat impor beras 364,3 ribu ton,” kata Sutoyo.

Ia juga menyinggung laporan pada Februari 2026 mengenai kesepakatan Indonesia untuk mengimpor 1.000 ton beras dari Amerika Serikat dalam kerangka perdagangan resiprokal.

BACA JUGA :  Jumhur Hidayat Raih Youth Empowerment & Environmental Leadership Award dari KNPI

Bagi Sutoyo, persoalan tersebut menunjukkan bahwa istilah swasembada perlu dilihat secara lebih komprehensif. Ia menegaskan, swasembada beras berbeda dengan swasembada pangan.

“Swasembada beras bukan swasembada pangan,” tegasnya.

Menurut Sutoyo, swasembada pangan seharusnya mencakup berbagai komoditas dan aspek lain, antara lain jagung dan kedelai, gula dan garam, daging sapi, susu serta produk peternakan.

Selain itu, kata dia, bawang putih dan sejumlah komoditas hortikultura juga perlu diperhitungkan. Tidak kalah penting adalah ketersediaan pangan bergizi, keterjangkauan harga, serta stabilitas pasokan antar daerah.

“Angka di atas menyimpulkan bahwa Indonesia masih jauh sebagai negara swasembada pangan,” ujar Sutoyo.

Ia kemudian membandingkan klaim tersebut dengan pernyataan mengenai keuntungan sebuah unit pengolahan atau penggilingan gabah yang disebut dapat mencapai Rp2 triliun.

BACA JUGA :  Miris 2 Tahun Bangunan SDN 9 Kebayoran Lama Roboh Terbengkalai, Ratusan Siswa Ngungsi

“Sama sesatnya dengan klaim satu pengolahan/penggilingan gabah untung Rp2 triliun,” kata Sutoyo.

Pernyataan Sutoyo tersebut merupakan kritik dan penilaiannya terhadap klaim swasembada pangan serta sejumlah angka dan informasi yang ia soroti. Media ini membuka ruang bagi pihak-pihak yang disebut maupun terkait dengan pernyataan tersebut untuk memberikan klarifikasi atau tanggapan.


DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

BACA JUGA :  Sutoyo Abadi: “Kodok dan Kampret Masih Bersenyawa”, Soroti Manuver Jokowi Menuju 2029
spot_img
Must Read
spot_img
Populer
spot_img