INTEGRITAS : Menjaga Dunia dan Akhirat
Oleh: Sobirin Malian
(Dosen FH UAD, Penggiat Literasi)
Jabatan publik bukanlah keistimewaan untuk dinikmati, melainkan amanah berat yang diletakkan di atas pundak seorang pemimpin. Di tengah dinamisnya konstelasi politik dan godaan kekuasaan, integritas muncul sebagai kompas moral yang mutlak dimiliki setiap pejabat. Integritas bukan sekadar kepatuhan terhadap hukum tertulis, melainkan keselarasan utuh antara nilai batin, ucapan, dan tindakan — apa yang terlihat di luar sama persis dengan apa yang ada di dalam hati. Ketika integritas tegak, terbentuklah benteng yang kokoh menolak segala bentuk pragmatisme yang mengorbankan kepentingan umum demi keuntungan segelintir pihak.
Namun realitas hari ini mempertontonkan ironi yang memprihatinkan. Pakta integritas kerap berakhir sebagai tanda tangan di atas kertas. Sumpah jabatan di bawah kitab suci terlupakan begitu roda kekuasaan mulai berputar. Komitmen yang diucapkan di hadapan rakyat menguap saat dihadapkan pada tekanan politik, intervensi kepentingan, atau kemilau materi. Kompas moral patah, dan integritas pun luntur.
Pandangan Jeremy Pope: Integritas Bukan Sekadar Tidak Korupsi
Jeremy Pope, pendiri Transparansi Internasional — tokoh yang meletakkan kerangka kerja global pemberantasan korupsi — mengingatkan bahwa integritas di pemerintahan tidak boleh disederhanakan sekadar “tidak mencuri”. Menurutnya, integritas adalah fondasi tata kelola yang memastikan kekuasaan dijalankan sesuai prinsip-prinsip yang dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka.
Pope merumuskan integritas pemerintahan dalam tiga pilar yang saling mengunci:
Pertama, kejujuran: tidak mengambil keuntungan pribadi dari jabatan yang diemban.
Kedua, keteladanan: pemimpin harus menjadi cermin nilai yang sama persis yang ia tuntut dari rakyatnya.
Ketiga, akuntabilitas: setiap keputusan terbuka untuk ditinjau, dan setiap pelanggaran siap menerima konsekuensi.
Bagi Pope, korupsi hanyalah gejala dari runtuhnya integritas. Akar masalahnya lebih dalam: ketika pejabat mulai memandang jabatan sebagai milik pribadi, bukan titipan rakyat. Ketika aturan dipandang sebagai hambatan yang harus dilewati, bukan pagar yang harus dijaga. Pope menegaskan:
“Korupsi tumbuh subur bukan di mana orang-orang jahat, melainkan di mana integritas dianggap biaya yang terlalu mahal untuk dibayar.”
Kata-kata ini memantulkan kenyataan di negeri kita: banyak yang belum mencuri secara kasat mata, tetapi sudah tidak jujur — menyembunyikan informasi, menutupi kesalahan, mengutamakan kroni, atau membiarkan ketidakadilan terjadi di bawah pengawasannya. Padahal menurut Pope, integritas yang retak di bagian mana pun akan menjalar hingga runtuh seluruhnya.
Amanah sebagai Dimensi Spiritual yang Melengkapi
Pemikiran Jeremy Pope selaras sepenuhnya dengan ajaran Islam, bahkan menegaskan kedalaman maknanya. Jika Pope menekankan integritas sebagai fondasi tata kelola dunia, Islam memperkokohnya dengan dimensi pertanggungjawaban kepada Allah SWT — yang tidak bisa disembunyikan di balik laporan resmi, tidak bisa dibayar dengan uang, dan tidak bisa ditawar dengan alasan politik.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki sifat amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janji.” (HR. Ahmad)
Hadits ini menegaskan bahwa amanah bukan sekadar etika birokrasi — ia adalah cermin keimanan. Ketika seorang pejabat mengkhianati kepercayaan rakyat, ia tidak hanya melanggar hukum negara, melainkan meruntuhkan sendi-sendi ketaqwaannya sendiri. Setiap tanda tangan yang dibubuhkan, setiap kebijakan yang diputus, setiap anggaran yang dikelola — semuanya akan dimintai pertanggungjawaban secara rinci.
Puncak peringatan Rasulullah SAW terangkum dalam sabda yang menggetarkan hati:
“Siapa pun pemimpin yang diserahi urusan memimpin rakyat, lalu ia mati dalam keadaan menipu rakyatnya, maka Allah mengharamkan surga baginya.” (HR. Bukhari & Muslim)
Ancaman ini bukan sekadar cerita menakut-nakuti. Ini adalah peringatan nyata bahwa jabatan yang dijalankan tanpa kejujuran, tanpa keteladanan, tanpa akuntabilitas — persis seperti yang dijelaskan Jeremy Pope — akan menjadi beban yang menghalangi masuk ke surga.
Mengapa Sumpah dan Pakta Integritas Sering Gagal?
Jeremy Pope mengingatkan satu hal yang sering kita lupakan: integritas tidak dapat ditegakkan hanya dengan dokumen. Pakta integritas yang ditandatangani tanpa sistem yang mendukung dan tanpa kesadaran batin yang kokoh hanyalah selembar kertas yang mudah dibuang.
Lingkungan birokrasi yang saat ini melunturkan sumpah jabatan dibentuk oleh beberapa hal:
– Normalisasi kompromi: “semua orang melakukannya” dijadikan alasan untuk ikut melanggar
– Kekuasaan tanpa pengawasan: ketika tidak ada yang berani menegur, kebenaran perlahan menghilang
– Kesetiaan yang salah arah: lebih takut kepada atasan daripada kepada Tuhan, lebih menjaga jabatan daripada menjaga amanah
– Gaya kepemimpinan yang buruk: pemimpin yang tidak jujur akan secara otomatis menarik orang-orang yang juga tidak jujur untuk mengelilinginya
Pope menegaskan: perbaikan tidak bisa hanya mengubah orangnya, tetapi mengubah sistem dan budayanya.
Penutup: Integritas sebagai Ibadah dan Warisan
Maka, integritas sejati adalah perpaduan tak terpisahkan: kejujuran yang terlihat di mata rakyat, akuntabilitas yang terbuka di hadapan hukum, dan ketakutan yang paling dalam di hadapan Allah. Seperti dikatakan Jeremy Pope, tidak ada jalan pintas. Tidak ada alasan yang bisa membenarkan pengorbanan prinsip demi keuntungan sesaat. Dan seperti diingatkan Rasulullah ﷺ, tidak ada kekuasaan di dunia ini yang bernilai dibandingkan ridha Allah.
Jabatan akan berakhir. Gedung akan tua. Nama bisa dilupakan. Tapi amanah yang dijaga — itulah yang akan menyertai kita melintasi jembatan yang tiada seorang pun bisa melewatinya dengan membawa harta maupun pangkat.
Semoga kita termasuk mereka yang memahami: integritas bukan sekadar cara memerintah. Itulah cara menyelamatkan diri sendiri.
DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.







